Catatan perjalanan haji: Saatnya Berangkat ke Saudi (Bagian 4)

Pada tulisan sebelumnya saya telah mengurai tentang niat berhaji dari Jepang, tips  memilih travel agency, yang sangat penting dalam menjalankan ibadah haji nanti di tanah suci, serta persiapan apa saja yang harus kita lakukan. Nah, kali ini izinkan saya menulis catatan keberangkatan saya hingga tiba di Saudi.

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, walau saya mendaftar dan mengurus visa haji dari Jepang, saya berangkat tidak dari Jepang (baca di sini). Saya memilih berangkat ke Saudi dari Kuala Lumpur, Malaysia. Hal ini dikarenakan kampung halaman saya (Pekanbaru) lebih dekat ke Kuala Lumpur dibanding Jakarta.

Perjalanan saya menuju Saudi dijadwalkan 23 Agustus dini hari, yakni pukul 02.10 Waktu Kuala Lumpur (01.10 WIB) dengan menggunakan Etihad Airways. Saya sengaja memilih penerbangan AirAsia, yang satu-satunya, menuju Kuala Lumpur pukul 17.35 WIB pada 22 Agustus dengan AK438. Setidaknya ada jarak waktu yang cukup jauh untuk bersantai-santai terlebih dahulu menikmati makanan halal di KLIA2 ataupun KLIA, karena perjalanan ke Kuala Lumpur hanya membutuhkan waktu kurang lebih 50 menit. Dari Kuala Lumpur menuju Abu Dhabi dan direncanakan akan mendarat di Jeddah sekitar pukul 15.20 Waktu Jeddah setelah transit di Abu Dhabi sekitar 8 jam. Dalam hati agak tenang, karena rombongan Mian Travel yang berangkat dari Jepang akan tiba pukul 13 an Waktu Jeddah, sehingga nanti bisa kontak-kontakan setibanya di luar bandara Jeddah. Namun semua yang telah direncanakan tersebut penuh dengan kejutan dan perasaan dag dig dug. Maklum, pengalaman pertama dan jauh sebelumnya saya tidak pernah mendapat informasi seperti ini. Semoga catatan perjalanan saya ini bermanfaat bagi siapa saja yang akan melaksanakan ibadah haji, terutama rombongan dari Jepang. Aamiin.

Setelah mengantar istri dan anak ke Bandara Sultan Syarif Kasim II (SSKII) Airport (istri dan anak menuju Bandung, rumah mertua) pada pagi 22 Agustus, saya kembali menyelesaikan urusan penting yang perlu diurus selama 2 tahun saya tidak berada di Pekanbaru, seperti pajak motor, pajak usaha, urusan di bank, dan sebagainya. Serta sempat-sempatnya makan siang dengan para sesepuh yang sudah lama tak bertemu (lirik Bang Ozy dan Bang Arul). Terimakasih banyak-banyak juga untuk Bang Arul yang sudah bersedia menyopiri 😉.

20953289_1558368330891900_1413345809450626941_n
Saya beserta keluarga sebelum berangkat ke bandara SSKII

Setelahnya jam 15.00 WIB saya sudah bersiap menuju Bandara SSK II untuk segera berangkat menuju Kuala Lumpur. Dari pukul 16.00 WIB saya sudah stand by di ruang tunggu keberangkatan internasional Bandara SSK II. Pukul 17.00 WIB diinformasikan bahwa pesawat delay dan sesegara mungkin akan disampaikan kapan jadwal berangkatnya yang baru. Saya tenang saja. Toh masih lama kok pesawat dari Kuala Lumpur ke Jeddahnya. Insya Allah ga ada masalah juga delay, pikir saya saat itu. Namun semua itu menjadikan saya semakin gelisah, karena hingga pukul 20.00 WIB belum ada kejelasan kapan pesawat dari Kuala Lumpur mendarat. Penumpang yang lain sudah banyak yang protes dan meneriaki petugas AirAsia. Saya yang awalnya berusaha tenang dan tak ikutan menggalau (maklum mau haji) akhirnya terpancing juga. Saya menanyakan tentang kejelasan pesawar AK438 dan mereka menjawab bahwa pesawatnya belum berangkat dari Kuala Lumpur. Lalu dengan rasa khawatir saya tanyakan tentang apakah ada kemungkinan pesawat dari Kuala Lumpur cancel berangkat. Tahu jawabannya apa? “Ada pak” kata petugasnya. Saya langsung lemas.

Dengan berjalan lunglai saya menuju kursi yang sudah diduduki sejak 4 jam yang lalu. Akhirnya saya putuskan untuk Sholat Isha, sambil bermohon kepada Allah untuk menguatkan saya terhadap apapun kejadian yang akan saya alami, serta membuat saya cocok dengan apapun kondisi yang akan saya hadapi nanti (doa yang pernah dipesankan oleh seorang guru kepada saya. Terimakasih Bu Nini). Setelah sholat saya pun kembali duduk dan menambah deretan jam saya duduk di kursi yang sama sambil berusaha menenangkan diri dan tetap percaya bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali karena telah Allah SWT. tetapkan.

Sekira pukul 21.00 terdengar suara dari speaker yang ditempelkan di ruang tunggu keberangkatan internasional. Artinya akan ada pengumuman. Setidaknya saya sudah menyiapkan diri jika ternyata penerbangan saat itu cancel. Hingga suara itu muncul dan didengarkan baik-baik, “..pesawat dari Kuala Lumpur telah berangkat menuju Pekanbaru”. Semua orang dengan berbagai kepentingan saat itu mengucapkan rasa syukur tak terhingga, tentu juga saya termasuk di dalamnya. Artinya pesawat AK438 positif akan berangkat ke Kuala Lumpur dari Pekanbaru. Saya berusaha tenang dan menghitung-hitung waktu, apakah saya masih bisa mengejar jadwal pesawat Etihad. Jika dihitung waktu perjalanan, maka pukul 22.00 WIB pesawat akan sampai di SSKII, kemudian berangkat lagi ke Kuala Lumpur, dan akan tiba di KLIA2 sekitar pukul 23.00 WIB atau 00.00 Waktu Kuala Lumpur, sehingga saya hanya punya waktu kurang lebih 1 jam untuk menuju konter check in Etihad yang berada di KLIA. Sudah jelas saya akan kelimpungan mencari transportasi. Saya berusaha mencoba mengontak salah seorang saudara yang ada di Kuala lumpur. Alhamdulillah dia bersedia menjemput saya di KLIA2 dan mengantar ke KLIA. Semoga Allah limpahkan karunia kepada saudara saya ini beserta keluarganya. Aamiin.

Setelah masalah urusan penjemputan selesai, perut saya pun tiba-tiba keroncongan. Rasa gelisah menunggu pesawat telah melumpuhkan perintah otak untuk makan. Namun sayang seribu sayang, di ruang tunggu tidak ada restoran. Akhirnya saya pun minta izin kepada petugas imigrasi untuk bisa keluar ruang tunggu untuk mencari makan malam. Alhamdulillah diizinkan. Terimakasih kepada Bapak/Ibu petugas imigrasi saat itu. Alhamdulillah lagi, masih ada restoran yang buka dan saya adalah pelanggan terakhirnya. Setelah makan, terdengar informasi bahwa pesawat AirAsia dari Kuala Lumpur sudah mendarat, kemudian saya pun kembali ke ruang tunggu untuk bersiap-siap masuk pesawat menuju Kuala Lumpur. Akhirnya terbang juga. Alhamdulillah.

Setibanya di KLIA2 saya lari tergopoh-gopoh. Sekitar pukul 00.15 Waktu Kuala Lumpur tanggal 23 Agustus saya sudah berada di pintu kedatangan KLIA2 dan saudara pun telah menyambut saya. Setelah berpelukan dengan santainya dia ngomong: “Jom ngopi dulu bang”. Respon saya: saya tarik tangannya dan nanya parkiran dimana. Saya ajak ngopinya nanti pas di KLIA saja, semoga ada waktu. Alhamdulillah dengan kecepatan yang saya rasa cukup cepat, jam 00.30 sudah tiba di KLIA dan langsung menuju konter check in. Namun sayang, ternyata antriannya sangat panjang, sehingga ngopi bareng pun tidak memungkinkan, akhirnya saya suruh saudara saya ini pulang, karena takut makin larut pulangnya. Semoga di lain kesempatan bisa ngopi bersama keluarga besar.

Cerita punya cerita saya pun telah menyelesaikan proses check in sekitar pukul 01.30 Waktu Kuala Lumpur. Sambil memegang tas kecil dan passport serta dua boarding pass kelas ekonomi, saya bergegas menuju ruang tunggu keberangkatan. Maklum di KLIA menuju ruang tunggu cukup memakan waktu, karena harus menggunakan monorail. Namun saat antri di depan pintu ruang tunggu untuk menuju pesawat, boarding pass saya yang discan berkali-kali mengeluarkan bunyi dari mesin scan. “Apalagi ya ini”, saya membatin sambil tersenyum. Saya pun diminta kepinggir untuk membiarkan penumpang lain yang boarding pass nya tak mengeluarkan bunyi bisa lewat. Saya diajak berbicara oleh seorang staff yang lebih muda. Saya dag dig dug menunggu penjelasannya tentang boarding pass yang berbunyi. Hingga akhirnya dia menjelaskan kalau kursi yang saya minta untuk bersebelahan jendela dengan sangat menyesal tidak bisa mereka penuhi, jadi mereka mohon maaf dan mengatakan sebagai gantinya saya dipindahkan ke kelas bisnis. “Oh cuma masalah ini doang,” kata saya dalam hati. Tapi eh, tadi bilang apa si petugasnya? “Bisnis? Kakak jangan bergurau lah” kata saya sambil tertawa ke petugas gate. Dia pun ikut tersenyum dan memastikan kalau dia tidak bercanda. Lalu dia memprint boarding pass baru dengan tulisan besar “Business Class” di atas boarding pass baru yang saya terima. Saya pun kembali masuk antrian di depan gate menuju pesawat dan bunyi itu pun tak lagi terdengar. Alhamdulillah. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan.

IMG_2391

IMG_2394

Naik pesawat dengan kelas bisnis tak pernah saya mimpikan, karena di samping mahal, pun juga saya tidak mau menghabiskan uang hanya untuk kenikmatan sesaat. Masih banyak deretan prioritas yang harus dipenuhi dengan uang yang terbatas jumlahnya. Berkali-kali saya ucapkan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan. Siapa yang menyangka? Saya anggap ini adalah rizki dari Allah yang datang tanpa disangka-sangka.

Setelah disambut dengan Welcome Drink saat baru duduk di kelas bisnis yang kemudian dilanjutkan makan pembuka, makanan utama, serta makanan penutup ketika pesawat baru saja mengudara, saya pun akhirnya terlelap. Saya baru saja terbangun ketika 1 jam lagi akan mendarat di Abu Dhabi. Sangat disayangkan, karena saya tidak bisa makan lagi V^^. Tetapi tidak menjadi masalah besar, karena toh bisa tidur nyenyak di atas kursi empuk 180o dengan selimut dan bantal dalam pesawat adalah nikmat yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

EZTH8200
Salah satu sudut bandara Abu Dhabi

Singkat cerita saya tiba di Abu Dhabi dan menunggu sekitar 8 jam di sana. Di sana saya bertemu dengan rombongan calon jamaah haji Indonesia yang berangkat dari Hongkong. Dengan rombongan ini akhirnya saya terus bersama-sama hingga tiba di Makkah. Di Abu Dhabi saya mulai melakukan amalan sunnah sebelum melaksanakan umrah. Saya mencukur habis rambut yang ada di sela-sela (you know what I mean), kemudian dilanjutkan mandi seperti mandi besar. Lalu mengoleskan parfum di badan dan kemudian mengenakan ihram. Pada saat ini, saya masih menggunakan celana dalam dan celana pendek. Celana dalam dan celana pendek ini baru saya lepas saat beberapa menit akan mendarat di Jeddah, ketika pilot menginformasikan bahwa miqat makani akan segera dilewati. Setelah melepaskan celana ini, dilanjutkan dengan meniatkan ibadah umrah serta memperbanyak talbiyah.

Setelah selesai mengenakan ihram, seluruh penumpang menuju Jeddah pun diminta untuk segera antri di gate yang telah ditentukan. Di sana, saat antri di gate menuju pesawat, pun kembali kejadian boarding pass berbunyi. Kali ini saya tidak dag dig dug seperti sebelumnya, tapi ada rasa senang dan sedikit sedih. Senang karena dapat kelas bisnis lagi. Alhamdulillah. Sedih karena saya tidak tahu sejak awal kalau juga dipindahkan ke kelas bisnis untuk penerbangan selanjutnya, karena boarding pass yang diperbarui saat di Kuala Lumpur sebelumnya hanya untuk penerbangan Kuala Lumpur-Abu Dhabi, sementara Abu Dhabi-Jeddah masih boarding pass yang lama, dimana tulisan “Economy Class” masih terpampang nyata di sana. “Belum rezeki menunggu pesawat di exclusive lounge,” batin saya sambil tersenyum dan mengucapkan Alhamdulillah berkali-kali.

Welcome to Jeddah….” ucap pramugari kepada penumpang kelas bisnis saat itu waktu di Jeddah pukul 15.15. Kami disilakan keluar duluan. Di luar sana telah menunggu bus khusus untuk kelas bisnis yang mengantar ke ruang tunggu. Saya pun keluar dari pesawat dan di sana saya merasakan panas yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Panas sekali. Lalu saya bergegas masuk ke bus khusus tersebut. Baru saja 2 menit duduk, saya diminta pindah oleh seorang petugas bandara. Saya diminta pindah ke bus kelas ekonomi, bersama rombongan haji lain yang akan menuju Makkah.

Saya pun patuh. Toh, saya memang awalnya berasal dari kelas ekonomi 😊. Di bus ini saya kembali bertemu dengan rombongan haji dari Hongkong. Di dalam bus ini kami seperti susun sarden. AC yang hidup tak punya efek sama sekali untuk memberikan rasa dingin. Dalam bus ini sangaaaat panas. Keringat tak berhenti mengalir, belum lagi bau yang bercampur dari orang-orang dengan berbagai ras dan negara. Perjalanan 20 menit menuju gedung utama bandara pun terasa berjam-jam dengan kondisi itu, Belum lagi beberapa kali bus harus berhenti karena ada pesawat yang lalu lalang. Fiuh, berantakan sekali bandaranya. Cuma saya langsung beristigfar. Tidak boleh banyak mengeluh, setidaknya itu pesan yang selalu saya dapat sebelum pergi haji.

Setelah tiba di gedung utama, kami tidak langsung keluar. Tidak ada penjelasan apa-apa. Kebetulan saya berdiri paling depan, sehingga bisa melihat dari kaca pembatas antara penumpang dan sopir. Terlihat sopir dan knek nya berbicara dan kadang tertawa terbahak-bahak. Ada sekitar 30 menit menunggu di dalam bus yang desak-desakan dan paaanaass tanpa ada pemberitahuan apapun. Yang pernah merasakan, selamat, jadi di Jeddah nanti tinggal mengulang masa lalu. Lagi-lagi banyak beristigfar untuk tidak protes. Pas keluar dari bus dan menuju sebuah ruangan, baru saya tahu bahwa ternyata ada proses bergilir untuk bisa masuk ke ruangan ini, karena begitu ramainya orang yang mendarat di Jeddah dan akan menuju Makkah. Dan benar-benar sabar itu sudah harus disiapkan, sejak kita sebelum berangkat sebaiknya 😊. Di ruangan tunggu ini saya yang ikut dengan rombongan Indonesia dari Hongkong menunggu sekitar 4 jam. Setelah sholat 4 waktu (Zuhur, ashar, Magrib, Isha) akhirnya bisa juga keluar dari ruangan ini. Disangka tadinya setiba di Bandara Jeddah saya bisa menghubungi rombongan dari Jepang (Mian Travel), tapi naas jangankan wifi, kursi saja tak cukup. Sudah saya lupakan niat itu. Biarlah nanti Allah yang menolong. Saya ikuti saja jalan yang ada saat ini.

Menunggu 4 jam bukanlah untuk kali terakhirnya. Kami ternyata harus menunggu lagi sekitar 3 jam saat di imigrasi. Saat ini, kesabaran itu diuji ketika melihat petugas imigrasi Jeddah. Bagi saya yang tidak banyak pergi kemana-kemana, mendapati setidaknya hanya 2-3 menit saat berada di depan petugas imigrasi. Tahu berapa waktu yang dibutuhkan saat berhadapan dengan petugas imigrasi Jeddah? Unpredictable, bisa sekitar 15-30 menit atau bahkan lebih. Kok bisa? Ya bisa, mereka melayani kita sambil bercanda, terus belum lagi ngobrol dengan petugas imigrasi di sebelahnya, belum lagi kameranya yang rusak, belum lagi tinta cap nya habis, dan sebagainya. Bayangkan jika waktu ini bisa lebih diefisienkan, maka masa menunggu akan berkurang cukup banyak. Tapi ya itu tadi karena ga boleh banyak protes, yang perilaku itu terus-terusan terjaga hingga kini. Semoga suatu saat hal ini tidak ada lagi. Aamiin.

IMG_2399
Suasana antrian di imigrasi bandara Jeddah

Kami baru keluar bandara Jeddah sekitar 23.30 waktu Jeddah. Kemudian masih dilanjutkan menunggu bus untuk mengantar ke Makkah, lebih tepatnya hotel rombongan haji Indonesia dari Hongkong. Alhamdulillah rombongan haji dari Hongkong berbaik hati menerima saya. Saya tidak bisa lagi mendeskripsikan bagaimana kondisi saya saat itu, begitu juga yang lain. Kami sudah sangat kucel, agak berbau dengan penuh peluh keringat, serta lapar. Alhamdulillah masih ada warung makan yang buka walau seadanya. Dan yang paling penting untuk koneksi internet, provider yang banyak berjualan di luar bandara Jeddah tidak punya paket pocket wi-fi, jadi mau tidak mau kita harus punya handphone yang bisa digonta ganti kartu. Naas-nya handphone saya bertipe terkunci atau lock, sehingga tidak bisa diganti kartu lokal manapun. Saya akhirnya meminta tetering dari salah satu rombongan haji dari Hongkong untuk sekedar memberi kabar ke keluarga di Indonesia bahwa saya sudah tiba dengan selamat di Jeddah, juga memberi tahu ke Brother Mian bahwa saya akan berangkat menuju Makkah, tapi tak ada balasan. Tapi tak ada masalah, mungkin koneksi tidak ada saya pikir waktu itu.

Secara singkat akhirnya kami mendapatkan bus menuju Makkah sekitar pukul 01.00 dini hari waktu Jeddah dan tiba di hotel rombongan Hongkong yang berada tak jauh dari Masjidil Haram selepas sholat Subuh. Langsung saya kontak Brother Mian untuk menjemput saya di hotel rombongan Hongkong ini. Akhirnya setelah menumpang sholat subuh di hotel rombongan haji dari Hongkong, saya dijemput oleh Brother Mian menuju hotel rombongan dari Jepang (Mian Travel). Setelahnya saya pun bersiap-siap melaksanakan umrah. Insya Allah pada catatan selanjutnya akan saya ceritakan tentang pelaksanaan rangkaian ibadah haji dan umrah.

 

Diselesaikan di Chofu, 28 Jumadil Awal 1439 H bertepatan dengan 14 February 2018    

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *