Jangan Berpikir Dua Kali

Semenjak kejadian pernah total belanjaan saya dimanipulasi di salah satu supermarket besar, saya yang sesekali masih suka belanja di supermarket besar (terutama saat terik panas ataupun mendesak yang tidak ada di warung) menjadi lebih teliti.
Jika beberapa waktu yang lalu, harusnya beli minuman 3 gratis 1, tapi ternyata 1-nya tetap berbayar, nah hari ini ada selisih harga sekitar 400 rupiah. Lagi-lagi beli minuman. Jadi pas asap dan panas gini, minuman-minuman dekat kasir itu selalu menarik. Yang belum tahu, di Pekanbaru sejak akhir Juli kembali dilanda asap dari pembakaran hutan hingga hari ini. Jarak pandang hari ini sekitar 200 m.
Deretan minuman seger. Sumber: Kontan

Continue reading “Jangan Berpikir Dua Kali”

Uang Kami Bisa Membeli

Semakin ke sini hidup semakin mudah. Teknologi terkini digadang gadang mampu memenuhi tuntutan kebutuhan yang terus bertambah. Bayangkan saja hanya bermodalkan sentuhan di layar smartphone (dan tentunya paket data dan saldo di aplikasi), makanan datang terhidang. Pun begitu dengan bepergian, bisa pergi dan pulang tanpa perlu antre bis apalagi angkot yang sebagian besar sudah berumur. Intinya hidup menjadi dipermudah. Jadi tak salah jika ada anggapan, jika uang ada, maka semua bisa dibeli. Apa pun itu. Iya apa pun itu. Hidup menjadi nyaman tanpa beban.

Ilutsrasi lokasi perbelanjaan tradisional di sudut Tokyo

Continue reading “Uang Kami Bisa Membeli”

Menikmati Birokrasi

Here We are. Yup di Indonesia. Negara yang menjadi identitas kewarganegaraan saya (kami) saat ini. Juga sebagai negara tempat saya belajar banyak hal sebagai manusia. Beruntunglah saya bisa mengenal Indonesia, sebagai suatu negara. Namunnn, kadang banyak ulah oknum-oknum yang membuat Indonesia menjadi terasa tidak nyaman dan tidak tentram.  Saya tidak perlu repot-repot menyebut satu per satu, karena  bisa merasakan sendiri. Namun dari semua itu, menghadapi birokrasi adalah satu dari sekian banyak yang harus dilalui agar bisa survive di Indonesia, di negara saya sendiri :).

Alhamdulillah sudah nambah 1 lagi yang akan menikmati birokrasi

Continue reading “Menikmati Birokrasi”

Balada Si Aamiin Boy

Dulu, sewaktu masih di Tokyo, Harun seringkali ikut sholat jumat di kampus bersama saya. Harun bisa duduk tenang di pangkuan ayah nya saat tidak ada teman bermain, tapi sekalinya ada teman bermain, ribut pula, Harun pun ikut tereksitasi — aka energinya meningkat (hmm, maksudnya bakat terpendam ributnya keluar). Ini menjadi salah satu alasan saya tidak melaksanakan sholat di masjid ketika mengharuskan menjaga Harun, selain memang lokasi ke masjid relatif lebih jauh ketimbang ruang sholat jumat di kampus. Saya kadang-kadang merasa tidak enak dengan jamaah lain yang tidak suka dengan anak yang ribut di masjid. Bahkan ada beberapa masjid menuliskan anak-anak di bawah 5 tahun dibawa masuk masjid. Awalnya berusaha memaklumi lantaran memang orang-orang Muslim ini mungkin telah terjangkit stress nya orang Jepang yang cukup tinggi.

Sakura Terakhir Harun di 2019

Tapi cerita berbeda ketika jumatan di ruang sholat kampus, karena saling kenal, kita pun sudah paham. Alhamdulillah belum pernah ada nada protes dari jamaah yang kebanyakan mahasiswa terhadap tingkah polah Harun, salah satunya adalah mengucapkan Aamiin setelah Al-Fatihah sebelum waktunya. Sampai ia diberi gelar si Aamiin Boy. Entah siapa yang memulai, tapi gelar itu melekat hingga saat terakhir kali saya akan pamit dengan jamaah sholat jumat kampus. Sebelumnya, Harun seringkali dikangeni para jamaah ketika ia tidak lagi diajak jumatan oleh Ayahnya karena boncengan sepedanya sudah dijual.

Dikira, di Indonesia, yang orang-orangnya ramah-ramah, tak kan pernah ada aturan-aturan seperti beberapa masjid di Jepang. Tapi apa dinaya, ternyata satu masjid dekat rumah tidak membolehkan anak-anak di bawah 5 tahun masuk masjid. Entah berapa masjid lagi seperti ini. Tidak diketahui secara pasti apakah aturan ini baik atau tidak. Tapi yang jelas, si Aamiin Boy juga ternyata tak leluasa bisa ikut ayahnya untuk ikut ke masjid walau sedang berada di negeri mayoritas muslim.

#MasjidJugaUntukAnak
#MengenalkanMasjidSejakDini
#MohonMaafLahirBathin
#IndonesiaBerkelanjutan

Diselesaikan di Pekanbaru, 7 Ramadhan 1440 H

Adakah Rindu di Jepang?

Waaah, ini judulnya kok mellow banget yak :). Ya, iya lah, karena negeri ini telah banyak menghasilkan cerita bagi kisah hidup saya (kami), yang tidak semua senang loh, banyak juga kisah dukanya. Belum lagi kalau ingat-ingat cerita nenek tentang kejamnya negara ini kala masa penjajahan dulu. Lepas dari semua itu, negara ini mungkin tak kan lagi menghasilkan cerita-cerita baru di beberapa bulan ke depan, karena saya akhirnya juga harus pulang V^^.

Piknik bersama keluarga

Continue reading “Adakah Rindu di Jepang?”

Lagi. Sejarah Itu Terulang

Di tengah malam di negeri asing ini, negeri yang sama seperti pada sore menjelang magrib 21 Januari 2013, saya (lagi) mendapatkan sebuah berita tentang kematian. Apak telah berpulang ke rahmatullah. 4 jam pertama setelah mendapatkan kabar kali pertama dari isteri yang masih di Indonesia, isi kepala saya berkutat tentang bagaimana saya bisa pulang dan sampai di rumah sebelum Zuhur, besok. Menelepon kesana kemari. “Kalau lewat ashar baru sampai di rumah besok, ga usah saja pulang,” pesan tegas abang kandung di seberang sana. Pesan yang sama seperti yang ia sampaikan ketika Amak berpulang.
Namun, kenyataan ini harus diterima. Saya tak bisa pulang semudah itu. Lagi. Saya harus menerima kenyataan, sejarah yang terulang. Saya masih ingat ketika sehari sebelum berangkat ke Jepang, di awal musim dingin 2013, Amak menelpon dan melepas kepergian saya, padahal sebelumnya kondisi beliau sempat drop dan dirawat hampir seminggu di rumah sakit. “Amak sehat In. Pailah ka Japang tu. Belajar yang rajin di sinan. Beko pas pulang Amak nio danga dari waang baa bantuak salju tu,” Itu yang Amak katakan sambil diakhiri dengan tawa kecilnya yang khas. Pada saat itu. Ya, saat itu. Saya merasa tenang. Begitu pula ketika akan berangkat dua hari yang lalu, ke negeri yang sama, di tengah kondisi Apak setengah sadar, banyak tetamu yang datang memberi dukungan, kisah tentang orang-orang yang tak sadarkan diri selama berbulan-bulan dan akhirnya sembuh pun diutarakan. Berbekal optimisme akan kesembuhan Apak yang membuncah, saya pun pergi dengan hati yang lapang.
Sayang. Ternyata itu hanya kalimat penenang yang efeknya tak bertahan lama. Ada rasa bersalah yang tak tertahan dalam hati ketika dalam kondisi ini saya tak bisa mengambil keputusan dari tangan sendiri. Ah sudahlah, saya tak mau menyalahkan kondisi. Walau begitu hingga saat ini saya masih mencoba menangkap makna tentang semua ini. Mungkinkah saya durhaka dengan orang tua sehingga saya tak dibiarkan melepas kepergian mereka, walau hanya dengan melihat tubuh yang telah dibalut kain kafan? Apakah mungkin pemberian maaf yang selalu saya minta setiap hari itu tak sepenuhnya mereka berikan, lantaran dosa-dosa saya kepada mereka terlampau banyak? Ah, entahlah. Kalau saja istri tidak menghentikan dugaan-dugaan saya akan makna yang sayang tangkap dari semua ini, mungkin saya akan terus menyalahkan diri yang hina ini, anak yang belum tahu cara membalas budi orang tua.
Nasi telah menjadi bubur. Apak kini telah tiada. Hanya kepada Allah saya berserah diri dan mohon ampunan ketika perlakuan yang saya berikan selama ini ternyata tak menyenangkan hati beliau. Walau begitu, saya tak berhenti menangkap hikmah dibalik semua rentetan peristiwa menjelang kematian Apak. Saya hanya bisa berdoa semoga dugaan-dugaan sebelumnya hanya sebatas prasangka saja, karena saya selalu ingin menjadi anak yang shaleh, anak yang bisa memberikan syafaat bagi orang tuanya. Aamiin allahumma aamiin.
Kepada Bapak/Ibu/Saudara dan kerabat yang hadir nanti (Selasa) dan ikut menyelenggarakan jenazah, saya mohon maaf karena kita tak dapat bersua. Saya juga mohon maaf jika selama hidupnya Apak pernah menyakiti baik dari ucapan, perbuatan, atau hanya sekadar sindirin. Mohon juga doa dari semua untuk Apak yang telah terlebih dahulu pulang ke rahmatullah.
Apak. Selamat jalan. Anakmu kini (kembali) belajar ikhlas. Semoga dosa-dosa saya (serta abang dan kakak) selama ini telah engkau maafkan dan saya (serta abang dan kakak) bukanlah termasuk anak-anak durhaka. Semoga Apak diringankan azab kubur. Aamiin ya rabbal’alamiin.

IMG_2036

Tokyo menjelang Adzan subuh, 23 Syawal 1435 H.

Bermimpilah Kawan

Malam ini, sama-sama seperti malam-malam beberapa hari yang lalu. Aku hanya bisa menahan tangis ketika mengingat wajah Emak. Wajah, yang tak pernah kubayangkan akan tak bisa lagi melihatnya. Keriput kulitnya, ompong giginya, apapun yang jelek bagi orang lain melihatnya, aku selalu tak pernah menghiraukan. Ia Emakku. Perasaan sedihnya karena tak pernah membersemaiku sejak kecil, pun tak pernah kuhiraukan. Aku tak pernah berharap Emak menyesali semua itu, karena aku tahu bahwa kondisinya tak memungkinkan bagiku untuk bermanja-manja. Aku selalu sedih ketika melihatnya sedih bercerita tentang sedihnya dia karena membiarkanku mandiri terlalu dini. Aku akan selalu mengalihkan topik, karena aku memang berusaha membuat ia tidak sedih. Ah, mak, semoga emak tetap bisa mendengar ceritaku dan tak pernah bosan, seperti aku yang tak pernah bosan mendengar cerita emak. Masih ingat dua bulan yang lalu, waktu emak bercerita tentang kampung halaman, yang entah untuk kesekian kalinya cerita itu diulang, tapi aku tetap selalu senang. Emak selalu semangat bercerita tentang kampung. Ah,kawan, itu lah emakku. Walau tak tamat SD, ia punya banyak cerita. Semoga suatu saat nanti, kita bisa bercerita kembali, seperti kala itu mak. Aku akan selalu merindukan waktu itu.

Continue reading “Bermimpilah Kawan”

Surat Untuk Emak

Mak, saya tahu emak hanya lulusan SD yang tak paham dengan teknologi. Walau begitu izinkan saya menulis surat ini mak. Saya rasa hanya ini cara satu-satunya saya ingin bercerita padamu mak. Saya tahu mak suka cerita, itu pula yang mak turunkan ke saya. Izinkan saya bercerita mak tentang gugupnya saya saat ini ketika engkau telah tiada mak.

Suhu di luar jendela kamar ini bisa saya prediksi minus belasan. Sudah tentu dingin mak. Tapi saya dinginmu tak terukur kini yang kau rasakan, di sanalah saya ingin memegang tanganmu agar terasa hangat. Saya berusaha untuk bangun mak ketika mendapat kabar kepergianmu. Tapi ternyata infomasi itu benar-benar nyata mak. Padahal mak, senja tadi (sekitar jam 3 sore di Pekanbaru) saya sedang membayangkan wajahmu yang sedang mengenakan jaket yang akan saya beli sebagaimana janji yang pernah saya utarakan kepadamu jauh sebelum keberangkatan ke sini. Begitu juga ekspresi ketika menerima tas yang saya belikan di sini. Ya, saya rasa emak pasti akan senang. Saya teringat perkataan mak di telepon dulu sebelum saya berangkat, “jangan ragu-ragu mau berangkat. Berangkat saja, insyaallah mak akan masih sehat sampai nanti pulang,” Ah begitu tenangnya hati saya mak, ketika engkau bilang itu. Saya rasa, optimisme mu masih belum hilang mak walau sudah 20 tahun engkau tak kuat berjalan.

Continue reading “Surat Untuk Emak”