Adakah Rindu di Jepang?

Waaah, ini judulnya kok mellow banget yak :). Ya, iya lah, karena negeri ini telah banyak menghasilkan cerita bagi kisah hidup saya (kami), yang tidak semua senang loh, banyak juga kisah dukanya. Belum lagi kalau ingat-ingat cerita nenek tentang kejamnya negara ini kala masa penjajahan dulu. Lepas dari semua itu, negara ini mungkin tak kan lagi menghasilkan cerita-cerita baru di beberapa bulan ke depan, karena saya akhirnya juga harus pulang V^^.

Piknik bersama keluarga

Membandingkan Jepang dengan Indonesia tentu tidak seimbang, atau bahasa kampungnya tidak apple to apple. Dari dulu saja sudah berbeda, mereka penjajah, kita dijajah. Yang paling sederhana saja, di Jepang, warganya sudah biasa membereskan meja sendiri setelah makan. Nah, di kita baru aja ada salah satu restoran cepat saji menerapkan ini (habis makan beresin sendiri, red), langsung saja jadi korban bully. Beda banget kan? :). Jadi sebenarnya yang bikin beda itu adalah karena manusia-manusianya, coba manusia-manusia di Indonesia banyakan yang jujur, banyakan yang tidak korupsi, serta banyakan-banyakan yang lainnya, tentunya Indonesia bisa lebih dari Jepang. Perlu diingat bahwa Jepang itu tidak punya sumber daya alam sebesar Indonesia saudara-saudara.

Jadi panjang gitu ya pengantarnya. Intinya memang saya tidak dalam membanding-bandingkan, cuma menuliskan apa saja yang mungkin nanti akan saya (dan kami) rindukan dari Jepang. Salah satu hal yang saya rindukan nantinya adalah terkait birokrasi. Maklum sewaktu di Indonesia, saya biasanya yang selalu diminta mengurus urusan tetek bengek birokrasi, jadi asam garamnya sudah puas lah.  Di Jepang,  rerata dokumen bisa selesai dalam waktu yang relatif cepat, tidak pernah menemukan pungutan liar (pungli), dan semua urusan bisa selesai walau yang biasa mengurus sedang cuti. Dannn masih banyak lagi birokrasi-birokrasi di sini yang nanti bisa bikin keinget terus.

Bagi sebagian PNS, honorer, atau pekerja customer service di Indonesia mungkin akan sewot membaca tulisan ini atau tulisan-tulisan lain yang membanding-bandingkan Indonesia dan negara lain, apalagi mereka yang ternyata juga turut jadi pelaku (loh kok Indonesia, kamu tuh yang dibandingin :)). Tapi saya yakin masih banyak PNS dan pekerja yang berhubungan dengan pelayanan ke masyarakat terus berupaya memperbaiki diri, berupaya menjadi manusia-manusia yang benar-benar beragama, karena kalau masing-masing kita, manusia Indonesia, menjalankan agama dengan sebenar-benarnya di semua sisi kehidupan kita, hal-hal jelek itu tidak akan pernah kita lakukan. Jadi jangan sampai ketipu ya dengan pernyataan-pernyataan yang mengatakan Jepang saja tidak beragama maju, makanya Indonesia kalau ingin maju juga harus tidak beragama. Itu pandai-pandainya kaum sekuler saja.

Kembali lagi ke laptop. Nah hal-hal lain yang mungkin akan membuat rindu itu adalah transportasinya. Bagi yang tinggal di kota-kota besar di Indonesia mungkin dalam waktu tidak berapa lama lagi akan bisa merasakan transportasi umum yang layak dan nyaman, seperti kereta listrik, MRT, LRT dan bus ber-AC. Selamat ya! Semoga bisa diikuti oleh daerah lainnya. Di Jepang kita bisa kemana-mana dengan nyaman dan aman lewat google maps, tanpa takut akan kehilangan barang  dengan menggunakan kereta dan bis yang nyaman sampai ke pelosok-pelosok desa. Di tengah hutan rimba Jepang, kita bisa menemukan arah penunjuk stasiun terdekat :). Jika transportasi umum di semua wilayah Indonesia bisa seperti Jepang, mungkin rasa rindu itu akan turut berkurang pula.

Selain itu kenyamanan dan keamanan bersepeda pun nanti pastinya akan sangat dirindukan, terlebih kala mengingat bersepeda dengan Harun setiap  berangkat jumatan, disapa oleh seorang kakek tua Jepang yang selalu menanti setiap melewati depan rumahnya, pukul 12.20 JST. Ya, beberapa kota besar sudah menerapkan jalanan untuk pesepeda dan pejalan kaki, semoga akan diikuti oleh kota-kota lain di tanah air. Selalu berharap adanya peubahan yang lebih baik untuk negara kita.

Kondisi jalanan di deket rumah

Hal lain yang juga akan dirindukan adalah terkait pelayanan kesehatan. Saya punya teman di sini yang hari itu pada sorenya melakukan operasi usus buntu, besok paginya dia sudah bisa mengisi acara talkshow. Sistem pelayanan yang baik ini, yang tidak pernah saya dengar ada RS menolak pasien karena tidak adanya biaya, akan menjadi bagian yang dirindukan. Untuk anak-anak dari usia 0 hingga usia SMP, biaya berobat gratis. Sehingga ketika anak sakit tidak pikir panjang untuk segera mengobatinya. Hal ini lah yang menjadi salah satu pendukung kenapa tingkat kematian anak-anak di Jepang sangat rendah. Pernah mendengar suatu berita, ada sebuah rumah bersalin ditutup gegara ada bayi yang meninggal ketika dilahirkan di rumah bersalin tersebut.

Bunda bersepeda bersama Harun

Pun jasa ekspedisi menjadi hal yang ikut dirindukan. Proses pengiriman dan penerimaan barang sangat nyaman dan bikin hati tenang. Kita bisa mengirim barang dari bandara ke rumah dalam waktu sehari, cepat dan praktis. Begitupula keberadaan taman-taman (koen) yang ada di tiap RW. Anak-anak bisa bermain lewat aneka mainan, sehingga bisa melatih perkembangan motorik anak.

Harun main di taman depan rumah

Sebenarnya masih banyak hal-hal lain dari Jepang yang akan membuat saya rindu dan mungkin juga membuat kamu semakin ingin tinggal di Jepang pula, tapi karena banyaknya keterbatasan, saya cukupkan sampai di sini. Mengingat juga saat ini lagi masa kampanye, nanti dianggap saya ikut menjelek-jelekkan pemerintah dan disangka kampreterss :). Oh ya perlu diingat, Jepang juga punya catatan buruk, jadi jangan disangka baik semua di sini ya. Di lain kesempatan semoga bisa saya bahas.

Harapan saya ada teman-teman lain yang pernah dan masih tinggal di Jepang bisa ikut menambahkan di kolom komentar tentang apa saja yang akan dirindukan dari Jepang. Bagi yang emosi membaca tulisan ini, terlebih lagi kalau ikut menjadi oknum yang bikin jelek Indonesia, saya mohon maaf sebesar-besarnya, karena tulisan ini bukan bermaksud menyindir.

Diselesaikan di Mitaka, 25 Jumadil Awal 1440H

 

6 Replies to “Adakah Rindu di Jepang?”

  1. Pengen yg pertama
    Bukan ngarep buku (padahal kalo gratis, kok di tolak? Pamali atuh 😄 )

    Pertama dan paling utama dari Jepang adalah disiplin waktu. Bukan hanya sekali, ketinggalan bis jemputan dari stasiun ke arah kampus IUJ. Atau sebaliknya. Selisih 0,01 pun, wassalam ceritanya (agak lebay mungkin ya, paling tidak segitu deh, lewat 1 menit, bis sudah tidak ada di pandangan)

    Padahal supirnya masih lihat kami yang melambai2kan tangan. Tega? Iya. Di lain waktu, lihat teman2 yang juga tertinggal. Sopir hanya bergumam dengan bahasa yang tak kami mengerti

    Benar, kami masih ngaret (diluar jam tangan yg memang talinya dari karet). Mengira bahwa ‘toleransi’ juga ada di Jepang. Sayangnya toleransi waktu tidak ada. Jadi salah siapa lagi jika memang kebiasaan buruk kita yg terbawa di Jepang

    Setelah ritme Jepang bisa kita dapat, kita mulai menyesuaikan diri. Mending nunggu daripada telat. Sampai balik ke tanah air, kebiasaan disiplin masih terbawa. Tapi jangan tanya untuk berapa bulan ya

    1. Masya Allah Pak FA, apa kabar pak? Sudah lama tidak bertukar kabar. Kejauahan ya kalau harus kirim buku ke Jakarta ya :). Banyak juga di sana.

      Benar ya pak. Cuma nasib kami-kami ni yang dipinggiran, yang orangnya banyak naik bis, bisnya sering banget ngaret :*. Pas kita datang on-time, bis nya telat, eh giliran kitanya telat, bis nya datang on-time :). Yah Jepang sesuatu lah ya pak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *