Malam-malam Tertutup Kabut

Ada perasaan yang berbeda tiap kali saya berada di malam pertengahan bulan hijriah. Saya ibarat merajai malam. Hmmm, setidaknya itu yang saya rasakan. Atau mungkin karena saya lahir di malam-malam dipertengahan bulan Islam itu? Ah, tak payah lah berkontemplasi lebih jauh, karena juga akan membingungkan orang lain. Tapi setidaknya saya ingin berbagi kisah.

Tapi beberapa malam ini, saya, yang merasa “raja”, harus berbesar hati ketika malam-malam saya tertutup kabut. Lebih tepatnya asap. Jengah dan marah. Itu yang ingin saya sampaikan. Ini bukan perkara karena saya ingin “menguasai” malam, melainkan karena jengkel terhadap kondisi yang tak pernah habis dari bumi, ini lah yang disebut musim pembakaran. Malam-malam pun menjadi kelam dan tak menarik. Atau mungkin memang karena bulan memang tak lagi semenarik dulu? Ah, entahlah. Tapi menurut saya bulan tengah malam itu, masih saja ditemani bintang-bintang jika tak tertutup asap seperti beberapa malam belakangan ini. Walaupun itu tak sebanyak dulu-dulu. Ini patut pula lah dipikir-pikir, karena zaman sudah berubah, si bulan di tengah bulan pun sudah tak muda lagi. Hmmm, manusia hanya menduga-duga. Continue reading “Malam-malam Tertutup Kabut”