Bermimpilah Kawan

Malam ini, sama-sama seperti malam-malam beberapa hari yang lalu. Aku hanya bisa menahan tangis ketika mengingat wajah Emak. Wajah, yang tak pernah kubayangkan akan tak bisa lagi melihatnya. Keriput kulitnya, ompong giginya, apapun yang jelek bagi orang lain melihatnya, aku selalu tak pernah menghiraukan. Ia Emakku. Perasaan sedihnya karena tak pernah membersemaiku sejak kecil, pun tak pernah kuhiraukan. Aku tak pernah berharap Emak menyesali semua itu, karena aku tahu bahwa kondisinya tak memungkinkan bagiku untuk bermanja-manja. Aku selalu sedih ketika melihatnya sedih bercerita tentang sedihnya dia karena membiarkanku mandiri terlalu dini. Aku akan selalu mengalihkan topik, karena aku memang berusaha membuat ia tidak sedih. Ah, mak, semoga emak tetap bisa mendengar ceritaku dan tak pernah bosan, seperti aku yang tak pernah bosan mendengar cerita emak. Masih ingat dua bulan yang lalu, waktu emak bercerita tentang kampung halaman, yang entah untuk kesekian kalinya cerita itu diulang, tapi aku tetap selalu senang. Emak selalu semangat bercerita tentang kampung. Ah,kawan, itu lah emakku. Walau tak tamat SD, ia punya banyak cerita. Semoga suatu saat nanti, kita bisa bercerita kembali, seperti kala itu mak. Aku akan selalu merindukan waktu itu.

Continue reading “Bermimpilah Kawan”

Surat Untuk Emak

Mak, saya tahu emak hanya lulusan SD yang tak paham dengan teknologi. Walau begitu izinkan saya menulis surat ini mak. Saya rasa hanya ini cara satu-satunya saya ingin bercerita padamu mak. Saya tahu mak suka cerita, itu pula yang mak turunkan ke saya. Izinkan saya bercerita mak tentang gugupnya saya saat ini ketika engkau telah tiada mak.

Suhu di luar jendela kamar ini bisa saya prediksi minus belasan. Sudah tentu dingin mak. Tapi saya dinginmu tak terukur kini yang kau rasakan, di sanalah saya ingin memegang tanganmu agar terasa hangat. Saya berusaha untuk bangun mak ketika mendapat kabar kepergianmu. Tapi ternyata infomasi itu benar-benar nyata mak. Padahal mak, senja tadi (sekitar jam 3 sore di Pekanbaru) saya sedang membayangkan wajahmu yang sedang mengenakan jaket yang akan saya beli sebagaimana janji yang pernah saya utarakan kepadamu jauh sebelum keberangkatan ke sini. Begitu juga ekspresi ketika menerima tas yang saya belikan di sini. Ya, saya rasa emak pasti akan senang. Saya teringat perkataan mak di telepon dulu sebelum saya berangkat, “jangan ragu-ragu mau berangkat. Berangkat saja, insyaallah mak akan masih sehat sampai nanti pulang,” Ah begitu tenangnya hati saya mak, ketika engkau bilang itu. Saya rasa, optimisme mu masih belum hilang mak walau sudah 20 tahun engkau tak kuat berjalan.

Continue reading “Surat Untuk Emak”

Refleksi Akhir 2012

Sebenarnya saya akan menuliskan tulisan refleksi diri ini sejatinya pada penghujung 1429 H, namun karena pada saat itu kondisi saya tidak memungkinkan untuk menulis, maka saat ini saya bisa sekedar berbagi tentang refleksi diri saya di 2012 ini. Tulisan ini bukan ingin menunjukkan siapa saya, tidak juga ingin mempertegas keangkuahan seperti yang dipikirikan oleh sebagian kawan, juga bukan sebagai ajang gagah-gagahan, melainkan hanya sekedar berbagi tentang pengalaman saya, yang semoga saja setidaknya ini juga menjadi pelajaran kita bersama dan juga menjadi pengingat bagi saya untuk selalu meng-upgrade diri agar menjadi pribadi muslim yang lebih bermanfaat lagi. Kapan pun dan dimana pun, kita harus tetap semangat, karena ujian pasti ada.

2012 bagi saya adalah momen yang terasa agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini yang kemudian membuat saya memulai kehidupan baru di Yogyakarta sebagai mahasiswa salah satu universitas negeri di sana. Tidak banyak yang dapat saya lakukan selama di Yogyakarta, karena situasi dan kondisinya berbeda dengan Pekanbaru, dan saya harus kembali beradaptasi. Tapi setidaknya saya bisa sedikit berbagi dan banyak berdiskusi dalam sebuah organisasi di sana, Himpunan Mahasiswa Pascasarjana. Di sini pula saya mengenal sosok hebat mahasiswa-mahasiswa dari berbagai penjuru di negeri ini. Begitu pula, ketika memulai hidup kos-kos an dengan uang serba bercukupan, semakin terasa lah sebagai anak perantauan yang sedang haus dan lapar hanya ingin mencari ilmu, berkumpul pula dengan kawan-kawan dari beragam latar belakang. Berbagai cerita dan pengalaman kawan-kawan itu, semakin menyalakan api semangat saya agar semakin bermanfaat bagi negeri ini.

Continue reading “Refleksi Akhir 2012”

Itulah Indonesia!

Menjadi mahasiswa bukanlah perkara mudah kawan. Harus membuka buku, belajar, dan kemudian menghadapi ujian. Tapi… di sini lah letak tantangannya kawan. Menjadi mahasiswa saya belajar banyak hal. Saya mulai mengerti mengarungi “universitas kehidupan” juga dari menjadi mahasiswa. Jadi apa setelah mahasiswa tidak perlu dikhawatirkan. Toh, semua sudah diatur. Kamu hanya perlu berusaha, berdoa, lalu bersabar. Tidak ada manusia yang disia-siakan oleh sang khalik selama memang manusia itu pantas untuk ditolong. Tapi… Ternyata ada juga tapinya kawan. Tapi di sini, saya kira kita harus berusaha, berdoa, dan bersabar berkali-kali lipat. Apa pula pasalnya? Jawabnya karena kita tinggal di Indonesia.

Beberapa bulan silam sebelum saya kembali menjadi mahasiswa di sini (UGM, red) saya harus mendengarkan omelan Bapak terhadap pelaksanaan e-KTP. Warga dibagi berdasarkan kelurahan untuk datang merekam data e-KTP. Jam 8 pagi saya pun sudah tiba di sana dengan Bapak untuk segera merekam. Jam 8 yang biasanya sepi, bahkan kadang petugas kecamatan saja belum datang, saat itu ramai sesak. Setengah hari sudah, tetapi antrian tetap tidak berkurang, bahkan bertambah banyak. Berbagai saran yang diberikan warga untuk mempermudah pelaksanaan perekaman tak digubris. Alhasil dalam satu minggu itu dihabiskan warga untuk melakukan perekaman. Bapak saya yang darah tinggi tentu saja marah-marah. Lalu selesai marah, saya tanyakan ke Bapak, “Sudah marahnya? Bapak marah ke siapa? Pegawai ini?” Ya, kepada siapa kita mau marah? Pegawai hanya menurut pada atasannya. Atasannya hanya menurut pada kepala dinas, dan kepala dinas hanya tunduk kepada kepala daerahnya. Jadi percuma saja membuang-buang energi untuk marah-marah, karena kita tinggal di Indonesia.

Continue reading “Itulah Indonesia!”

Jepang, Oh Jepang (Jilid 2)

Hawa dingin begitu menusuk pagi itu. Saya pun terbangun karena kedinginan. Saya melirik jam tangan yang berada di sisi telinga saya. Masih pukul 4 pagi. Hmm, saya berencana akan berangkat tidur kembali, karena yang kawan-kawan lain juga masih terlelap, mungkin juga sedang ditaburi mimpi. Tapi entah kenapa, mata saya menangkap cahaya terang dibalik fentilasi udara. Saya tersentak kaget, saya saat itu bukan berada di Indonesia, lebih tepatnya Pekanbaru, melainkan di Kyoto, Jepang. Waktu di Jepang lebih cepat 2 jam dibanding Indonesia bagian barat. Artinya saat ini waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi. Dengan tergopoh-gopoh saya menuju toilet untuk mengambil air wudhu, setelah itu membangunkan yang lain dan segera menyelasaikan kewajiban shalat subuh berjamaah. Fiuh, awal yang kurang bagus memang.

Usai shalat dan menyiapkan sarapan seadanya, yang saya sebut menu luar negeri (Pop Mie + Rendang), saya dan kawan satu kamar lainnya pun secara bergantian mandi pagi. Oh ya, yang masalah rendang tidak dibeli di Jepang, saya membawanya dari Indonesia. Buatan Emak. Sebagai informasi, kebanyakan penginapan tradisional Jepang (Japanese Style), kamar mandi yang tersedia adalah kamar mandi kolam berjamaah, dan kabar baiknya, air hanya ada waktu malam hari. Jadi pagi hari, kebanyakan orang Jepang tidak mandi pagi. Hmmm, hal ini sulit untuk dicontoh. Oleh karena itulah, dengan alasan: Pertama, mandi bagi saya dan ternyata juga teman-teman yang lain adalah menyangkut privasi; Kedua, pelaksanaan mandi yang hanya bisa dilakukan 1 kali sehari, maka kami memutuskan mandi di dalam toilet yang luasnya tidak seberapa. Kebetulan di toilet tersebut ada sebuah ember. Jadi ember itu yang kemudian kami isi air dari wastafel dan dibawa ke dalam toilet sebagai air pembasuh. Hal inilah yang kami lakukan bergantian selama 6 kali dalam 3 hari di hotel tersebut.

Usai mandi, kami pun segera menuju Uji Kampus Kyoto University. Ini adalah hasil jempretan perjalanan kami menuju kampus.

Bersama anak-anak Jepang
Bersama anak-anak Jepang

Continue reading “Jepang, Oh Jepang (Jilid 2)”

Jepang, Oh Jepang (Jilid 1)

Alangkah terkejutnya saya ketika pertama kali membuka email saat akan kembali menuju Pekanbaru sepulang dari mudik lebaran di kampung halaman di Sumatera Barat. Paper yang saya kirimkan ternyata lolos. Tidak tanggung-tanggung, kali ini Call of Paper dari Kyoto, Jepang. Hmm, saya pun terbayang Jepang malam itu di bawah langit Padang. Tapi setelah dipikir-pikir saya pun mengurungkan niat untuk berangkat. Pasalnya, saya sudah tidak lagi mahasiswa, mana mau kampus membantu. Saya pun mendiamkan cukup lama, padahal acaranya sangat mepet. Saya mendapatkan email notification of acceptance dari panitia pada 4 September, sementara acaranya pada 8-10 Oktober. Sebenarnya harga tiket yang melambung hingga 9 juta juga menjadi alasan utama kenapa saya melepaskan angan-angan ke negeri “penjajah” itu.

Waktu pun berjalan, seiring waktu berjalan, walau kemungkinan besar kesempatan ini akan saya sia-sia kan, tapi keinginan pergi itu tetap ada. Lalu pun saya iseng-iseng mengurus visa. Dari awal saya berniat, ketika visa tidak bisa diurus, artinya saya memang tidak diizinkan untuk pergi. Namun, ternyata urusan ini dimudahkan, terlebih lagi saya memiliki sobat yang sangat baik mengurus visa saya di Medan. Terimakasih Irwan. V^^. Dalam tempo 3 hari, visa saya selesai. Padahal saya mendengar kabar jika pengurusan visa ke Jepang cukup sulit. Akhirnya melalui pertolongan Allah pun saya bisa hadir dalam acara Sustain 2011 Sustainable for Human Security di Uji Kampus Kyoto University.

transit menuju Malaysia
transit menuju Malaysia

Continue reading “Jepang, Oh Jepang (Jilid 1)”

Kala Kangen Melanda

Kala kangen melanda,
perasaan sedih pun terasa
kala pikiran ini merindu
hati ini terasa ngilu.

Benar-benar tak dapat dipungkiri bahwa waktu memang cepat sekali berjalan. Agak tersayat perasaan ini ketika mengenang kenangan buruk di masa lalu dan agak tergoyah pula hati ini jika tidak ingin dikatakan sedih, ketika kenangan indah berlalu begitu cepat. Ah, memang manusia terlalu sentimentil.

Lepas dari itu semua, saya begitu kangen sekali masa-masa saya yang penuh dengan warna, cinta, dan persahabatan. Tulisanlah yang mampu membuat saya seakan-akan kembali pada masa itu. Saya kangen temen-temen DCR 2007, saya kangen temen-temen OSN-PTI 2008, saya kangen dengan rekan-rekan KKTM Regional A 2008, saya kangen dengan teman-teman Riau di Universitas Indonesia, saya juga kangen  dengan temen-temen Musta X Ikahimki 2009, saya kangen dengan masa-masa saya bertualang di Siak, Bintan, Batam, dan Tanjungpinang, saya kangen dengan warga Bali yang menyambut saya dengan hangat, saya juga kangen dengan temen-temen Rakornas Ikahimki 2010, dan saya kangen dengan setiap keadaan yang membuat hidup lebih berwarna, penuh cinta dan persahabatan.  Namun, sekali lagi saya katakan itu hanyalah sebuah cerita, yah yang mungkin bisa menjadi bahan pengobat rindu ketika rasa kangen itu muncul. Tentu ini tidak sampai membuat saya terkapar tak karuan dengan sikap rindu ini. Aktivitas tentu tetap harus saya jalankan, karena hidup tak berhenti di batas rasa kangen atau rindu saja. Hidup ini masih panjang kawan

Continue reading “Kala Kangen Melanda”

Dari Jakarta ke Bandung ke Serpong ke Bandung Lagi ke Jakarta Lagi

Well, sudah lama juga nih ga pernah lagi nulis di rumah kecil ini. Sempat juga sih ditanyain beberapa rekan-rekan mengenai keberadaan saya  kini di rumah ini. Maklum, semakin tua, maka semakin banyak pula masalah yang muncul. Jadi sempat pusing juga untuk singgah sebentar dan berbagi cerita di laman ini. Rumah asli saja jarang saya tinggali.hahahahahahaha

Tidak banyak yang terjadi di sepanjang awal 2010 ini, hanya sekitar kegiatan himpunan yang cukup menyita waktu, pembuatan proposal penelitian, dan jadwal baca plus nulis yang semakin hari semakin berkurang. Namun, ada satu kegiatan yang mungkin bisa diceritakan lebih lanjut. Kunjungan studi. Yup, kunjungan studi.
Rembulan tampak malu dibalik awan kelam itu,sementara anak-anak manusia berjalan di jalanan berbatu. Hanya untuk satu tujuan. Yakni menuju bandara. Subuh itu Bandara Sultan Syarif Qasim II dipadati penumpang, 31 di antaranya adalah rombongan kunjungan studi dari kampus saya. Tujuan kami adalah Jakarta dan Bandung (rencana di proposal. Kebenarannya seperti apa? Terus simak tulisan ini).*gak penting*

Continue reading “Dari Jakarta ke Bandung ke Serpong ke Bandung Lagi ke Jakarta Lagi”