Mimpi 20 tahun yang lalu  

Masih teringat masa-masa kecil dulu, yang dengan suka-sukanya bermimpi dan ingin menjadi apa pun, tanpa perlu memikirkan entah jadi atau tidak. Namanya juga anak-anak kan (yang setuju anggukkan kepala 😊). Cerita punya cerita saya punya mimpi bisa bersekolah di Jerman, atau setidaknya pergi ke sana, melihat kecanggihan teknologinya. Kenapa Jerman? Ya, karena adanya sosok Bapak Habibie yang selalu diceritakan berulang oleh keluarga saya, entah almh Emak, entah alm. Bapak, entah almh nenek atau entah dari banyak saudara lainnya. Terlebih semasa usia balita pernah merasakan naik Simpati airline dan Merpati Airline (yang mungkin kini tak lagi dikenal), nama Bapak Habibie selalu disebut-sebut. Jerman selalu disanding setelahnya. Sejak saat itulah mimpi itu terus terngiang di kepala sambil menanamkan dalam diri, semoga Allah mampukan saya ke sana.

IMG_6888.JPG
Ayah, Harun, Bunda di depan Parlemen Jerman

Entah memang Allah selalu ingatkan dengan mimpi itu, di Aliyah saya mendapatkan pelajaran Bahasa Jerman, antusias sekali saya sehingga nilai Bahasa Jerman selalu nyaris sempurna. Belum lagi ditambah cerita dari kakak kelas jurusan Bahasa yang baru saja pulang dari sana. Waaahhh, Jerman semakin terbayang-bayang. Sambil berharap modal Bahasa Jerman ini kelak bisa berguna jika memang kesampaian ke sana.

Berkali-kali mencoba mendaftar untuk beasiswa ke Jerman, tapi selalu gagal di tengah jalan. Hingga pada suatu masa saya pernah menjadi salah satu peserta semifinalist kegiatan lingkungan yang dilakukan oleh Bayer Indonesia. Saya menyangka itulah waktunya saya diberangkatkan Allah menuju Jerman. Ternyata juga tidak, saya tak lolos ke babak final. Tapi saya selalu optimis, akan ada waktunya rezeki Allah kepada saya untuk bisa ke sana.

Jepang apa ndak masuk hitungan? Boleh dikata, dalam rentetan perjalanan saya, Jepang tak pernah masuk daftar keinginan bisa menempuh studi. Saya mengambil pilihan Jepang, karena selalu Allah bukakan pintu rezeki ke sana. Awalnya saya mengira Jepang hanya sebagai tempat persinggahan sementara saja. Ternyata Jepang telah banyak memberikan banyak cerita, sungguh banyak, yang tak kan pernah saya lupakan. Terakhir Jepang pula lah yang Allah jadikan sebagai perantara saya menuju Jerman. Iya Jerman, tempat sekolahnya Bapak Habibie itu.

Alhamdulillah Allah loloskan abstrak saya untuk bisa dipresentasikan di salah satu konferensi di Berlin #GreenChem2018. Allah pula yang menakdirkan saya untuk bisa mendapatkan funding menuju ke sana. Maka nikmat Allah manalagi yang kau dustakan. Dalam pada itu, saya sekalian mengajak anak istri untuk bersama-sama menempuh perjalanan konferensi ini. Karena sesungguhnya yang menjalani kehidupan S3 ini tak hanya saya seorang, tapi kami bertiga. Sedih senang bersama (yang masih S3 tau ini :)). Alhamdulillah dengan saya mendapatkan funding, biaya yang diperlukan untuk kami berangkat bertiga tidak terlalu besar.

Setelah melewati 1 minggu mengurus visa, membuat itinerary di tengah kesibukan kami, serta berbagai persiapan untuk presentasi, akhirnya impian saya 20 tahun silam menjadi kenyataan. Bahkan tak hanya menginjakkan kaki di Jerman, tetapi juga di Belgia, Belanda, dan Austria. Juga tak hanya seorang, bertiga, bersama istri dan anak. Maka nikmat Allah mana lagi yang kau dustakan. Terimakasih kepada seluruh saudara, keluarga, teman, serta guru-guru atas segala ilmunya yang telah diberikan. Siapa tahu suatu saat masih ada kesempatan melanjutkan studi di negeri buldoser ini :).

Insya Allah di tulisan selanjutnya akan saya share tentang bagaimana mengurus Visa Schengen, serta bagaimana menyusun itinerary dan bagaimana tips melakukan perjalanan bersama anak berusia kurang dari 2 tahun. Oh ya, mohon maaf disampaikan kepada guru Bahasa Jerman sewaktu Aliyah dulu, kata-kata yang diingat hanya Guten Morgen dan Danke, selebihnya lidah kaku berbahasa Jerman :(.

Kepada seluruh sahabat yang masih punya mimpi yang baik, jangan pernah padamkan mimpi itu. Sekecil apapun itu bagi orang lain, itu tetaplah menjadi mimpi yang pernah diimpikan. Semangad bermimpi dan mewujudkannya menjadi kenyataan, Salam dari saya yang suka bermimpi 😊.

 

Diselesaikan setelah melewati Jetlag 16 jam perjalanan MUC-AUH-NRT

4 Ramadhan 1439H

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *