Uang Kami Bisa Membeli

Semakin ke sini hidup semakin mudah. Teknologi terkini digadang gadang mampu memenuhi tuntutan kebutuhan yang terus bertambah. Bayangkan saja hanya bermodalkan sentuhan di layar smartphone (dan tentunya paket data dan saldo di aplikasi), makanan datang terhidang. Pun begitu dengan bepergian, bisa pergi dan pulang tanpa perlu antre bis apalagi angkot yang sebagian besar sudah berumur. Intinya hidup menjadi dipermudah. Jadi tak salah jika ada anggapan, jika uang ada, maka semua bisa dibeli. Apa pun itu. Iya apa pun itu. Hidup menjadi nyaman tanpa beban.

Ilutsrasi lokasi perbelanjaan tradisional di sudut Tokyo

Tapi tahukah? Anggapan itu tak serta merta 100% benar. Lihatlah berapa banyak orang-orang saat ini terkesan tidak peduli sesama, tidak peduli dengan mereka yang tak perpunya. Bahkan naas-nya lagi banyak yang sudah terbuai dengan kenyamanan ini.

Tidakkah kita ingat bagaimana orang dulu hidup cari makan? Semua bergantung dari alam, mulai dari laut, sawah, sungai, gunung, dsb. Nah kalau sekarang? Tetap dari sana juga, tapi luas dan produktivitasnya sudah mulai berkurang. Ya itu tadi, karena nafsu ingin menjadi sebuah “kota” yang ditandai dengan berdirinya gedung-gedung tinggi dan megah, lahan-lahan produktif itu pun dipaksa dialihfungsikan. Makanya jangan heran, belakangan ini banyak produk-produk yang diimpor, pun garam juga diimpor. Miris bukan?

Tapi tidak bagi mereka yang klaim punya banyak uang. Tidak masalah diimpor sekalipun, yang penting usahanya, bisnisnya, kejaannya, proyeknya, garapannya, masih jalan dan terus menghasilkan uang. Hal-hal sepele seperti alih fungsi lahan hutan atau alih fungsi lahan produktif tidak menjadi masalah, impor pun dianggap hal wajar dan lumrah bagi suatu negara. Kita serta merta mungkin ikut larut dengan keadaan seperti itu juga, karena memang tidak bersentuhan langsung dan jarang atau sudah lama tidak ada yang mengingatkan tentang kepedulian terhadap hal ini.

Di sisi lain, kita melihat para petani atau nelayan yang masih semangat melakoni pekerjaannya tak lagi banyak jumlahnya, generasi mudanya pun sudah ogah-ogahan melanjutkan estafet mulia itu. Lulusan pertanian, peternakan, atau perikanan tak lagi pekerjaannya di sawah, di kawasan peternakan, atau di perairan. Jika para ahli dan kemudian lahan sudah tidak ada lagi, maka sudah cukup membuat alasan untuk terus-terusan melakukan impor. Alasannya masuk akal, karena permintaaan produk-produk itu terus bertambah seiiring meningkatnya jumlah penduduk, sementara pasokan dalam negeri tak ada lagi. Lalu sampai kapan ini terus terjadi?

Saya bukan peramal, juga buka ahli nujum. Tapi sebagai petani dan punya sedikit pengetahuan di bidang lingkungan hidup, kondisi itu akan terus terjadi jika kita tak segera sadarkan diri. Lama kelamaan suatu saat akan segera terjadi krisis pangan, dimana saat kita ada uang, barang impor pun tidak ada lagi ada, tersebab hal yang sama pun ternyata berlaku di negara impor, karena pola pikir yang sudah terlanjur menular itu, uang kami bisa membeli.

Merekapun Ikutan Tak Peduli

Tahukah, bahwa ketidakpedulian kita terhadap para pejuang pangan ini telah ikut menulari mereka. Maksudnya? Banyak para petani ataupun nelayan ikutan menjadi tidak peduli terhadap apa yang mereka lakukan untuk menghasilkan produk-produk andalan mereka itu. Kita akan banyak menemukan petani yang menggunakan pupuk atau pestisida secara berlebihan. Tujuannya jelas agar produksi meningkat dan uang yang dihasilkan pun lebih banyak. Tapi tahukah kalau beras yang dihasilkan tersebut akan memiliki tingkat residu pestisida tinggi yang sangat jelas berbahaya bagi tubuh kita? Kalau petani saya rasa tahu, karena sering diberitahu oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) ataupun saya, tapi ya mereka tidak bisa dipaksa, itu lahan mereka. Tapi bagaimana dengan kita yang tinggal di kota?

Jangan heran kalau produk-produk hasil alam Indonesia jarang lolos ketika diekspor. Residu pestisidanya sangat tinggi. Ini masih terkait produk pertanian, belum lagi peternakan ataupun perikanan. Untuk perikanan, bisa kita lihat penggunaan formalin untuk pengawet masih marak saja digunakan, walau sidak berkali-kali dilakukan. Makanya tidak perlu kaget jika melihat banyak macam penyakit muncul belakangan ini, karena zat-zat berbahaya telah masuk dan terakumulasi dalam tubuh kita. Pada saat sudah sakit parah, apakah uang bisa membeli sehat?

Banyak para pelaku penting di pertanian, peternakan, ataupun perikanan tidak lagi peduli dengan dampak yang dihasilkan dari kekeliruan yang mereka lakukan, karena hanya berorientasikan untung belaka. Mungkin kita akan bertanya, kira-kira dari mana semua ini bermula? Bisa jadi ini diawali dari tidak lagi pedulinya kita terhadap mereka. Keberadaan mereka dianggap tidak pernah ada. Kita terlalu menghamba kepada supermarket-supermarket besar ataupun toko serba ada, dimana peran petani, peternak, nelayan, tidak terlihat secara kasatmata. Parahnya lagi ini sudah berlangsung dalam waktu yang lama.

Saatnya Peduli

Mungkin ada yang berpikir tidak perlu khawatir jika pun nanti lahan tidak ada, toh teknologi semakin canggih, bisa bertanam di lahan terbatas bahkan di dalam gedung sekalipun. Ya silakan saja jika masih mencari pembelaan yang lain atas pola pikir kita selama ini. Kita bisa lihat bagaimana hal ini akan berproses. Tapi sederhananya saja, jika bertanam yang mudah di tanah saja banyak yang tidak peduli, bagaimana jika nanti sudah menggunakan teknologi, yang sudah rumit, biayanya tinggi pula.

Saya punya harapan besar jika kita selalu ingat dan peduli terhadap para pejuang pangan di lapangan. Bagi yang memiliki kewenangan untuk menyejahterakan mereka dengan kebijakan, tolong lakukan itu. Para pejuang ini tidak hanya butuh bantuan materi saja, tapi juga perlu pendampingan yang berkesinambungan. Atau jika yang kita punyai hanya ilmu, bagikan ke mereka. Jika pun tidak bisa berbuat banyak, cukup hargai produk-produk tersebut dan ajarkan ini kepada anak-anak kita, juga katakan kepada mereka bahwa akan ada masa di mana uang tidak bisa membeli semua.

*Dimuat di Riau Pos pada 26 Juli 2019 dengan judul: Ketika Hidup Semakin Mudah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *