Menikmati Birokrasi

Here We are. Yup di Indonesia. Negara yang menjadi identitas kewarganegaraan saya (kami) saat ini. Juga sebagai negara tempat saya belajar banyak hal sebagai manusia. Beruntunglah saya bisa mengenal Indonesia, sebagai suatu negara. Namunnn, kadang banyak ulah oknum-oknum yang membuat Indonesia menjadi terasa tidak nyaman dan tidak tentram.  Saya tidak perlu repot-repot menyebut satu per satu, karena  bisa merasakan sendiri. Namun dari semua itu, menghadapi birokrasi adalah satu dari sekian banyak yang harus dilalui agar bisa survive di Indonesia, di negara saya sendiri :).

Alhamdulillah sudah nambah 1 lagi yang akan menikmati birokrasi

Continue reading “Menikmati Birokrasi”

Balada Si Aamiin Boy

Dulu, sewaktu masih di Tokyo, Harun seringkali ikut sholat jumat di kampus bersama saya. Harun bisa duduk tenang di pangkuan ayah nya saat tidak ada teman bermain, tapi sekalinya ada teman bermain, ribut pula, Harun pun ikut tereksitasi — aka energinya meningkat (hmm, maksudnya bakat terpendam ributnya keluar). Ini menjadi salah satu alasan saya tidak melaksanakan sholat di masjid ketika mengharuskan menjaga Harun, selain memang lokasi ke masjid relatif lebih jauh ketimbang ruang sholat jumat di kampus. Saya kadang-kadang merasa tidak enak dengan jamaah lain yang tidak suka dengan anak yang ribut di masjid. Bahkan ada beberapa masjid menuliskan anak-anak di bawah 5 tahun dibawa masuk masjid. Awalnya berusaha memaklumi lantaran memang orang-orang Muslim ini mungkin telah terjangkit stress nya orang Jepang yang cukup tinggi.

Sakura Terakhir Harun di 2019

Tapi cerita berbeda ketika jumatan di ruang sholat kampus, karena saling kenal, kita pun sudah paham. Alhamdulillah belum pernah ada nada protes dari jamaah yang kebanyakan mahasiswa terhadap tingkah polah Harun, salah satunya adalah mengucapkan Aamiin setelah Al-Fatihah sebelum waktunya. Sampai ia diberi gelar si Aamiin Boy. Entah siapa yang memulai, tapi gelar itu melekat hingga saat terakhir kali saya akan pamit dengan jamaah sholat jumat kampus. Sebelumnya, Harun seringkali dikangeni para jamaah ketika ia tidak lagi diajak jumatan oleh Ayahnya karena boncengan sepedanya sudah dijual.

Dikira, di Indonesia, yang orang-orangnya ramah-ramah, tak kan pernah ada aturan-aturan seperti beberapa masjid di Jepang. Tapi apa dinaya, ternyata satu masjid dekat rumah tidak membolehkan anak-anak di bawah 5 tahun masuk masjid. Entah berapa masjid lagi seperti ini. Tidak diketahui secara pasti apakah aturan ini baik atau tidak. Tapi yang jelas, si Aamiin Boy juga ternyata tak leluasa bisa ikut ayahnya untuk ikut ke masjid walau sedang berada di negeri mayoritas muslim.

#MasjidJugaUntukAnak
#MengenalkanMasjidSejakDini
#MohonMaafLahirBathin
#IndonesiaBerkelanjutan

Diselesaikan di Pekanbaru, 7 Ramadhan 1440 H

Adakah Rindu di Jepang?

Waaah, ini judulnya kok mellow banget yak :). Ya, iya lah, karena negeri ini telah banyak menghasilkan cerita bagi kisah hidup saya (kami), yang tidak semua senang loh, banyak juga kisah dukanya. Belum lagi kalau ingat-ingat cerita nenek tentang kejamnya negara ini kala masa penjajahan dulu. Lepas dari semua itu, negara ini mungkin tak kan lagi menghasilkan cerita-cerita baru di beberapa bulan ke depan, karena saya akhirnya juga harus pulang V^^.

Piknik bersama keluarga

Continue reading “Adakah Rindu di Jepang?”

Yang Akan Berlalu Itu Bukanlah Sebuah Badai (2)

Suara decitan rel kereta api membangunkan saya, yang entah sudah berapa lama tertidur dalam gerbong kereta nomor 4. Inilah kali pertama saya bisa menikmati udara bebas setelah bisa keluar dari… “Penjara VVIP”. Iya penjara VVIP agaknya pas saya sematkan untuk merujuk tempat itu, tempat saya menghabiskan waktu berminggu-minggu tanpa bisa keluar sama sekali. Sebuah kamar di salah satu rumah sakit Pemerintah Metropolitan Tokyo. (Lagi) kesabaran saya dan istri diuji, entah untuk kali ke berapa.

Suasana
Suasana “Penjara” VVIP

Continue reading “Yang Akan Berlalu Itu Bukanlah Sebuah Badai (2)”

Yang Akan Berlalu Itu Bukanlah Sebuah Badai (1)

Teringat kisah awal Maret tahun lalu, ketika saya bertelpon dengan Apak mengenai rencana akan pulang ke Pekanbaru akhir Juli untuk berjumpa beliau sebelum keberangkatannya ke tanah suci. Di sinilah mula cerita itu berawal. Si Bapak melarang saya untuk pulang. Menurutnya buang uang saja jika hanya mau bertemu beliau, kan masih bisa jumpa pas program selesai dan dia sudah pulang dari tanah suci, tambahnya lagi. Tapi saya tetap saja ngotot mau pulang. Saya tak mau kejadian itu terulang. Harga perjumpaan itu memang mahal. Dengan penjelasan saya, serta penjabaran tentang sejumlah Yen yang bisa saya hemat dari uang beasiswa, membuat Apak tak lagi berang. Saya akhirnya bisa pulang. Tiket Vietnam Airlines yang sedang promo kala itu pun saya beli, dari Tokyo 19 Juli, kembali ke Tokyo 4 Agustus.

Maret hampir berakhir, namun cerita masih terus berlanjut. Dosen yang menjadi supervisor saya di kampus sini terus menawarkan untuk melanjutkan studi S3 di lab nya dan ini terus berlangsung dari akhir 2013. Saya mencoba berdiskusi dengan teman-teman di Indonesia dan senior di Jepang, rerata mereka mendukung saya untuk menerima tawaran itu. Saya pun kembali berpikir tentang tawaran ini, rencana awalnya selesai program Oktober 2014, saya akan langsung pulang ke Indonesia, menamatkan S2 di UGM, dan segera menikah. Setelah memikirkan dengan matang, meminta petunjuk kepada yang kuasa, serta mempertimbangkan saran rekan-rekan yang telah berpengalaman, saya putuskan untuk menyambung S3, walaupun ini masih 50:50, karena tangan saya sudah sangat gatal ingin segera kembali mengambil bagian dalam memajukan bangsa. Tapi ya sudahlah, dijalani saja dulu, pikir saya.Proses Aqad Nikah

Continue reading “Yang Akan Berlalu Itu Bukanlah Sebuah Badai (1)”

Lagi. Sejarah Itu Terulang

Di tengah malam di negeri asing ini, negeri yang sama seperti pada sore menjelang magrib 21 Januari 2013, saya (lagi) mendapatkan sebuah berita tentang kematian. Apak telah berpulang ke rahmatullah. 4 jam pertama setelah mendapatkan kabar kali pertama dari isteri yang masih di Indonesia, isi kepala saya berkutat tentang bagaimana saya bisa pulang dan sampai di rumah sebelum Zuhur, besok. Menelepon kesana kemari. “Kalau lewat ashar baru sampai di rumah besok, ga usah saja pulang,” pesan tegas abang kandung di seberang sana. Pesan yang sama seperti yang ia sampaikan ketika Amak berpulang.
Namun, kenyataan ini harus diterima. Saya tak bisa pulang semudah itu. Lagi. Saya harus menerima kenyataan, sejarah yang terulang. Saya masih ingat ketika sehari sebelum berangkat ke Jepang, di awal musim dingin 2013, Amak menelpon dan melepas kepergian saya, padahal sebelumnya kondisi beliau sempat drop dan dirawat hampir seminggu di rumah sakit. “Amak sehat In. Pailah ka Japang tu. Belajar yang rajin di sinan. Beko pas pulang Amak nio danga dari waang baa bantuak salju tu,” Itu yang Amak katakan sambil diakhiri dengan tawa kecilnya yang khas. Pada saat itu. Ya, saat itu. Saya merasa tenang. Begitu pula ketika akan berangkat dua hari yang lalu, ke negeri yang sama, di tengah kondisi Apak setengah sadar, banyak tetamu yang datang memberi dukungan, kisah tentang orang-orang yang tak sadarkan diri selama berbulan-bulan dan akhirnya sembuh pun diutarakan. Berbekal optimisme akan kesembuhan Apak yang membuncah, saya pun pergi dengan hati yang lapang.
Sayang. Ternyata itu hanya kalimat penenang yang efeknya tak bertahan lama. Ada rasa bersalah yang tak tertahan dalam hati ketika dalam kondisi ini saya tak bisa mengambil keputusan dari tangan sendiri. Ah sudahlah, saya tak mau menyalahkan kondisi. Walau begitu hingga saat ini saya masih mencoba menangkap makna tentang semua ini. Mungkinkah saya durhaka dengan orang tua sehingga saya tak dibiarkan melepas kepergian mereka, walau hanya dengan melihat tubuh yang telah dibalut kain kafan? Apakah mungkin pemberian maaf yang selalu saya minta setiap hari itu tak sepenuhnya mereka berikan, lantaran dosa-dosa saya kepada mereka terlampau banyak? Ah, entahlah. Kalau saja istri tidak menghentikan dugaan-dugaan saya akan makna yang sayang tangkap dari semua ini, mungkin saya akan terus menyalahkan diri yang hina ini, anak yang belum tahu cara membalas budi orang tua.
Nasi telah menjadi bubur. Apak kini telah tiada. Hanya kepada Allah saya berserah diri dan mohon ampunan ketika perlakuan yang saya berikan selama ini ternyata tak menyenangkan hati beliau. Walau begitu, saya tak berhenti menangkap hikmah dibalik semua rentetan peristiwa menjelang kematian Apak. Saya hanya bisa berdoa semoga dugaan-dugaan sebelumnya hanya sebatas prasangka saja, karena saya selalu ingin menjadi anak yang shaleh, anak yang bisa memberikan syafaat bagi orang tuanya. Aamiin allahumma aamiin.
Kepada Bapak/Ibu/Saudara dan kerabat yang hadir nanti (Selasa) dan ikut menyelenggarakan jenazah, saya mohon maaf karena kita tak dapat bersua. Saya juga mohon maaf jika selama hidupnya Apak pernah menyakiti baik dari ucapan, perbuatan, atau hanya sekadar sindirin. Mohon juga doa dari semua untuk Apak yang telah terlebih dahulu pulang ke rahmatullah.
Apak. Selamat jalan. Anakmu kini (kembali) belajar ikhlas. Semoga dosa-dosa saya (serta abang dan kakak) selama ini telah engkau maafkan dan saya (serta abang dan kakak) bukanlah termasuk anak-anak durhaka. Semoga Apak diringankan azab kubur. Aamiin ya rabbal’alamiin.

IMG_2036

Tokyo menjelang Adzan subuh, 23 Syawal 1435 H.

Dilema Perut Buncit

Tulisan ini saya sampaikan bukan sebagai kampanye #SaveBuncit atau ingin membela hak orang-orang buncit yang sering terabaikan. Juga bukan bermaksud ingin membenarkan bahwa perut buncit lebih bagus dibanding perut rata atau perut kotak-kotak acap kali jadi kebanggan tersendiri bagi si empunya. Tidak sama sekali. Tulisan ini hanyalah sebuah opini dari saya, yang mencoba mengupas secara singkat berbagai fenomena-fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kenapa jadi serius begini? 🙂

Well, sebenarnya saya hanya kaget ketika saya mengenalkan calon legislatif pilihan saya *maaf* tidak kurus dan perutnya agak buncit (baca: besar V^^). Karena beliau berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), saya kira kemungkinan banyak yang tidak suka akan membahas mengenai asal partai caleg ini, tersebab pencitraan jelek yang dilakukan media benar-benar berhasil. Tapi toh untuk hal ini saya mempunyai jawaban, karena saya suka partai ini juga berawal dari ketidaksukaan, jawaban-jawaban yang saya punya itu yang akhirnya membuat saya suka dan percaya bahwa partai ini harus dipilih pada Pemilu 2014.  Continue reading “Dilema Perut Buncit”

Siapa Bilang ini Wasir?

Terpisah jauh dari keseharian aktivitas yang biasa kita lakukan tentunya akan membuat rindu yang tak terkira. Apalagi ketika itu terpaut jauh, beda suasana, beda negeri. Jalan satu-satunya pengobat hati ya bercerita dan berdiskusi. Tapi kadang kala kesibukan tak sama, sehingga jarang bersua dengan sesama. Itu semua tak masalah. Toh, masih ada laman ini. Laman yang selalu setia menemani. Hanya si empunya yang kadang terlalu malas untuk singgah.

Hari ini saya ingin berbagi cerita tentang sebuah nama penyakit. Namanya wasir atau ambeyen, yang dalam istilah kedokteran disebut hemorrhoid. Mengapa saya ingin bercerita tentang wasir? Ya, karena tak banyak mereka yang pernah mengalami sakit di organ intim mau bercerita. Karena memang menurut sebagian orang, adanya penyakit di organ intim menandakan orang itu tak bersih. Tak 100% benar. Tapi itu juga yang saya pikir sebelumnya, hingga saya mendapati sebuah penyakit, yang sama, saya kira ini wasir. Tak ada maksud saya ingin membanggakan aib ini, saya hanya berbagi pengalaman yang pernah saya alami, sehingga setidaknya ada sedikit tambahan referensi bagi mereka yang butuh, tentang apa yang disebut wasir. Siapa yang bilang? Continue reading “Siapa Bilang ini Wasir?”