Terancam Lahir Prematur

Menikah dan kemudian memiliki keturunan adalah impian banyak orang. Tapi sayangnya banyak juga orang yang belum bisa meraih mimpi itu hingga kini dengan berbagai faktor dan alasan. Namun saya tidak dalam rangka membahas faktor dan alasan itu dalam tulisan ini. Hanya doa dan harapan yang bisa saya sampaikan untuk setiap orang yang saat ini sedang berikhtiar meraih dua mimpi itu. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Maha Pemberi.

Tulisan ini berkisah tentang kelahiran putra pertama saya, Harun, yang terancam lahir prematur. Pengertian prematur sendiri merujuk kepada kelahiran pada usia bayi belum sempurna. Biasanya bayi dikatakan lahir normal jika kelahiran terjadi pada usia kehamilan di atas 37 minggu.

Harun yang terus tumbuh besar. Semoga kelak jadi anak sholeh nak. Aamiin

Nah, untuk Harun, pada usia kehamilan 30 minggu (7 bulan), yaitu saat pengecekan kehamilan dwi mingguan, qadarallahu, istri sudah mengalami bukaan 1 disertai dengan kontraksi yang cukup intens. Bukaan-bukaan ini menjadi kata yang lazim dibicarakan oleh para ibu-ibu ketika membicarakan proses kelahiran anak-anaknya. Bagi yang mau tau lebih lanjut tentang bukaan-bukaan ini mungkin bisa merefer ke tulisan berikut.

Menurut dokter bukaan 1 yang disertai dengan kontraksi ini merupakan salah satu tanda kelahiran fase awal, sehingga dalam waktu dekat anak bisa saja terlahirkan saat kondisi belum cukup umur alias prematur (saat itu berat badan Harun kurang lebih masih 1300 g). Sebenarnya saat itu saya juga tidak terlalu mengerti, karena memang bab terkait detail proses kelahiran ini belum terselesaikan dibaca dan memang belum pernah menghadapi keluarga yang anaknya lahir prematur. Jadi kami berdua istri saat itu, hanya bisa menahan tangis, karena menurut dokter lagi, istri, mau tidak mau, suka tidak suka, harus diopname di rumah sakit dan istirahat total di kasur alias bed rest. Sampai kapan? Sampai melahirkan. Istri menahan tangis, memikirkan nasib risetnya di lab, karena harus segera selesai untuk merampungkan studi masternya. Di satu sisi juga memikirkan keselamatan calon dedek bayi.

Dimana saya saat itu? Saat itu saya sedang melakukan riset di kampus. Saya tidak bisa menemani istri setiap pengecekan. Lab saya termasuk yang strict. Saya baru bisa dikontak oleh istri melalui sambungan telepon ketika istri sudah berada di ruang opname di rumah sakit. Di sanalah akhirnya istri menumpahkan kekhawatirannya. Jadi menurut keterangan dokter, istri akan dijaga kandungannya dengan mengurangi konstraksi yang memicu bukaan-bukaan yang membuat bayi bisa keluar. Caranya? Salah satunya dengan pemberian obat penahan kontraksi. Di Jepang kasus ini ternyata cukup banyak dan rerata semua diinapkan jika sudah terjadi kondisi ini. Alasannya agar bayi besar di dalam perut ibu hingga usia kelahiran normal. Bagaimana di Indonesia? Sepertinya saya belum pernah mendengar ada penanganan medis untuk kasus yang serupa. Jika menemukan ada kasus bayi yang terancam prematur bisa ditahan hingga lahir di Indonesia, saya insya Allah akan update tulisan ini.

Akhirnya setelah mencoba tenang, cobaan ini bisa dilewati dan Alhamdulillah istri pun bisa lulus tepat waktu. Setidaknya istri dirawat di rumah sakit hampir 2 bulan dan bertepatan pula dengan bulan Ramadhan. Terimakasih yang tak terhingga kepada Bapak/Ibu serta sabahat di sini yang turut membantu dalam berbagai aspek, baik berupa doa hingga termasuk meringankan beban kami membayar biaya rumah sakit.

Kenapa ya kira-kira bisa adanya ancaman kelahiran prematur seperti kasus istri saya? Insya Allah pada kesempatan yang lain akan saya sambung (penjelasannya berdasarkan penjelasan dokter Jepang dan hasil googling istri). Alhamdulillah kehamilan kedua istri berjalan dengan baik hingga saat ini (minggu ke 36). Berdasarkan riwayat kehamilan pertama, ketika dinyatakan hamil untuk yang kedua kali, dokter langsung menyarankan untuk melakukan operasi untuk mencegah terjadinya lahir prematur atau keguguran. Operasi apa ini? Insya Allah sekalian dibahas pada kesempatan lain.

Kami mohon doa kepada Bapak/Ibu serta sahabat semua untuk kelahiran anak kedua kami. Jikapun ada yang punya pengalaman sama dengan kami boleh lah kita berbagi cerita dan pengalaman, untuk bisa dibagi juga kepada yang sedang menghadapi kasus serupa saat ini.

Sagamihara, 5 Jumadil Awal 1440H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *