Uang Kami Bisa Membeli

Semakin ke sini hidup semakin mudah. Teknologi terkini digadang gadang mampu memenuhi tuntutan kebutuhan yang terus bertambah. Bayangkan saja hanya bermodalkan sentuhan di layar smartphone (dan tentunya paket data dan saldo di aplikasi), makanan datang terhidang. Pun begitu dengan bepergian, bisa pergi dan pulang tanpa perlu antre bis apalagi angkot yang sebagian besar sudah berumur. Intinya hidup menjadi dipermudah. Jadi tak salah jika ada anggapan, jika uang ada, maka semua bisa dibeli. Apa pun itu. Iya apa pun itu. Hidup menjadi nyaman tanpa beban.

Ilutsrasi lokasi perbelanjaan tradisional di sudut Tokyo

Continue reading “Uang Kami Bisa Membeli”

Menikmati Birokrasi

Here We are. Yup di Indonesia. Negara yang menjadi identitas kewarganegaraan saya (kami) saat ini. Juga sebagai negara tempat saya belajar banyak hal sebagai manusia. Beruntunglah saya bisa mengenal Indonesia, sebagai suatu negara. Namunnn, kadang banyak ulah oknum-oknum yang membuat Indonesia menjadi terasa tidak nyaman dan tidak tentram.  Saya tidak perlu repot-repot menyebut satu per satu, karena  bisa merasakan sendiri. Namun dari semua itu, menghadapi birokrasi adalah satu dari sekian banyak yang harus dilalui agar bisa survive di Indonesia, di negara saya sendiri :).

Alhamdulillah sudah nambah 1 lagi yang akan menikmati birokrasi

Continue reading “Menikmati Birokrasi”

Balada Si Aamiin Boy

Dulu, sewaktu masih di Tokyo, Harun seringkali ikut sholat jumat di kampus bersama saya. Harun bisa duduk tenang di pangkuan ayah nya saat tidak ada teman bermain, tapi sekalinya ada teman bermain, ribut pula, Harun pun ikut tereksitasi — aka energinya meningkat (hmm, maksudnya bakat terpendam ributnya keluar). Ini menjadi salah satu alasan saya tidak melaksanakan sholat di masjid ketika mengharuskan menjaga Harun, selain memang lokasi ke masjid relatif lebih jauh ketimbang ruang sholat jumat di kampus. Saya kadang-kadang merasa tidak enak dengan jamaah lain yang tidak suka dengan anak yang ribut di masjid. Bahkan ada beberapa masjid menuliskan anak-anak di bawah 5 tahun dibawa masuk masjid. Awalnya berusaha memaklumi lantaran memang orang-orang Muslim ini mungkin telah terjangkit stress nya orang Jepang yang cukup tinggi.

Sakura Terakhir Harun di 2019

Tapi cerita berbeda ketika jumatan di ruang sholat kampus, karena saling kenal, kita pun sudah paham. Alhamdulillah belum pernah ada nada protes dari jamaah yang kebanyakan mahasiswa terhadap tingkah polah Harun, salah satunya adalah mengucapkan Aamiin setelah Al-Fatihah sebelum waktunya. Sampai ia diberi gelar si Aamiin Boy. Entah siapa yang memulai, tapi gelar itu melekat hingga saat terakhir kali saya akan pamit dengan jamaah sholat jumat kampus. Sebelumnya, Harun seringkali dikangeni para jamaah ketika ia tidak lagi diajak jumatan oleh Ayahnya karena boncengan sepedanya sudah dijual.

Dikira, di Indonesia, yang orang-orangnya ramah-ramah, tak kan pernah ada aturan-aturan seperti beberapa masjid di Jepang. Tapi apa dinaya, ternyata satu masjid dekat rumah tidak membolehkan anak-anak di bawah 5 tahun masuk masjid. Entah berapa masjid lagi seperti ini. Tidak diketahui secara pasti apakah aturan ini baik atau tidak. Tapi yang jelas, si Aamiin Boy juga ternyata tak leluasa bisa ikut ayahnya untuk ikut ke masjid walau sedang berada di negeri mayoritas muslim.

#MasjidJugaUntukAnak
#MengenalkanMasjidSejakDini
#MohonMaafLahirBathin
#IndonesiaBerkelanjutan

Diselesaikan di Pekanbaru, 7 Ramadhan 1440 H

Urusan Pasca Kelahiran Anak di Jepang

Selamat kami ucapkan kepada pembaca yang baru saja bergembira dengan kelahiran anak yang dinanti. Semoga tumbuh sehat dan kelak menjadi manusia yang bermanfaat di zamannya. Aamiin. Nah, bagi pasangan suami istri (baca: pasutri) yang melahirkan di Indonesia mungkin urusan pasca kelahiran tidak terlampau susah. Bisa dengan mudah bertanya dengan tetangga ataupun kerabat yang sudah berpengalaman mengurus. Tidak ada kendala baik dari segi bahasa maupun memahami aturan-aturan yang berlaku. Kalaupun susah mungkin terkait dengan birokrasi yang harus dihadapi.

Lain cerita bagi kami ataupun orang lain yang tinggal di negara di luar Indonesia, tidak hanya aturan Indonesia saja yang harus diikuti, aturan negara setempat juga menjadi bagian penting untuk dipatuhi jika tidak mau dideportasi. Mau bertanya kadang juga susah, karena orang Indonesia tinggal di sini berjauhan dan tidak semua sudah berkeluarga dan pengalaman mengurus urusan kelahiran. Tulisan ini mencoba membantu (saya) untuk mengingat hal-hal penting apa saja yang harus diurus setelah melahirkan di Jepang.

Hamzah usia dua hari

Continue reading “Urusan Pasca Kelahiran Anak di Jepang”

Adakah Rindu di Jepang?

Waaah, ini judulnya kok mellow banget yak :). Ya, iya lah, karena negeri ini telah banyak menghasilkan cerita bagi kisah hidup saya (kami), yang tidak semua senang loh, banyak juga kisah dukanya. Belum lagi kalau ingat-ingat cerita nenek tentang kejamnya negara ini kala masa penjajahan dulu. Lepas dari semua itu, negara ini mungkin tak kan lagi menghasilkan cerita-cerita baru di beberapa bulan ke depan, karena saya akhirnya juga harus pulang V^^.

Piknik bersama keluarga

Continue reading “Adakah Rindu di Jepang?”

Terancam Lahir Prematur

Menikah dan kemudian memiliki keturunan adalah impian banyak orang. Tapi sayangnya banyak juga orang yang belum bisa meraih mimpi itu hingga kini dengan berbagai faktor dan alasan. Namun saya tidak dalam rangka membahas faktor dan alasan itu dalam tulisan ini. Hanya doa dan harapan yang bisa saya sampaikan untuk setiap orang yang saat ini sedang berikhtiar meraih dua mimpi itu. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Maha Pemberi.

Tulisan ini berkisah tentang kelahiran putra pertama saya, Harun, yang terancam lahir prematur. Pengertian prematur sendiri merujuk kepada kelahiran pada usia bayi belum sempurna. Biasanya bayi dikatakan lahir normal jika kelahiran terjadi pada usia kehamilan di atas 37 minggu.

Harun yang terus tumbuh besar. Semoga kelak jadi anak sholeh nak. Aamiin

Continue reading “Terancam Lahir Prematur”

Tips Sukses Ujian Praktik SIM C

Setelah sebelumnya saya telah menjelaskan tentang bagaimana panjang dan beratnya birokrasi mengurus SIM C di tulisan ini , berikut saya ulas tentang tips untuk lulus ujian praktik.  Sebagai informasi ujian praktik ini adalah ujian terakhir dari rangkaian persyaratan untuk mendapatkan SIM C, setelah memenuhi persayaratan uji kesehatan, uji psikologis, dan ujian teori berbasis komputer.

Continue reading “Tips Sukses Ujian Praktik SIM C”

Siap Menjadi “Romusha”

Ketika kali pertama menginjakkan kaki di negeri sakura ini, banyak orang yang menanyakan bagaimana kehidupan di sana, asyik ga, bagaimana bisa dapetin beasiswa ke sana, bisa ga ya kerja di sana, dan beragam pertanyaan lainnya. Kala itu saya hanya menjawab seperti apa adanya, sesuai dengan apa yang saya rasakan dan alami. Banyak senangnya dibanding susahnya.

Namun semua itu menjadi berubah ketika telah lama tinggal di sini, banyak hal-hal yang baru yang diketahui, yang akhirnya ditemui. Ternyata tinggal di Jepang itu tidak melulu enak. Eits, jangan langsung menyimpulkan tulisan saya ini ya, sebaiknya dibaca dulu sampai habis.

Sholat saat camping di salah satu pinggir sungai di Tokyo

Continue reading “Siap Menjadi “Romusha””