Siap Menjadi “Romusha”

Ketika kali pertama menginjakkan kaki di negeri sakura ini, banyak orang yang menanyakan bagaimana kehidupan di sana, asyik ga, bagaimana bisa dapetin beasiswa ke sana, bisa ga ya kerja di sana, dan beragam pertanyaan lainnya. Kala itu saya hanya menjawab seperti apa adanya, sesuai dengan apa yang saya rasakan dan alami. Banyak senangnya dibanding susahnya.

Namun semua itu menjadi berubah ketika telah lama tinggal di sini, banyak hal-hal yang baru yang diketahui, yang akhirnya ditemui. Ternyata tinggal di Jepang itu tidak melulu enak. Eits, jangan langsung menyimpulkan tulisan saya ini ya, sebaiknya dibaca dulu sampai habis.

Sholat saat camping di salah satu pinggir sungai di Tokyo

Bagi wisatawan (musafir) yang hanya sesaat atau perantau yang baru datang dan akan tinggal lama di Jepang (mukimin), akan melihat hal-hal positif saja mengenai Jepang. Kedisiplinannya, kerapiannya, kebersihannya, kejujurannya, kebaikan hati orang-orangnya. Nah, kalau sudah lama tinggal di Jepang gimana? Apa jadi berubah semuanya? Ndak gitu juga. Masih ada yang disiplin, masih ada yang rapi, masih bersih juga, jujur pun begitu, yang baik hati juga. Tapi ternyata ga semua orang dan tempat di Jepang seperti itu kok. Sehingga tidak bisa 100% bilang bahwa Jepang itu bagus semua. Serupa halnya dengan bangsa kita, yang kadang sering dibanding-bandingkan. Indonesia walau bagaimanapun juga, masih ada sisi positif yang bisa diambil. Semoga pembaca budiman semua bisa mengambil kesimpulan yang bijak dari tulisan ini nantinya.

Salah satu poin penting yang ingin saya sampaikan bagi yang ingin menetap di Jepang adalah tentang kesiapan menjadi “romusha”. Maksudnya menjadi tenaga kerja paksa, begitu? Kurang lebih seperti itu yang ingin saya sampaikan cuma mungkin dengan arti kekinian. Banyak hal-hal yang membuat kita akhirnya tidak menjadi diri sendiri lantaran “terpaksa” mengikuti aturan Jepang yang TIDAK TERTULIS. Di sini lah repotnya, yang tertulis saja repot bacanya (kanji semua euy), apalagi yang ga tertulis.

Jangan salah, aturan tidak tertulis di Jepang itu sangat banyak sekali. Kalau jika ada yang punya prinsip selama itu tidak dilarang, maka itu artinya boleh, maka hati-hatilah di Jepang. Karena di Jepang jangan lakukan apapun tanpa ada perintah atau informasi yang memerintah.  Ada lagi contoh bahwa sebagai seorang mahasiswa atau karyawan, jangan pulang sebelum supervisor atau bos kita pulang. Jadi kalau supervisor atau bos nya pulang jam 10 malam, maka pulang lah setelah itu. Satu lagi, jika ingin hubungan dengan senior atau bos atau supervisor baik, maka ikutilah semua instruknya, walau terkadang instruksi itu salah atau bertentangan dengan apa yang kamu ketahui, jangan coba berikan saran yang kamu rasa lebih baik. Juga aturan tidak tertulis mereka adalah ikuti semua aturan tertulis atau kebiasaan yang sudah ada di suatu tim atau lab. Jangan coba-coba melanggar atau mencoba berkreasi sendiri di luar kebiasaan.

Itu masih mending hanya terkait budaya. Masih ada lagi aturan-aturan tidak tertulis yang akan menyulitkan kita sebagai umat beragama. Orang Jepang itu sangat strict terkait waktu, maka sangat banyak ditemukan pekerja atau pelajar di sini tidak bisa melakukan sholat tepat pada waktunya sehingga bahkan ada yang tidak sholat sama sekali. Begitu pula puasa, karena khawatir kinerja pekerja atau mahasiswanya menurun, mereka dilarang puasa. Begitupun hamil. Ada bos atau supervisor yang melarang hamil jika ingin bergabung dengan tim atau lab-nya. Ini berlaku juga untuk yang sudah punya suami.  Belum lagi tentang “kewajiban” menghadiri pesta-pesta yang sering banget dilakukan, tentunya lengkap dengan bir dan segala jenis perihal haram lainnya. Ada aturan kalau kita sebagai junior atau mahasiswa yang baik itu menuangkan sake, miras asal Jepang, atau bir kepada senior atau supervisor.

Aturan-aturan tidak tertulis itu diperuntukkan untuk semua orang yang ada di Jepang, sehingga baik pendatang ataupun orang Jepang sendiri pun mau tidak mau harus mengikuti aturan itu supaya bisa survive. Dan di sinilah kita mulai menjadi romusha. Secara tidak langsung kita “dipaksa” mengikuti aturan itu.  Dipaksa menjadi orang Jepang. Jadi gimana, siap jadi romusha di Jepang? Tunggu dulu, jangan diputuskan sekarang, tulisannya belum selesai. Masih ada sedikit lagi.

Bagaimana jika tidak mengikuti aturan itu? Iya harus siap menanggung konsekuensinya. Banyak ragam bentuk konsekuensi yang akan kita terima, bisa berupa dikucilkan, sering dimarahi, dijelek-jelekkan, di-bully, tidak dianggap keberadaannya, dan sebagainya. Intinya semua perlakuan-perlakuan itu membuat banyak orang stres, tidak hanya orang asing saja, tetapi orang Jepang juga ada.  Makanya jangan heran, banyak orang Jepang yang bunuh diri. Orang Indonesia juga ada loh yang pengen bunuh diri! Siapa? Yang jelas bukan saya :).

Waaah. Jadi gimana dong? Saya sudah ngebet banget pengen ke Jepang. Tenang, ada tips nya kok supaya bisa bertahan di Jepang. Sudah sangat banyak contoh orang-orang Indonesia yang bisa tinggal lama di Jepang dan masih mempertahankan aqidahnya. Tapi sebelum itu luruskan niat ya ke Jepang, karena niat itu akan mempengaruhi sukses atau tidaknya kita nanti tinggal di Jepang.

Sebenarnya paksaan yang baik dan tidak menyalahi aturan kita sebagai umat beragama, its OK.  Yang menjadi masalah adalah aturan-aturan yang kadang tidak bisa kita terima karena akan mengganggu aqidah kita atau juga mungkin terkait instruksi-intruksi yang kita rasa perlu dibenarkan. Sehingga kita perlu mencari solusi jika ingin bertahan di Jepang dengan aturan-aturan itu. Salah satunya adalah bisa berkomunikasi dengan bahasa Jepang. Karena ada beberapa hal yang akan sangat sulit diterima informasi oleh orang Jepang dalam bahasa Inggris. Dengan kita menguasai bahasa Jepang, alasan-alasan kita terhadap aturan-aturan mereka yang bertentangan dengan aqidah kita bisa tersampaikan dengan baik, pun begitu kita juga bisa menjelaskan tentang manfaat-manfaat yang kita peroleh dari ibadah tersebut. Nah, setelah itu poin penting lainnya adalah kita harus menunjukkan performa kita dengan sebaik-baiknya baik di tempat kerja atau di lab. Sehingga bos atau supervisor bisa melihat bahwa aktivitas ibadah yang kita lakukan tidak mengurangi performa kerja kita. Hal itu akan membuat orang Jepang menaruh kepercayaan kepada kita.

Kemudian adalah biasakan berkumpul dan bercerita dengan senior-senior di Jepang. Bagi yang muslim mungkin bisa datang di kajian-kajian Islam yang sangat banyak diadakan oleh Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) Jepang atau Forum Kajian Islam Tokyo dan sekitarnya (Forkita) di Masjid Indonesia Tokyo. Sangat banyak orang-orang Muslim yang sudah lama tinggal di sini bisa menjadi bahan rujukan untuk bisa bertahan di Jepang.

Saya sebagai seorang Muslim, berterimakasih kepada senior-senior Muslim lainnya yang telah lama tinggal lama di Jepang, yang bisa bertahan dan beradaptasi dengan Jepang serta warganya dan juga masih memegang aqidah ini. Dampaknya bisa dirasakan saat ini, dimana sudah banyak orang-orang Jepang yang memaklumi aktivitas-aktivitas ibadah yang kita lakukan. Sehingga bisa kita dapati saat ini supervisor atau bos yang baik hati. Bahkan kini sudah banyak ruangan sholat di berbagai titik-titik penting di Tokyo dan kota-kota lainnya di Jepang.

Namun walau demikian, akan masih banyak celah sehingga proses romusha itu akan berlanjut dan menimpa kita, karena aturan-aturan itu masih banyak yang berlaku. Siapkan diri sebelum ke sini. Yang ingin saya sampaikan adalah jangan pernah berpikir bahwa “rumput tetangga lebih hijau.”

Diselesaikan di Mitaka, 19 Safar 1440H

 

2 Replies to “Siap Menjadi “Romusha””

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *