Pengalaman Toilet Training Anak

Tak terasa saat ini usia putra saya, Harun, telah dua tahun. Begitu cepat waktu berlalu, padahal rasa-rasanya baru kemarin menggendong bayi yang lebih besar sedikit dari kotak tisu. Kini ia telah beranjak besar, sudah bisa menyangkal ketika dituduh kentut oleh ayahnya (baca: saya).

Nah, tak terbayang sebelumnya akan ada waktu Harun akan melepas popok. Sudah harus bisa dan terbiasa bilang “pipis” atau “eek” dan langsung menuju toilet, sebelum kata-kata itu diaplikasikan di sembarang tempat. Dalam pada itu dimasukkanlah rencana potty training atau toilet training (TT) Harun ini dalam anggaran pertengahan 2018, menimbang dan mengingat ayah tak lagi mendapatkan beasiswa mulai Oktober 2018. Ditambah juga sebentar lagi, insya Allah, akan ada anggota baru, jadi kalau diundur TT nya, takut akan kewalahan saya dan istri untuk men-TT kan Harun saat itu.

Sesungguhnya adegan penuh drama telah dimulai sebelum usia Harun genap dua tahun. Niatnya sih tadi memulai sejak dini. Sebelum memulai perlakuan kepada Harun, kami selalu membiasakan untuk mengomunikasikan ke dia apa saja yang akan kami lakukan. Pengarahan Bunda pun dijawab “haik” (baca: iya) ketika diminta Bunda untuk selalu bilang pipis atau eek ketika kebelet. Tapi apalah daya, Harun baru bilang “pisss” setelah keluar pipisnya. Begitulah terus menerus hingga stok celana pun habis. Letih Mamak nak. Si Bunda, yang dalam kondisi hamil muda, tak kuat harus mengepel dan mengelap sisa pipis Harun yang merata di hampir semua titik rumah (wilayah jelajah lokasi permainan Harun) dan mencuci pakaian Harun.  Ndak kebayang kalau pipis itu nantinya ditambah dengan pup. Makin mantaplah rumah :).

Akhirnya diputuskan lah TT Harun menunggu “pertempuran” Ayah selesai di kampus. Tepat 15 Oktober yang lalu, drama (kembali) diulang. Alhamdulillah cuma di hari pertama saja drama yang sama dengan upaya TT yang lalu. Tak masalah, ada Ayah yang siap dipekerjakan :). Alhamdulillah saya sudah selesai studinya pada akhir Sept, bulan lalu. Hari kedua lumayan, tidak sebanyak hari pertama. Hari ketiga mulai lelah, walau sebenarnya Harun sudah bisa sukses pipis di kamar mandi :). Hal itu dikarenakan ketika di kamar mandi yang ada malah main airnya lebih lama ketimbang pipisnya, padahal saat ini suhu sudah mulai drop lantaran akan segera memasuki musim dingin. Tapi asa sudah bulat, TT ini harus segera diselesaikan dengan mulus sebelum musim dingin benar-benar datang. Semangad Ayah Bun, eh Harun juga.

Karena dirasa tidak efektif dengan cara demikian, akhirnya diputuskan lah untuk mencari kursi kloset anak untuk Harun, seperti gambar di bawah:

    

Kursi kloset anak

Semenjak adanya kursi kloset anak ini, saya tidak harus bolak balik ke kamar mandi buat nungguin Harun pipis. Harun pun bisa langsung ke sana ketika kebelet. Setelah selesai pipis atau pup, tinggal cebokin Harun dan buang pipis dan pup nya. Hmmm, tampaknya agenda TT berjalan mulus nih. Harun sudah mulai pipis dalam keadaan sadar di kursi klosetnya dan pernah dalam keadaan tidur terbangun karena mau pipis.

Namun ternyata sodara-sodara, drama itu dimulai lagi kala pergi keluar rumah. Mau tidak mau Harun harus dipakaikan lagi popok. Mau tidak mau terpaksa dispensasi ke Harun boleh pipis di popok ketika sedang berada di luar rumah  dan tidak ditemukan toilet atau saat di kereta. Juga ketika tidur. Hmm, ternyata TT ini masih terus berlanjut dan ini memang dibutuhkan kekonsistenan saya dan istri untuk mendukung agar TT ini sukses.

Ada beberapa catatan yang kami coba rangkum untuk menyiapkan anak untuk TT, yaitu: Pertama, sebaiknya anak-anak sebelum mulai TT sudah bisa bicara dan sudah mulai memahami perkataan orang tua. Ini penting untuk komunikasi antara orang tua dan anak. Kedua, sebaiknya anak-anak juga sudah terbiasa mandiri, seperti bisa buka celana sendiri, dan mengenal tentang fungsi toilet. Hal ini sangat mendukung, karena kadang kala orang tua pada keadaan tertentu sulit langsung membawa anak ke toilet atau ke kursi kloset saat anak sudah kebelet. Pernah ketika kami sedang sholat di kamar, Harun tetiba berlari keluar kamar. Setelah selesai sholat kami lihat Harun sedang pup di kloset anak. Alhamdulillah, akhirnya bisa juga Harun pup sendiri. Ketiga, rencanakan dengan matang untuk bawa anak ke toilet ketika akan melakukan perjalanan ke luar rumah. Sehingga sebisa mungkin si anak tidak pipis atau pup di popok jika tidak dalam keadaan genting. Kondisi ini akan menghindari anak kembali lagi ke popok.

Mungkin demikian pengalaman kami men-TT kan Harun yang bisa diceritakan. Semoga bermanfaat. Semangat kepada semua orang tua yang saat ini juga tengah menyiapkan anak-anaknya untuk belajar mandiri. Rasa-rasanya pengalaman ini akan sangat berkesan untuk dikenang :).

Diselesaikan di Mitaka 12 Safar 1440 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *