Catatan perjalanan haji: Tips Memilih Travel Agency (Bagian 2)

Alhamdulillah masih diberi kesempatan menulis catatan perjalanan haji lanjutan. Insya Allah pada kesempatan kali ini saya akan mencoba membahas tentang tips memilih travel agency. Saya menyampaikan sesuai dengan pengalaman saya, yang saya rasa cukup penting agar perjalanan haji dari Jepang menjadi lebih nyaman dan menyenangkan 😊.

Setidaknya ada tiga travel agency untuk tahun ini yang sudah meluncurkan paket haji tahun 2018, Air1 Travel, Mian Travel, dan HIS Travel. Sebagai informasi, HIS Travel baru memulai mengurus jamaah haji pada tahun lalu. Sementara Air1 Travel dan Mian Travel sudah lama mengurus jamaah haji dan umrah dari Jepang, serta beberapa negara lain seperti Hongkong dan Korea Selatan. Berikut ini saya lampirkan brosur dari ketiga travel tersebut untuk keberangkatan tahun 2018.

Saya tidak dalam meng-endorse salah satu travel agency dalam tulisan ini, karena apa yang saya sampaikan setidaknya adalah poin-poin yang terbaik menurut pandangan saya berdasarkan banyak aspek, termasuk aspek kemudahan dalam beribadah. Pada tahun lalu saya kebetulan menggunakan jasa travel agency dari Mian Travel dengan berbagai pertimbangan yang akan saya jabar satu per satu. Pada saat itu saya rasa Mian yang paling baik. Untuk saat ini silakan dibandingkan dengan berbagai pertimbangan saya berikut:

Pilih hotel atau penginapan yang paling dekat dengan Masjidil Haram

Ini adalah hal terpenting dari hal penting lainnya. Carilah travel agency yang menyediakan akomodasi total keseluruhan hari menginap di Makkah, yang lokasinya tidak jauh dari Masjidil Haram dan bisa ditempuh beberapa menit dengan jalan kaki, bukan dengan bus. Kenapa saya bilang penting? Karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa ibadah sholat di Masjidil Haram itu seratus ribu kali lebih banyak pahalanya dibanding sholat di masjid lain, ditambah pula diimami langsung oleh imam-imam yang memiliki suara yang menyejukkan hati (yang ini tambahan saja).

Nah, jika penginapannya jauh dari Masjidil Haram akan membuat energi cukup terkuras untuk bisa sholat di dalam Masjidil Haram. Untuk kasus saya saja yang 10-15 menit jalan kaki dari Masjidil Haram, kadang kala saya harus sholat di luar Masjidil Haram, lantaran hanya telat beberapa menit berangkat dari hotel. Pernah sholat Jumat, yang waktunya sekitar jam 12 an waktu Saudi, berangkat jam 10 dari hotel saja harus sholat di pelataran masjid. Bayangkan saja jika lokasi menginapnya cukup jauh dari Masjidil Haram, maka waktu berangkatnya pun harus lebih awal. Belum lagi nanti akses yang tidak mudah setelah masuk musim haji bagi yang menggunakan bus menuju Masjidil Haram, karena jalur untuk bus ditutup. Kemudian ada hal satu lagi yang dipertimbangkan jika akomodasi jauh dari Masjidil Haram, yaitu pengeluaran kita menjadi lebih boros. Sebab biasanya karena sudah berada di Masjidil Haram, kebanyakan malas pulang dan lebih memilih stay di Masjid hingga Isya. Jadi otomatis makan siang dan malam pun di restoran.

Selain itu ketika waktu puncak ibadah haji dimulai (wukuf di Arafah. bermalam Mudzalifah, dan mabit di Mina), kita tidak perlu bawa barang-barang bawaan banyak, karena semua tas-tas ditinggal di kamar hotel di Makkah. Saya akan membahas mengenai urutan ibadah haji sesuai tuntutan Rasul SAW yang saya pelajari dan dengarkan dari para ulama pada tulisan selanjutnya ata bisa juga klik tautan berikut (sedang dicari gambar urutannya). Ketika akan melaksanakan thawaf haji (thawaf Ifadah), bagi yang akomodasi di dekat Masjidil Haram, kita bisa istirahat sejenak di hotel. Mengingatkan lagi rasanya tidur di atas ranjang empuk 😊.

Pilih yang mendarat di Jeddah (langsung ke Makkah)

Nah, ini menurut saya juga penting untuk dipertimbangkan ketika memilih travel agency. Kenapa? Hal itu dikarenakan seperti yang telah kita niatkan sejak awal kedatangan kita untuk ibadah, jadi langsung menyelesaikan ibadah terlebih dahulu lebih prioritas bagi saya. Bukankah di Madinah juga bisa beribadah di Masjid Nabawi? Iya benar juga. Cuma maksud saya di atas adalah karena aktivitas haji itu berada di sekitaran Makkah, tambah juga keutamaan lebih besar, maka menyelesaikan segala aktivitas haji di Makkah lebih penting, sebab di Madinah nanti bisa jadi ada godaan mau belanja dulu atau kegiatan-kegiatan lain yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Pertimbangan lain adalah supaya nanti tidak kaget ketika tiba Makkah saat musim haji, karena telah terlebih dahulu merasakan kenyamanan di Madinah. Jika dari awal sudah di Makkah, kita sudah beradaptasi dengan suasana Makkah, juga sudah tahu tentang jadwal menuju Masjidil Haram kapan sebaiknya supaya bisa sholat di dalam. Juga kita bisa tahu pintu-pintu mana saja yang relatif lebih sepi atau pintu-pintu mana saja yang dekat dengan toilet. Hal ini penting loh, karena kadang kala ketika menunggu waktu sholat Isha dari dari waktu sholat Ashar, kita setidaknya butuh sekali untuk ke toilet.

Hanya saja memang pilihan menuju Madinah terlebih dahulu dipilih karena ada juga manfaatnya. Seperti bagi yang perempuan, yang ketika datang bulan, masih bisa menunggu hingga selesai selama di Madinah. Atau juga menghindari padatnya antrian di Bandara Jeddah. Untuk kasus saya, saya mendarat pukul 3 sore waktu Saudi, baru bisa keluar sekira pukul 11 malam dan kemudian harus disambung dengan menunggu bis untuk membawa ke Makkah. Tiba di Makkah sekitar 5 subuh ke esokan harinya. Melelahkan bukan? Cuma itu tadi karena niatnya ibadah, sudah seharusnya mempersiapkan diri secara mental dan jasmani dengan situasi di Saudi. Pada tulisan selanjutnya akan coba saya deskripsikan tentang catatan perjalanan saya dari berangkat, tiba di Saudi, hingga pulang.

Pilih maskapai yang transit di sekitaran Timur Tengah atau dekat dengan Saudi

Saya merasa hal ini juga penting, karena bagi yang perjalanan hajinya langsung menuju Makkah, ketika mendarat di Jeddah sudah harus dalam kondisi ber-Ihram (juga mengenakan Ihram. Its mean yang laki-laki ga boleh pake celana dalam) untuk ibadah Umrah. Jadi jika terlalu jauh lokasi transitnya, maka kita harus mengenakan Ihram dalam waktu yang cukup panjang di atas pesawat dan kita sama-sama tahu bagaimana dinginnya pesawat. Bisa masuk angin kalau tidak kuat dingin. Dan biasanya untuk pesawat-pesawat yang transitnya bukan di negara Timur Tengah, pilotnya kebanyakan bukan Muslim, jadi tidak akan ada informasi tentang kapan kita harus memulai niat (Ihram) Umrah. Sementara jika menggunakan pesawat yang berasal dari negara Arab, akan ada informasi kapan kita akan memasuki Miqat dan memulai untuk ber-Ihram Umrah.

Namun sebenarnya hal ini bisa diatasi dengan menggunakan Ihram di atas pesawat ketika beberapa menit lagi akan tiba. Cuma rasa-rasanya akan sangat memakan waktu dan membuat heboh sepesawat saya rasa 😊. Atau ya itu tadi siapkan selimut untuk menahan dingin saat kondisi ber-Ihram.

Selain itu counter check-in maskapai-maskapai non Arab di Jepang tidak mengenal tentang Haji, jadi pengalaman tahun sebelumnya yang menggunakan maskapai non Arab ini harus memakan waktu cukup lama untuk menjelaskan tentang haji ini, tentu ini diurus oleh travel agency.

Pilih yang “include”-nya paling banyak

Salah satu hal yang juga penting menurut saya. Jangan hanya tergiur dari harga/biaya Haji yang murah saja. Selain melihat poin-poin yang telah saya sebutkan di atas, perlu juga dilihat sudah termasuk apa saja biaya tersebut. Saat saya mendaftar ke Mian Travel, HIS Travel belum menginformasikan tentang adanya jasa yang juga mereka tawarkan untuk calon Hujaj di Jepang. Jadi pembanding saya saat itu hanya Air1 Travel. Sekilas Air1 Travel lebih murah, hanya saja setelah dihitung dengan tidak adanya layanan “termasuk” Ihram, hadyu (biaya kurban bagi yang melaksanakan haji Tamattu`) dan vaksin Meningitis, membuat harga Mian dan Air1 menjadi sama. Ditambah dengan fasilitas-fasilitas yang di dapat, saya merasa Mian lebih baik saat itu. Selain itu, cancellation fee Mian lebih kecil dibanding Air1. Karena ini penting bagi saya. Jika ada sesuatu hal buruk yang membuat saya tidak jadi berangkat, di Mian uang kembali lebih banyak 😊.

Pilih travel yang memiliki teamwork yang baik untuk mengelola massa

Menurut saya pribadi di antara hal-hal yang telah saya sebutkan di atas, travel yang memiliki tim yang bagus dalam pengelolaan massa juga sangat berperan dalam kenyamanan kita selama melaksanakan ibadah haji. Contoh pengelolaan massa di sini seperti bagaimana travel telah terlebih dahulu mengkavling tempat untuk jamaah sewaktu bermalam di Mudzalifah, atau bagaimana travel membantu menangani secara cepat beragam masalah yang muncul saat musim haji, karena mengingat jumlah jamaah haji yang ditangani cukup banyak. Tahun lalu HIS belum bisa dibandingkan, karena jumlah hujjahnya tidak sebanyak Mian ataupun Air1. Untuk hal ini bisa ditanyakan langsung kepada mereka yang sudah pulang haji dari ketiga travel tersebut untuk dimintai pendapatnya secara objektif.  Hanya masalah ini bisa diatasi jika para hujjaj kompak dan saling bantu membantu.

Mungkin untuk saat ini demikian yang bisa saya tuliskan. Jika ada pengalaman rekan-rekan yang mungkin bisa ditambahkan dengan sangat senang hati bisa saya ikutkan dalam catatan ini. Ini hanyalah sebatas pendapat pribadi saya yang masih banyak awamnya. Intinya adalah kita naik haji dari Jepang punya kelebihan bisa memilih, jadi kenapa ga dipilih sesuatu yang kita rasa lebih baik?

Bersambung…

Diselesaikan di Masjid Indonesia Tokyo

14 Jumadil Awal 1439 H/ 4 February 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *