Membaca, Lalu Mendunia

Masyarakat dunia saat ini tengah berada di era digital. Apa-apa serba digital, di hampir semua lini kehidupan. Bahkan ekonomi pun kini dikuasai tidak dengan cara-cara tradisional seperti dulu lagi, pendekatan teknologi digital telah merubah segalanya. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita sebagai masyarakat Indonesia harus ikut terlibat dan meramaikan jika tak mau ketinggalan. Dalam pada itu, pendidikan pada Abad 21 digadang mampu menjawab tantangan global tersebut dengan mengintegrasikan kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta penguasaan terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau teknologi digital.

Salah satu sudut literasi untuk anak-anak di stasiun kereta api Tokyo

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), kecakapan Abad 21 yang terintegrasi dalam kecakapan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta penguasaan TIK dapat dikembangkan melalui empat kecakapan yang disebut 4C, yaitu Critical Thinking and Problem Solving (berpikir kritis dan menyelesaikan masalah), Creativity (kreativitas), Communication Skills (kemampuan berkomunikasi), dan Ability to Work Collaboratively (kemampuan untuk bekerja sama). Keempat kecakapan tersebut telah dikemas dalam proses pembelajaran kurikulum 2013 saat ini.

Masyarakat dituntut untuk memiliki empat kecakapan di atas agar dapat bersaing secara global. Namun keempat kecakapan itu akan menjadi sia-sia jika seseorang tidak memiliki penguasaan literasi. Literasi inilah yang kemudian akan menjadikan seseorang bijak dalam memilih, mengritisi, mengevaluasi, menyintesis, dan menggunakan informasi.

Urgensi budaya membaca
Membudayakan kebiasaan membaca menjadi salah satu kunci utama agar kita dapat bersaing dalam upaya memajukan diri dan bangsa. Bahkan, seorang Malala Yousafzai, penerima Nobel Perdamaian 2014, telah lama mengampanyekan bahwa seorang anak dan guru dapat mengubah dunia, dengan hanya berbekal sebuah buku dan pena. Dan dia dapat membuktikan itu.

Di era serba digital ini kita juga dimudahkan dalam mendapatkan informasi tentang apa saja dan dari mana saja. Dalam hitungan menit berita kebakaran hutan Amazon di Brazil bisa menyebar hingga ke pelosok-pelosok desa di penjuru dunia. Begitu pula respon tentang aksi pasar yang berubah dengan cepat hanya karena cuitan-cuitan Presiden AS, Donald Trump di Twitter-nya bisa pula kita ketahui dengan segera. Hal demikian itu telah menjadi bukti bahwa mendapatkan informasi melalui kegiatan membaca tidak sesusah dulu lagi, karena selain dalam bentuk digital, bahan bacaan pun kini telah banyak tersebar baik lewat program pemerintah ataupun swadaya masyarakat. Sehingga proses penambahan cakrawala dan pengetahuan melalui proses membaca tersebut membuat kita bertindak melakukan sesuatu menjadi semakin tajam dan terkini. Tentunya diperlukan juga kecakapan literasi dalam membaca informasi, karena tidak semua informasi yang kita baca dan peroleh itu benar 100%.

Selain menambah wawasan, membaca juga memberikan pencerahan bagi kita untuk menjadi manusia yang memiliki jiwa yang luas. Jaime Zepeda, kontributor di Huffpost, menjelaskan bagaimana dengan membaca dapat mengubah dunia, sebab dengan membaca kita tidak hanya menambah pengetahuan diri saja, tetapi juga kita tidak akan pernah merasa sendiri, rasa empati menjadi kian meninggi, kerendahan hati tetap terjaga, meningkatnya rasa percaya diri serta selalu memiliki perasaan bersukacita.

Kala Kita Mendunia
Sudah banyak riset yang menulis tentang bagaimana pentingnya pendidikan keterampilan atau kecakapan Abad 21 dalam menghadapi persaingan global dan memajukan suatu bangsa dari berbagai sudut pandang. Namun tuntutan kecakapan Abad 21 ini tidak akan mudah terealisasi tanpa adanya dukungan dari budaya membaca yang dibarengi kecakapan literasi dari suatu bahan bacaan ataupun informasi. Kebiasaan membaca yang dilengkapi dengan kecakapan literasi akan mampu menjadikan setiap orang yang menguasai dunia menjadi lebih bijak dan arif dalam bersikap, dapat mengutamakan kepentingan umum dibanding kepentingan kelompok.

Mahatma Ghandi pernah berkata, the world has enough for everyone’s needs, but not everyone’s greed, dunia dapat mencukupi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak untuk yang serakah.

 

Diselesaikan di tengah kepulan asap pekat di Kota Pekanbaru, Sept 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *