Jangan Berpikir Dua Kali

Semenjak kejadian pernah total belanjaan saya dimanipulasi di salah satu supermarket besar, saya yang sesekali masih suka belanja di supermarket besar (terutama saat terik panas ataupun mendesak yang tidak ada di warung) menjadi lebih teliti.
Jika beberapa waktu yang lalu, harusnya beli minuman 3 gratis 1, tapi ternyata 1-nya tetap berbayar, nah hari ini ada selisih harga sekitar 400 rupiah. Lagi-lagi beli minuman. Jadi pas asap dan panas gini, minuman-minuman dekat kasir itu selalu menarik. Yang belum tahu, di Pekanbaru sejak akhir Juli kembali dilanda asap dari pembakaran hutan hingga hari ini. Jarak pandang hari ini sekitar 200 m.
Deretan minuman seger. Sumber: Kontan

Kembali ke cerita, saya baru sadar ada kekeliruan pas sudah sampai di pintu keluar. Iseng ngecek, “ada yang perlu dikoreksi ga ya.” Eh, pas liat harga minuman langsung kaget, kok beda. Harga minuman ini paling diingat loh, karena paling terakhir dibeli dan dekat kasir pula. Di awal pengennya sih tidak perlu protes aja, 400 rupiah doang, pikir saya..tapiii.. Perasaan itu ndak enak, kayaknya kalau mendiamkan rasanya juga bersalah dan belum tentu ada orang lain yang mau mengoreksi. Lalu mikir lagi, angka nya sih kecil ya, tapi jika diliat lagi jelas ini ndak sesuai dengan aqadnya, dikasih pajang harganya 2900, ternyata 3300. Istilah lainnya penipuan. Finally, ya jadinya balik ke mba-mba kasir untuk konfirmasi, harganya 2900 atau 3300. “Kalau 3300 ga masalah, saya tetap ambil barangnya, tapi tolong diganti pajangan harga,” ucap saya ke mba-mba kasir. Lalu dicek sama mba nya.
Alhasil ternyata harga di sistem kasir sudah berubah, tetapi harga di pajangan belum diganti. Jadi saya minta langsung diganti, tapi mba nya nya bilang segera diganti pas staf yang lain kosong. Semoga benar dikerjakan.
Ketika dalam perjalanan keluar dari supermarket (sambil multitasking, mengingat daftar belanja rumah yang akan dibeli di pasar), saya teringat tentang sebuah reality show di Jepang yang diceritakan istri kepada saya, yaitu terkait orang yang butuh pertolongan di tengah keramaian orang. Beberapa menit pertama tidak ada yang menolong si korban, hingga sampai menit ke 10 ada yang menolong. Nah, setelah ditanya, ternyata orang-orang yang tidak menolong hampir memiliki pemikiran yang sama, “orang lain pasti nolong”.
Tentunya tidak semua orang seperti itu, tapi kita harus akui kebanyakan orang seperti ini, karena berpikir bukan kita yang kena bencana asap, bukan kita yang sakit, dan bukan kita yang lainnya, kita kehilangan empati dan rasa ingin membantu. Seorang ustadz pernah memberikan ceramah tentang bagaimana seharusnya muslim itu bersikap. Muslim yang baik itu mendahulukan membantu saudaranya yang sedang tertimpa kedzaliman (misalkan mendapatkan hak nya), baru setelah itu memenuhi hak dirinya. Bukan baru heboh ketika hanya saat hak pribadi tidak diperoleh, tetapi diam ketika hak orang lain diembat.

Yuk mulai dari sekarang, kita biasakan membantu saudara-saudara kita yang sudah sangat jelas membutuhkan bantuan tanpa berpikir dua kali.

Diselesaikan di Tampan, Pekanbaru 14 Muharram 1441H

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *