“Rumah Murah” di Jepang

Waktu tinggal saya di Jepang tidak lama lagi. Rasa-rasanya sangat sedikit sekali pengalaman hidup selama di sini sebagai orang perantauan yang bisa dibagi. Bagaimana tidak hampir 5 tahun hidup di Jepang, sisa-sisa umur dihabiskan di lab (sok rajin mode on).

Nah, dikarenakan semenjak menjelang lulus dengan gelar Doctoral of Philoshopy in Engineering (mak e panjangnya ni gelar), yang lulusnya karena terlalu banyak bersilofi, saya mulai lagi menulis. Semoga bermanfaat. Dan pun lagi kini tulisan-tulisan saya mulai sekarang bisa dinikmati di domain yang lebih jelas (dan tidak alay).

Mungkin sebelum menjelaskan tentang “rumah murah” yang benar-benar murah (catat: untuk di Jepang ya), saya jelaskan dulu tentang sistem sewa rumah di Jepang. Kalau tentang memiliki rumah sendiri, akan ditulis di lain waktu, karena masih sangat minim informasi tentang ini.

Salah satu sketsa kamar danchi

Continue reading ““Rumah Murah” di Jepang”

Mengurus Visa Schengen di Jepang

Pertengahan Mei 2018 yang lalu, saya, istri, dan Harun (anak saya usia 1 tahun 10 bulan) berkesempatan mengunjungi Eropa selama kurang lebih seminggu. Banyak kisah yang kami rasa layak untuk diceritakan, yang semoga, bisa membantu banyak orang ketika melakukan perjalanan serupa. Kali ini kisah yang saya bagi adalah tentang pengurusan Visa Schengen (VS) di Jepang. Mengapa di Jepang? Karena kebetulan kami saat ini tinggal di Jepang, maka pengurusan berdasarkan dimana kita tinggal saat mengurus VS tersebut. Saya rasa prosedur pengurusan VS akan sama di negara mana saja kita tinggal, selama kita memegang passpor Indonesia. *berharap suatu saat Indonesia mendapatkan free VS. Mohon aamiin kan, terlebih saat ini sedang Ramadhan :).

IMG_4576.JPG
Dalam perjelanan dari Frankfurt menuju Brussel

Continue reading “Mengurus Visa Schengen di Jepang”

Catatan perjalanan haji: Saatnya Berangkat ke Saudi (Bagian 4)

Pada tulisan sebelumnya saya telah mengurai tentang niat berhaji dari Jepang, tipsĀ  memilih travel agency, yang sangat penting dalam menjalankan ibadah haji nanti di tanah suci, serta persiapan apa saja yang harus kita lakukan. Nah, kali ini izinkan saya menulis catatan keberangkatan saya hingga tiba di Saudi.

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, walau saya mendaftar dan mengurus visa haji dari Jepang, saya berangkat tidak dari Jepang (baca di sini). Saya memilih berangkat ke Saudi dari Kuala Lumpur, Malaysia. Hal ini dikarenakan kampung halaman saya (Pekanbaru) lebih dekat ke Kuala Lumpur dibanding Jakarta.

Perjalanan saya menuju Saudi dijadwalkan 23 Agustus dini hari, yakni pukul 02.10 Waktu Kuala Lumpur (01.10 WIB) dengan menggunakan Etihad Airways. Saya sengaja memilih penerbangan AirAsia, yang satu-satunya, menuju Kuala Lumpur pukul 17.35 WIB pada 22 Agustus dengan AK438. Setidaknya ada jarak waktu yang cukup jauh untuk bersantai-santai terlebih dahulu menikmati makanan halal di KLIA2 ataupun KLIA, karena perjalanan ke Kuala Lumpur hanya membutuhkan waktu kurang lebih 50 menit. Dari Kuala Lumpur menuju Abu Dhabi dan direncanakan akan mendarat di Jeddah sekitar pukul 15.20 Waktu Jeddah setelah transit di Abu Dhabi sekitar 8 jam. Dalam hati agak tenang, karena rombongan Mian Travel yang berangkat dari Jepang akan tiba pukul 13 an Waktu Jeddah, sehingga nanti bisa kontak-kontakan setibanya di luar bandara Jeddah. Namun semua yang telah direncanakan tersebut penuh dengan kejutan dan perasaan dag dig dug. Maklum, pengalaman pertama dan jauh sebelumnya saya tidak pernah mendapat informasi seperti ini. Semoga catatan perjalanan saya ini bermanfaat bagi siapa saja yang akan melaksanakan ibadah haji, terutama rombongan dari Jepang. Aamiin. Continue reading “Catatan perjalanan haji: Saatnya Berangkat ke Saudi (Bagian 4)”

Catatan perjalanan haji: Persiapan diri dan hati (Bagian 3)

Setelah kita memilih travel agency, yang turut membantu terwujudnya niat kita melaksanakan ibadah haji, ada hal penting lain yang harus kita lakukan, yaitu mempersiapkan diri dan juga hati. Kenapa hati juga penting? Nanti akan saya liatkan contoh real bergunanya menjaga hati sejak dini pada tulisan selanjutnya.

Hal penting yang menjadi perhatian kita dalam mempersiapkan diri ini adalah dalam menghadapi situasi yang cukup ekstrem di Saudi. Hingga 2 tahun ke depan kemungkinan pelaksanaan musim haji berlangsung di musim panas. Bagi yang tidak terbiasa atau tidak suka dengan musim panas di Jepang, maka mulai biasakan lah dan suka lah. Karena panas nya di sana melebihi panasnya saat kita berada di wilayah Indonesia mana pun. Pernah suhu di Makkah mencapai 50 oC. Beneran? Bener. Selain itu juga perlu mempersiapkan diri untuk berbagai keperluan menghadapi situasi serba baru yang boleh dibilang deg deg ssuuurr, terutama bagi yang pertama kali berhaji. Semoga tulisan ini mampu menjadi informasi bagi siapa saja yang ingin berhaji untuk pertama kali. Continue reading “Catatan perjalanan haji: Persiapan diri dan hati (Bagian 3)”

Catatan perjalanan haji: Tips Memilih Travel Agency (Bagian 2)

Alhamdulillah masih diberi kesempatan menulis catatan perjalanan haji lanjutan. Insya Allah pada kesempatan kali ini saya akan mencoba membahas tentang tips memilih travel agency. Saya menyampaikan sesuai dengan pengalaman saya, yang saya rasa cukup penting agar perjalanan haji dari Jepang menjadi lebih nyaman dan menyenangkan šŸ˜Š.

Setidaknya ada tiga travel agency untuk tahun ini yang sudah meluncurkan paket haji tahun 2018, Air1 Travel, Mian Travel, dan HIS Travel. Sebagai informasi, HIS Travel baru memulai mengurus jamaah haji pada tahun lalu. Sementara Air1 Travel dan Mian Travel sudah lama mengurus jamaah haji dan umrah dari Jepang, serta beberapa negara lain seperti Hongkong dan Korea Selatan. Berikut ini saya lampirkan brosur dari ketiga travel tersebut untuk keberangkatan tahun 2018. Continue reading “Catatan perjalanan haji: Tips Memilih Travel Agency (Bagian 2)”

Catatan perjalanan Haji: Dari Jepang ke Tanah Suci (Bagian 1)

Alhamdulillah akhirnya bisa juga menulis, setelah rutinitas 2.5 tahun belakangan ini disibukkan dengan agenda 8 pagi sampai 9 malam di luar rumah. Tulisan iniĀ disempatkan dikerjakanĀ ditulis di saat kepusingan cukup tinggiĀ memikirkan mengerjakan artikel hasil riset selama dua tahun ini untuk segera dipublikasikan. Juga di tengah kesibukan memulai menulis disertasi. Pun juga jualan tiket pesawat serta voucher hotel yang Alhamdulillah Allah lancarkan, sampai-sampai waktu bermain dengan Harun (anak saya) dan bundanya berkurang :).

Well, izinkan saya bercerita tentang perjalanan haji saya dari Jepang. Awal mulanya tak terbesit keinganan untuk berhaji dari Jepang. Terlebih ketika mengetahui informasi tentang biaya Haji dari Jepang pada 2013 silam. Rasa-rasanya dengan kondisi keuangan yang ada, saya tak kan mampu untuk bisa menunaikan rukun Islam yang kelima itu dari Jepang. Nanti saja jika sudah kembali ke Indonesia, pikir saya saat itu. Namun, semua itu berubah ketika almarhum Apak (baca: Bapak) yang akan berangkat Haji pada 2014 yang lalu menitipkan pesan kepada keluarga sebelum tutup usia. ā€œKalau terjadi apa-apa dengan Apak sebelum berangkat, tolong suruh si Ind (saya) yang menggantikan.ā€ Ā Dari sanalah azzam berhaji muncul begitu kuat. Cara cepat untuk memenuhi wasiat itu ya dengan berangkat dari Jepang. Tanpa antri. Bayar tahun itu, berangkat tahun itu juga. ā€œBersegeralah berbuat baik selagi masih ada kesempatan,ā€ Ā pesan almarhumah Mamak (baca: Ibu) ketika masih hidup. Continue reading “Catatan perjalanan Haji: Dari Jepang ke Tanah Suci (Bagian 1)”

Malu(ku) di Jepang

Kurun waktu enam bulan telah saya lalui hidup di sebuah negara yang tak saya sangka-sangka. Benar agaknya kata sebuah buku, kita mengira selama ini yang menentukan rencana adalah diri kita sendiri, keputusan di tangan Tuhan, padahal tidak menurut si empunya buku itu. Rencana pun ternyata berasal dari Tuhan. Lihatlah saya, sedari kecil dulu saya hanya ingin ke Saudi dan Jerman jika kelak diberi kesempatan ke luar negeri. Itulah dua rencana besar saya sejak kecil. Kenyataannya? Saya kini malah berada di sebuah negeri penjajah, negeri yang katanya menjajah Indonesia lebih pedih dibanding penjajah lain. Di sinilah saya. Jepang. Bukan sekali, keberadaan saya di sini, saat ini, adalah kali ketiga. Alamak apa pula ini. Well, lagi-lagi saya hanya bisa bersyukur. Saya kira pasti ada hikmah dibalik ini semua. Pasti. Itu yang selalu saya yakini sedari dulu atas apa yang saya jalani, itu semua telah direncanakan dan ditetapkan Tuhan.

Hidup di sebuah negeri, yang jelas-jelas berbeda dengan ibu pertiwi tentunya bukan perkara gampang, jika tak ingin disebut sulit. Jika dibawa susah, semuanya jelas-jelas susah, mulai dari makan, shalat, hingga perkara tetek bengek lainnya, seperti mandi atau hanya sekedar membuang hajat. Tapi tentunya tak elok jika menyalahkan keadaan, saya tak pernah diajarkan hidup seperti itu oleh emak dan bapak, juga nenek dan etek. So, hingga hari ini saya masih bisa bertahan di Tokyo, kota yang sempat menjadi kota termahal di dunia 2013 silam, walau hanya dengan beasiswa yang tak seberapa. Alhamdulillah. šŸ™‚ Continue reading “Malu(ku) di Jepang”

Siapa Bilang ini Wasir?

Terpisah jauh dari keseharian aktivitas yang biasa kita lakukan tentunya akan membuat rindu yang tak terkira. Apalagi ketika itu terpaut jauh, beda suasana, beda negeri. Jalan satu-satunya pengobat hati ya bercerita dan berdiskusi. Tapi kadang kala kesibukan tak sama, sehingga jarang bersua dengan sesama. Itu semua tak masalah. Toh, masih ada laman ini. Laman yang selalu setia menemani. Hanya si empunya yang kadang terlalu malas untuk singgah.

Hari ini saya ingin berbagi cerita tentang sebuah nama penyakit. Namanya wasir atau ambeyen, yang dalam istilah kedokteran disebutĀ hemorrhoid. Mengapa saya ingin bercerita tentang wasir? Ya, karena tak banyak mereka yang pernah mengalami sakit di organ intim mau bercerita. Karena memang menurut sebagian orang, adanya penyakit di organ intim menandakan orang itu tak bersih. Tak 100% benar. Tapi itu juga yang saya pikir sebelumnya, hingga saya mendapati sebuah penyakit, yang sama, saya kira ini wasir. Tak ada maksud saya ingin membanggakan aib ini, saya hanya berbagi pengalaman yang pernah saya alami, sehingga setidaknya ada sedikit tambahan referensi bagi mereka yang butuh, tentang apa yang disebut wasir.Ā Siapa yang bilang? Continue reading “Siapa Bilang ini Wasir?”

Salju-Salju Kedua

Pagi ini ketika hendak memenuhi janji menghadiri acara upacara minum teh, saya teringat pesan teman Prancis tempo itu. “Bersepeda di jalanan bersalju lebih berisiko dibanding jalan.” Akhirnya saya urungkan niat menggunakan sepeda. Lalu saya pinjamkan raincoat kepada teman China yang nekat mengayuh sepeda ke lokasi acara. Saya memilih jalan sambil menggunakan payung transparan khas Jepang. Lokasinya tak jauh. Sekira 30 menit berjalan kaki untuk mencapai lokasi, di tambah dengan badai salju yang semakin lebat.

Tea Ceremony
Tea Ceremony

Sepanjang jalan saya berpapasan dengan anak-anak sekolah yang baru saja pulang. Juga melihat banyak anak-anak di depan rumah mereka. Berbagai aktivitas dilakukan. Saling lempar bola-bola salju. Bikin boneka salju, hingga hanya sekedar lari-lari di bawah guyuran salju. Semua mereka gembira. Riuh tawa begitu bergemuruh. Saya yang hanya sekelebat lewat pun ikut tertawa dibuatnya. Membayangkan saya menjadi mereka di kala kecil dulu, membayangkan semua aktivitas-akitivitas itu kelak kapan saya lakukan. Kini semua itu ada dihadapan. Saya akan melakukan aktivitas-aktivitas itu serupa saya melakukannya pada salju-salju pertama. Dengan tawa dan canda. Tapi tentu kini tawa dan canda itu tak kan lagi pernah sama. Sebab ada duka di dalamnya.

maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan..

Tokyo di tengah guyuran salju, 8 Rabi’ul Akhir 1435 H.

Celana 2000 Yen

Sebagian kawan mungkin bertanya, apa lagi ini? Hmm, entahlah. Mungkin saya rindu dengan bangsa tercinta. Saya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk belajar, yang mungkin hanya untuk kepentingan pribadi, sehingga terlalu lama bisa belajar mencintai negeri. Tapi setidaknya saya selalu mencari cara untuk mencintai bangsa, walau hal itu sangat sulit dilakukan. Mengapa?

Kawan lihatlah bangsa kita kini. Apa yang kawan lihat? Apa yang kawan rasakan? Samakah dengan yang saya lihat? Samakah dengan yang saya rasakan? Atau sama sekali tak terlihat? Atau sama sekali tak terasa apa pun? Kalau dua terakhir ini yang kawan alami, hmm, saya benar-benar tak mengerti mengapa bisa terjadi. Tapi di hati kecil saya bertanya, ā€œmungkinkah ibu pertiwi telah gagal mendidik putra-putri penerus?ā€

Sumber: Internet
Sumber: Internet

Continue reading “Celana 2000 Yen”