Sholat Dalam Pesawat

Semenjak kuliah di Jepang, banyak ilmu baru yang diperoleh, tidak hanya menyangkut ilmu Kimia saja, tapi juga ilmu agama, yang menjadi petunjuk hidup di atas dunia. Salah satunya adalah tata cara sholat saat bepergian, termasuk di saat menggunakan pesawat yang waktu tempuhnya beririsan dengan waktu sholat.

Purnama di atas awan

Alhamdulillah saya sudah pernah mencoba beberapa pesawat berbadan besar, seperti A330, B787, ataupun B770. Saat sedang di dalam pesawat itu saya melakukan sholat dalam keadaan berdiri. Memangnya bisa? Bisa. Yang paling penting adalah komunikasi. Komunikasi ini dilakukan dengan kru atau istilahnya pramugari.

Untuk maskapai Etihad Airways, para kru nya tidak hanya senang mempersilakan kita sholat, tapi juga punya sajadah untuk bisa kita gunakan. Menarik bukan? Dan lebih tercengang lagi, maskapai ANA (maskapai milik Jepang), juga punya sajadah jikalau ada muslim yang mau sholat di dalam pesawat mereka dengan berdiri. Ini saya alami sendiri saat menggunakan ANA rute HND-KUL dan CGK-HND. Terakhir saya menggunakan Air China, kru nya pun membolehkan saya untuk sholat Subuh dengan berdiri ketika masih di udara. Hanya saja mereka tidak memiliki sajadah seperti Etihad dan ANA. Namun tidak semua maskapai mengizinkan sholat berdiri ya. Pengalaman saya menggunakan pesawat Garuda rute HND-CGK tidak mengizinkan saya sholat berdiri, alasannya bahaya dan katanya duduk aja. Tapi berbeda ketika saya menggunakan maskapai Garuda untuk rute CGK-HND, kru seniornya mengizinkan saya sholat di pesawat secara berdiri. Tapi sayangnya tidak punya sajadah. Lokasi yang bisa kita gunakan untuk sholat berdiri berada dekat dengan pintu, baik yang di depan, tengah, ataupun belakang.

Denah salah satu pesawat A380 milik Etihad

Tentang keutamaan sholat dalam keadaan berdiri bisa ditanya ke ustadz atau dibaca tulisan-tulisan ustadz yang menyandarkan ke dalil-dalil yang shahih. Hal ini yang selalu membuat saya selalu berusaha untuk mengupayakan sholat berdiri. Namun, ini bukanlah sesuatu hal mutlak harus dilakukan, karena kita juga bisa duduk jika tidak mampu melakukan sholat secara berdiri, misal tidak mendapatkan izin atau karena kondisi tidak memungkinkan. Yang paling penting itu adalah kita telah mengupayakan.

Contoh hal yang tidak memungkinkan untuk sholat berdiri itu banyak ragamnya dan kita bisa ukur sendiri apakah itu benar-benar bisa jadi alasan kita tidak bisa melakukan sholat secara berdiri. Sebagai contoh: saat penerbangan saya dari MED ke AUH. Pihak maskapai menggunakan pesawat berbadan kecil, seperti A320. Jam terbangnya 5 menit setelah adzan subuh. Saat adzan semua sudah di pesawat dan pesawat sudah dalam posisi akan taxi, namun para penumpang ngotot ingin sholat berdiri. Akhirnya apa? Pesawat jadi delay karena ternyata banyak penumpang lain jadi ikutan sholat berdiri, padahal space untuk memungkinkan untuk sholat berdiri cuma satu tempat, yaitu dekat pintu darurat di tengah. Akhirnya saya dan beberapa penumpang lain memutuskan sholat duduk di bangku masing-masing.

Semoga tulisan saya ini bisa membantu teman-teman untuk menjalankan ibadah semaksimal mungkin sesempurna mungkin di dalam pesawat. Oh ya sebenarnya ini out of the topic, tapi cuma mau kasih tau aja kalau di kereta api Indonesia saat ini alhamdulillah kita bisa sholat berdiri loh.

Diselesaikan di Gotemba, 1 Rabiul Akhir 1440H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *