Berani Jujur itu Berat

Kurang lebih 2 minggu saya berada di Indonesia. Tujuannya menghadiri walimahan saudara dan juga silaturrahmi dengan teman serta keluarga di banyak kota, yaitu Bandung, Pekanbaru, Bekasi, dan Jakarta. Tapi apa daya, waktu yang tadinya ingin dihabiskan bersama keluarga harus rela digadaikan untuk menghadapi birokrasi di Indonesia, khususnya di Pekanbaru.

Tauchdwon@Bandung Sta.

Dari semua aktivitas yang berhubungan dengan birokrasi itu, bisa saya simpulkan bahwa berani jujur itu berat, bahkan malah yang jujur yang jadi bahan cemoohan. Pantaslah KPK menyatakan hebat orang yang bisa jujur, kira-kira banyak ndak ya jumlahnya?

Awalnya saya mengurus e-KTP yang tak kunjung jadi setelah 3 tahun. Ketika menanyakan selesai atau belum malah diminta lagi mengajukan kembali dari awal. Waktunya 6 bulan. Jika ingin cepat bayar 700 ribu. Protes? Malah yang diprotes lebih galak, disebut saya suka protes karena sekolah terlampau tinggi :). Sudah antri lama, trus dibeginiin. Bayar aja atau gimana? Karena e-KTP diperlukan untuk banyak urusan dan saya juga mau jujur (rencananya), ya diikutilah kemauan mereka, menunggu 6 bulan lagi. Padahal saat mengurus ini itu ke salah satu Bank Syariah di Indonesia, mereka bilang kalau e-KTP saya sudah tersimpan di sistem data penduduk, tapi naasnya fisiknya belum ada sampai sekarang. Fiuh

Yang kedua mengurus akte kelahiran anak saya dan memperbarui KK, selesai 3 minggu katanya. Padahal ini bisa jadi sehari kalau bayar 750 rb. Wah wah wah. Cobaan apalagi ini. Ya hadapi saja, 3 minggu lagi ke sana. Untuk hal ini saya minta tolong ke kakak untuk mengambilkan. Update terakhir kakak saya datang siang untuk mengambil, tapi diminta datang pagi karena orang yang mengurus sudah pulang. Eh pas datang pagi diminta datang siang, karena jadwal pengambilan siang :(. Semoga kakak kuat ya!

Nah yang ketiga dan ini lah puncaknya, membuat SIM C baru.  Hal ini saya lakukan karena SIM C saya telah mati 2 tahun yang lalu sewaktu saya masih kuliah di Jepang. Mau tidak mau saya harus menghadapi kembali rentetan persyaratan terbaru untuk mendapatkan SIM C, yaitu tes kesehatan, psikologi, ujian teori, serta ujian praktek. Tiga (3) persyaratan awal telah berhasil dengan sukses saya lewati, yaitu tes kesehatan, psikologi dan ujian teori. Dimulai dari jam 9 selesai jam 2 siang. Teman saya yang Polisi dari awal sudah menyarankan untuk lewat jalur belakang saja, karena akan memakan waktu yang lama dan birokrasi yang berbelit. Tapi sekali lagi saya telah menanamkan asa untuk melewati setiap mekanisme dengan jujur (ceile, makan tu jujur dalam hati).

Namun saat akan ujian praktik, penguji mengatakan tidak bisa menguji lagi. Kesorean katanya. Padahal sudah jelas-jelas masih jam kerja. Mulai lah goyah pertahanan. Akan kah mampu menghadapi birokrasi ini? Lokasi pengurusan SIM baru ini sangatlah jauh. Sekitar 1 jam berkendara motor dari rumah saya (pake ojol ya, lantaran SIM C saya belum ada). Tapi karena saya merasa masih bisa menghadapi perjuangan untuk jujur, saya iyakan.

Lalu datanglah saya keesokan harinya kembali dengan menggunakan ojol, kali ini spesial disopiri oleh Bang Ojik, yang sekaligus menjadi penjaga Harun saat ujian praktek. Terimakasih Bang Ojik :). Tepat pukul 11.20 saya tiba di depan ruangan penguji. Dan tetiba si Bapak bilang tidak bisa ujian lagi, karena sudah tidak ada lagi peserta SIM C yang lain yang akan ujian. Pertahanan pun hampir roboh. Dengan sisa-sisa harapan saya meminta kelapangan hati dan keluasan pikirian si Bapak penguji, mana tau aja mempan. Alhamdulillah ternyata bisa. Bapak penguji luluh juga, katanya nanti jam 1 an ya. (lelah hayati mode on)

Singkat cerita setelah ngobrol dengan Bang Ojik sembari makan siang, saya pun menuju tempat ujian praktek. Praktek baru dilakukan sekitar setengah 2. Yo wis lah, tak masalah, yang penting bisa praktek. Dan teretet, ternyata ujiannya hanya 5 menit saja. Hahahaha. Saya langsung dianggap gagal ketika mengendarai jalanan angka 8, kaki saya turun ke jalan. Dan ternyata, setelah itu tes hanya boleh dilakukan 2 kali lagi dengan waktu selang 7 (tujuh) hari. Jika tidak lulus, maka pengurusan diulang lagi dari awal.  “Coba aja dari pertama mengurus langsung lewat jalur belakang, kan ndak perlu repot begini, tinggal duduk langsung selesai,” kata seorang teman :). Mak jleb.

Menjajal Ujian Praktek (taken by Bang Ojik)

Walau penuh tantangan seperti mengurus sesuatu yang sepertinya penting banget (kata Bang Ojik),  alhamdulillah saya bisa menyelesaikan pengurusan SIM C ini. Insya Allah di lain kesempatan akan saya tulis bagaimana tips dan trik bisa lulus ujian praktek, ternyata ada ilmu khususnya :).

Ya begitulah sekelumit pengalaman saya berusaha jujur. Berat euy. Tapi semoga apa-apa yang diusahakan itu bernilai ibadah dan berkah. Aamiin. Mohon maaf saya sampaikan kepada seluruh sanak keluarga, sahabat, dan Bapak/Ibu semua yang tidak sempat bersilaturrahmi. Insya Allah di lain kesempatan kita berjumpa (lagi).

Diselesaikan di KA Bandung-Jakarta, 11 Rabiul Awal 1440H

 

One Reply to “Berani Jujur itu Berat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *