Jalan Panjang Mobil Hidrogen Jepang

Siapa yang tidak mengenal Jepang? Kali pertama mendengar nama Jepang, banyak hal yang bisa diutarakan. Mulai dari budayanya, musimnya, makanannya, animasinya, hingga mobilnya. Iya, mobil. Industri otomotif di negara sakura ini sering kali menjadi salah satu topik utama ketika berbicara tentang Jepang, sebab beberapa tahun terakhir mobil-mobil asal Jepang tercatat merajai penjualan terbanyak di dunia, di antaranya Toyota, Honda, Suzuki, Mitsubishi, dan Nissan. Hingga May 2018 yang lalu, diperkirakan mobil produksi pabrikan Jepang telah terjual secara global hampir 11.5 juta unit.1 Tentunya ini menjadi prestasi yang dapat membuat decak kagum para pengguna dan pengamat otomotif dunia.

Jika diusut lebih jauh tentunya prestasi ini sejalan dengan upaya yang dilakukan oleh produsen mobilnya, tertutama terkait dengan faktor keamanan, kenyamanan, desain, serta kepedulian terhadap lingkungan. Prestasi yang mereka raih, bukanlah dari hasil riset kemarin sore, tetapi berkat kerja keras dan kerja tim yang berjalan cukup lama. Namun, faktor terakhir, terkait perhatian penuh produsen mobil Jepang terhadap lingkungan, patut menjadi sorotan tersendiri bagi banyak kalangan, karena pemerintah Jepang beserta pelaku industri otomotifnya saling bersinergi untuk memproduksi mobil ramah lingkungan di masa depan. Tak tanggung-tanggung, pemerintah Jepang telah menargetkan pada Olimpiade Tokyo 2020 nanti dijalankan dengan hidrogen, termasuk kendaraan yang digunakan. Tulisan ini akan membahas tentang sejarah mobil Jepang, dimulai dari era bahan bakar fosil (konvensional) hingga hidrogen, serta peluang Indonesia terhadap perkembangan mobil Jepang tersebut.

Mobil Jepang di Era Konvensional

Sejarah mencatat industri mobil Jepang bermula sejak tahun 1900an saat Komanosuke Uchiyama memproduksi mobil pertamanya pada tahun 1907.2 Mesin yang digunakan menggunakan bensin yang dia bawa dari Amerika Serikat. Perkembangan industri otomotif Jepang sempat terganggu saat perang dunia kedua bergejolak.

Industri mobil Jepang kembali menggeliat pada 1955 seiring meningkatnya produksi mobil di dalam negeri Jepang sendiri. Pada saat yang sama, pembatasan dikenakan pada impor kendaraan oleh pemerintah Jepang. Karena memang pada saat itu pasar mobil Jepang tidak terlalu luas, maka hampir tidak ada negara lain yang menentang aturan tersebut. Pada tahun ini, Suzuki memulai produksi Suzulight 360cc yang meniru model Llyod 400, mobil buatan Jerman. Fuji mengikuti model 360cc dengan nama Subaru 360 yang mulai dipasarkan pada tahun 1958. Dua tahun setelahnya, yaitu pada 1960, Mitsubishi memperkenalkan Mitsubishi 500, mobil 500cc hemat bahan bakar dengan harga terjangkau. Di tahun 1960 juga, Toyo Kogyo, yang akhirnya menjadi cikal bakal Mazda, juga ikut memperkenalkan mobil 360cc-nya. Sementara itu, Toyota 700cc diperkenalkan pada tahun 1961. Semua mobil-mobil ini adalah hasil dari program pemerintah yang mendesak produsen mobil untuk memproduksi kendaraan kecil yang hemat bahan bakar dengan harga terjangkau untuk pasar domestik.

Antara pertengahan 1960-an dan pertengahan 1970-an, pembelian mobil Jepang meledak. Pada tahun 1962, 14 persen rumah tangga memiliki mobil. Pada tahun 1975, jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 50 persen. Masuknya uang tunai ini memungkinkan pabrikan mobil Jepang untuk berinovasi di bidang teknologi manufaktur dan desain mesin, yang menghasilkan pengembangan mesin putar oleh Toyo Kogyo.

Asosiasi Pabrikan Otomotif Jepang atau Japanese Automotive Manufacturer’s Association (JAMA) didirikan pada 1967.2 JAMA dibentuk untuk membantu produsen otomotif menghadapi perubahan ekonomi Jepang, seperti impor otomotif yang diliberalisasi, yang dihasilkan dari masuknya Jepang ke dalam Perjanjian Umum tentang Tarif dan Perdagangan (GATT).

Krisis minyak 1973 membuat permintaan global untuk mobil hemat bahan bakar meningkat. Jepang berada dalam posisi yang baik, karena jajaran mesinnya yang lebih kecil dirancang untuk efisiensi bahan bakar, sehingga sangat gampang memasuki banyak pasar global, terutama Amerika Serikat. Produsen mobil Jepang merupakan yang pertama menggunakan bahan inovatif, seperti plastik dan lembaran baja tegangan tinggi, untuk mengurangi bobot lebih lanjut.

Memasuki Era Ramah Lingkungan

Hingga tahun 1990 an industri otomotif dunia masih didominasi oleh mobil berbahan bakar fosil, seperti bensin dan solar, termasuk Jepang. Revolusi dunia otomotif memasuki babak baru ketika General Motor, produsen mobil asal Amerika, meluncurkan produk mobil listrik mereka dalam jumlah terbatas pada 1996 untuk kali pertama di dunia, yaitu EV1. Sumber tenaga mobil listrik berasal dari baterai, sehingga dengan demikian penggunaan mobil listrik ini tidak akan menghasilkan emisi gas buang dari pembakaran bahan bakar fosil yang selama ini menjadi sumber tenaga mobil konvensional.

Selang setahun setelahnya Jepang ikut pula memproduksi mobil listrik melalui produk keluaran Toyota, RAV4 EV. Dari tahun 1997 hingga 2003 tercatat 1.484 mobil ini telah disewa, dijual, dan dikirim ke Amerika Serikat.3 Nissan dan Honda pun pada tahun 1997 ikut memproduksi mobil listrik namun dalam jumlah terbatas. Mulai saat itu, industri mobil Jepang disemarakkan dengan kehadiran mobil listrik hingga kini. Data terakhir hngga Januari 2018 menunjukkan Nissan Leaf, mobil listrik buatan pabrikan Nissan merajai penjualan mobil listrik secara global, yaitu mencapai 300 ribu unit sejak dijual dari tahun 2010.4

Namun, seiring berjalannya waktu, industri otomotif Jepang terus berbenah, terlebih dalam mengakali harga mobil listrik yang jauh lebih mahal dibanding mobil-mobil berbahan bakar fosil. Salah satunya dengan menginisiasi mobil hibrid yang dimulai di penghujung tahun 1997. Mobil hibrid ini melakukan penggabungan manfaat dari mesin bensin dan motor listrik tenaga baterai, sehingga bisa mengurangi konsumsi bahan bakar. Toyota kembali untuk kali pertama memperkenalkan mobil hibrid-nya, dengan nama Toyota Prius, Pelanggan pun akhirnya punya pilihan untuk memiliki mobil yang ramah lingkungan dengan harga yang lebih terjangkau dibanding mobil listrik. Hingga Januari 2017 tercatat mobil ini telah terjual hampir 4 juta unit, sedangkan secara keseluruhan Toyota telah menjual produk mobil hibdridnya sekitar 10 juta unit pada tahun yang sama.5 Pada tahun 1999, Honda Insight menyusul memasuki pasar mobil hibrid domestik dan dunia. Tercatat pada April 2009, Honda Insight generasi kedua, telah terjual 10.481 unit.6

Pun demikian ternyata industri mobil Jepang tak lantas berpuas diri dalam berinovasi, terutama dalam menghasilkan mobil yang ramah lingkungan. Produsen utama mobil Jepang, Toyota dan Honda memulai era baru di dunia otomotif dengan memperkenalkan produk mobil berbahan bakar hidrogen. Pada 2015 yang lalu, Toyota dengan produknya Mirai, menjadi satu di antara mobil hidrogen yang dijual dipasaran. Hingga akhir 2017, total penjualan Toyota Mirai mencapai 5.300 unit secara global.7 Setidaknya hingga 2016 hanya ada 3 mobil berbahan bakar hidrogen yang telah diproduksi dan dijual di psaran, yaitu Toyota Mirai, Hyundai ix35 FCEV, dan Honda Clarity.

Menggeliatnya industri otomotif Jepang juga tidak lepas dari peran pemerintahnya. Berbagai regulasi dan bantuan yang tak sedikit dari pemerintah Jepang turut menyukseskan industri otomotif di sini. Untuk menyukseskan mobil berbahan bakar hidrogen saja, pemerintah Jepang telah menargetkan akan memiliki 80 stasiun pengisian bahan bakar hidrogen baru hingga tahun fiskal 2021 dalam anggaran pemerintah. Mobil-mobil sel bahan bakar hidrogen ini tidak ada gunanya tanpa adanya tempat untuk mengisinya. Total hingga 2030 nanti Jepang akan memiliki 900 stasiun pengisian bahan bakar hidrogen. Pemerintah Jepang berencana untuk memiliki setidaknya 40.000 kendaraan sel bahan bakar hidrogen di jalananan pada 2020 mendatang.

Peluang Indonesia

Berdasarkan data yang diperoleh dari Gaikindo, industri otomotif dalam negeri didominasi oleh pabrikan asal Jepang. Hampir 97% mobil yang terjual sepanjang 2014 berasal dari pabrikan Jepang, sementara sisanya berasal dari Amerika Serikat, Korea Selatan, Jerman, Malaysia, dan China. Sehingga seharusnya dengan semakin pesatnya perkembangan industri mobil Jepang, maka ikut pula berimbas terhadap industri otomotif tanah air.

Setidaknya pada 2015, Jepang telah menjadi investor utama dalam sektor industri otomotif di negara kita, yakni mencapai 68% dari total penanaman modal asing (PMA) 2015. Hal ini membuat semakin menggeliatnya industri otomotif tanah air dan turut menggerakkan roda perekonomian. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, total tenaga kerja yang terserap di sektor ini mencapai 1,46 juta orang pada 2013. Penyerapan terbesar terjadi pada outlet, bengkel, dan penjualan suku cadang retail non-resmi.

Namun, jika ditelisik lebih lanjut, Indonesia memiliki peluang lebih besar dalam meningkatkan industri otomotif tanah air, salah satunya adalah dengan ikut memproduksi mobil nasional (mobnas) dengan mengandeng pabrikan mobil asal Jepang, tidak hanya berkualitas tapi juga memiliki tingkat keamanan yang cukup tinggi. Teknologi terkini yang dikembangkan oleh Jepang bisa kita adopsi untuk memproduksi masal mobnas ini, mengingat kita adalah pangsa pasar besar bagi pabrikan asal Jepang. Tentunya harus ada komunikasi yang intens antara pihak Indonesia dan Jepang dalam hal ini. Juga perlunya payung hukum yang jelas dari pemerintah Indonesia dalam mendukung upaya ini. Permasalahan-permasalahan yang ada seperti rendahnya fasilitas infrastruktur penunjang, ongkos logistik yang mahal, industri komponen di dalam negeri yang belum mencukupi, hingga penerapan emisi gas buang yang di bawah standar global harus segera diselesaikan agar industri otomotif kita semakin menggeliat dan ikut bersaing di pasar global. Setidaknya dengan berlakunya mobil ramah lingkungan di pasar Indonesia, konsumsi bahan bakar fosil akan berkurang, sehingga beban APBN pun menjadi lebih ringan.

Harapan suatu saat industri otomotif tanah air juga punya peranan besar dalam upaya menghadirkan mobil-mobil yang ramah di lingkungan di masa depan.

Diselesaikan di Mitaka, 18 Safar 1440H

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *