“Rumah Murah” di Jepang

Waktu tinggal saya di Jepang tidak lama lagi. Rasa-rasanya sangat sedikit sekali pengalaman hidup selama di sini sebagai orang perantauan yang bisa dibagi. Bagaimana tidak hampir 5 tahun hidup di Jepang, sisa-sisa umur dihabiskan di lab (sok rajin mode on).

Nah, dikarenakan semenjak menjelang lulus dengan gelar Doctoral of Philoshopy in Engineering (mak e panjangnya ni gelar), yang lulusnya karena terlalu banyak bersilofi, saya mulai lagi menulis. Semoga bermanfaat. Dan pun lagi kini tulisan-tulisan saya mulai sekarang bisa dinikmati di domain yang lebih jelas (dan tidak alay).

Mungkin sebelum menjelaskan tentang “rumah murah” yang benar-benar murah (catat: untuk di Jepang ya), saya jelaskan dulu tentang sistem sewa rumah di Jepang. Kalau tentang memiliki rumah sendiri, akan ditulis di lain waktu, karena masih sangat minim informasi tentang ini.

Salah satu sketsa kamar danchi

Sebelum penjelasan lebih lanjut, rumah yang dimaksud di sini adalah kamar ya. Kos-kosan kalau di Indonesia. Di sini aja namanya jadi keren, apartment atau apato istilah Jepang nya. Jadi untuk bisa menyewa rumah ini di Jepang, pada umumnya kita menyewa melalui agen properti (dalam Bahasa Jepangnya fudosan). Fudosan akan menawarkan rumah sesuai dengan permintaan kita melalui gambar-gambar yang tersedia di kantor mereka. Lengkap dengan stasiun terdekat, luas kamar, dan fasilitas yang ada.

Nah, selain melalui fudosan ini, juga ada kamar yang disewa langsung ke pemilik rumah (oyasan). Cuma ini sangat sedikit sekali dan tidak umum di Jepang. Oh ya selain dari sistem penyewaan melalui fudosan ini, juga ada yang menyewa melalui asrama kampus bagi pelajar atau asrama kantor bagi pekerja. Nah, ini sesuai aturan kantor dan biasanya prosedur lebih gampang.

Untuk kasus saya, 2 kali pernah menyewa kamar melalui asrama kampus. Harganya miring dengan biaya sewa di luar kampus. Cuma yang melamar ramai, sehingga peluang keterima sedikit, dan juga ada batasan waktu tinggal. Nah setelah dari asrama ini, kami mulai memikirkan mencari kamar lain yang juga murah (tips hidup hemat di Jepang akan dibahas di artikel lainnya).

Jatuh lah akhirnya pilihan kami ke “rumah murah” ini, yang dalam bahasa Jepang orang mengenalnya dengan sebutan danchi. Danchi ini adalah rumah pemerintah yang diprioritaskan untuk kalangan tertentu, seperti keluarga dengan anggota difabel, pensiunan yang sudah tidak berpenghasilan, keluarga dengan penghasilan rendah, dan lain-lain. Selain itu ada persyaratan tambahan di kota-kota tertentu (seperti Tokyo), misalnya sudah tinggal selama setahun di kota tempat kita melamar danchi. Alhamdulillah syarat tersebut kami penuhi. Ditambah kami hidup di Jepang dengan dana beasiswa yang tidak dihitung sebagai penghasilan oleh pemerintah Jepang. Pokoknya dikategorikan  orang miskin deh :). Untuk keluarga yang memiliki pendapatan masih bisa melamar, dengan syarat memenuhi batas maksimal penghasilan yang dibagi dengan jumlah anggota keluarga. Jadi kalau makin banyak anak, maka makin besar peluang mendapatkan danchi :).

Lalu langkah selanjutnya adalah mengambil formulir danchi dan buku yang berisi rumah yang available di Tokyo untuk melakukan pendaftaran. Pendaftaran ini ada beberapa kali dalam setahun. Setelah mengambil buku dan formulir, kita kemudian memilih rumah yang rencananya akan kita lamar. Setelahnya diisi kode rumah itu di formulir yang telah disediakan, lalu dikirim ke JKK, perusahaan properti milik pemerintah Jepang. Kemudian pihak JKK akan memverifikasi apakah kita layak untuk melamar danchi ini.

Setelah kita dinyatakan layak melamar danchi ini, kita akan dikirimi kartu pos tentang jadwal pengundian. Nah, di sini lah tentang rizki itu bermula. Semakin ramai orang yang memilih rumah yang kita pilih, maka makin kecil pula peluang kita mendapatkan rumah tersebut. Tapi sekali lagi, rizki ga akan kemana dan ga akan pernah tertukar. Selanjutnya kalau kita lolos undian, maka bersiap-siaplah untuk proses selanjutnya, seperti wawancara dan pemberkasan, seperti masukin akun bank untuk bayar uang rumah, dan lain-lain. Setidaknya proses ini dari awal mendaftar sampai menempati danchi ini memakan waktu 9-10 bulan.

Setidaknya kami punya tips bagi kawan-kawan yang akan melamar danchi. Pertama, pilihlah rumah yang relatif jauh dari stasiun, tapi masih bisa dijangkau dengan menggunakan sepeda. Kebanyakan orang Jepang dan pencari rumah murah lainnya menghindari hal ini, makin dekat stasiun makin banyak peminatnya. Hal ini akan membuat peluang mendapatkan danchi makin kecil. Kedua, cari rumah yang dari deskripsinya tidak memiliki elevator dan bath tub. Aturan di Jepang, bangunan hingga 5 lantai tidak diwajibkan memiliki elevator, maka bayangkan saja jika rumah yang di dapat nanti di lantai 5 dan tidak punya elevator, maka sudah banyak pesaing kamu yang berkurang. Pun juga tentang bath tub. Orang Jepang sangat suka berendam air panas, terlebih lagi di musim dingin. Jadi kalau rumahnya tidak punya bath tub, kemungkinan dipilih orang Jepang sangat kecil. Ketiga, lakukan riset terhadap buku yang berisi rumah-rumah periode sebelumnya dan buku yang berisi rumah-rumah periode yang akan dilamar. Dari sana akan keliatan mana-mana saja rumah-rumah periode sebelumnya yang tidak laku. Nah, ini bisa menjadi salah satu pertimbangan.

Lalu bagaimana dengan kami? Kami menerapkan ketiga pertimbangan tersebut. Lalu apa yang terjadi? Saat kartu pos pengundian sampai di tangan kami, rasa syukur kami haturkan kepada Allah sang pemberi rizki, hanya kami yang melamar rumah tersebut. Sehingga otomatis kami mendapatkan hak menyewa danchi tersebut. Setelah melihat danchi secara langsung, kami sangat bersyukur, karena ternyata kamar yang kami peroleh di lantai 1 dan juga memiliki bath tub. Inilah rizki yang Allah berikan tanpa disangka-sangka. Kami melamar rumah ini sebelum tahu istri hamil, jadi kami tidak mempermasalahkan juga jika rumah yang diperoleh nanti di lantai 5. Tapi setelah tahu istri hamil, deg-deg an juga kalau ternyata nanti dapat lantai 5 dan bener tidak ada elevator. Kebayangkan angkat-angkat anak dan stoller dari lantai 1 ke lantai 5. Waaaw, encok pinggang Ayah Nak! Tapi alhamdulillah ini juga rizki anak.

Jadi rumah yang kami dapatkan ini berukuran sekitar 50 m2 dengan 3 kamar tidur, 1 dapur, ruang makan, toilet, dan kamar mandi. Dari kontrak yang tertera saat penjelasan dari pihak JKK, harga sewa rumah seukuran danchi kami adalah sekitar 85.000 yen atau kalau dalam rupiah sekitar 8,5 juta rupiah (dengan asumsi 1 yen sama dengan 100 rupiah). Nah tahu ga berapa rumah yang kami bayar sesuai dengan kontrak JKK? Sekitaran 25.000 yen. Lumayan hemat kan :).

Mungkin ini yang bisa kami bagi tentang pengalaman mendapatkan danchi di Jepang. Semoga pengalaman-pengalaman lainnya bisa kami share, terutama bagaimana tetap bisa hidup di Jepang sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku.

Diselesaikan di Mitaka 11 Safar 1440 H

 

2 Replies to ““Rumah Murah” di Jepang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *