Celana 2000 Yen

Sebagian kawan mungkin bertanya, apa lagi ini? Hmm, entahlah. Mungkin saya rindu dengan bangsa tercinta. Saya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk belajar, yang mungkin hanya untuk kepentingan pribadi, sehingga terlalu lama bisa belajar mencintai negeri. Tapi setidaknya saya selalu mencari cara untuk mencintai bangsa, walau hal itu sangat sulit dilakukan. Mengapa?

Kawan lihatlah bangsa kita kini. Apa yang kawan lihat? Apa yang kawan rasakan? Samakah dengan yang saya lihat? Samakah dengan yang saya rasakan? Atau sama sekali tak terlihat? Atau sama sekali tak terasa apa pun? Kalau dua terakhir ini yang kawan alami, hmm, saya benar-benar tak mengerti mengapa bisa terjadi. Tapi di hati kecil saya bertanya, “mungkinkah ibu pertiwi telah gagal mendidik putra-putri penerus?”

Sumber: Internet
Sumber: Internet

Continue reading “Celana 2000 Yen”

Jepang, Oh Jepang (Jilid 2)

Hawa dingin begitu menusuk pagi itu. Saya pun terbangun karena kedinginan. Saya melirik jam tangan yang berada di sisi telinga saya. Masih pukul 4 pagi. Hmm, saya berencana akan berangkat tidur kembali, karena yang kawan-kawan lain juga masih terlelap, mungkin juga sedang ditaburi mimpi. Tapi entah kenapa, mata saya menangkap cahaya terang dibalik fentilasi udara. Saya tersentak kaget, saya saat itu bukan berada di Indonesia, lebih tepatnya Pekanbaru, melainkan di Kyoto, Jepang. Waktu di Jepang lebih cepat 2 jam dibanding Indonesia bagian barat. Artinya saat ini waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi. Dengan tergopoh-gopoh saya menuju toilet untuk mengambil air wudhu, setelah itu membangunkan yang lain dan segera menyelasaikan kewajiban shalat subuh berjamaah. Fiuh, awal yang kurang bagus memang.

Usai shalat dan menyiapkan sarapan seadanya, yang saya sebut menu luar negeri (Pop Mie + Rendang), saya dan kawan satu kamar lainnya pun secara bergantian mandi pagi. Oh ya, yang masalah rendang tidak dibeli di Jepang, saya membawanya dari Indonesia. Buatan Emak. Sebagai informasi, kebanyakan penginapan tradisional Jepang (Japanese Style), kamar mandi yang tersedia adalah kamar mandi kolam berjamaah, dan kabar baiknya, air hanya ada waktu malam hari. Jadi pagi hari, kebanyakan orang Jepang tidak mandi pagi. Hmmm, hal ini sulit untuk dicontoh. Oleh karena itulah, dengan alasan: Pertama, mandi bagi saya dan ternyata juga teman-teman yang lain adalah menyangkut privasi; Kedua, pelaksanaan mandi yang hanya bisa dilakukan 1 kali sehari, maka kami memutuskan mandi di dalam toilet yang luasnya tidak seberapa. Kebetulan di toilet tersebut ada sebuah ember. Jadi ember itu yang kemudian kami isi air dari wastafel dan dibawa ke dalam toilet sebagai air pembasuh. Hal inilah yang kami lakukan bergantian selama 6 kali dalam 3 hari di hotel tersebut.

Usai mandi, kami pun segera menuju Uji Kampus Kyoto University. Ini adalah hasil jempretan perjalanan kami menuju kampus.

Bersama anak-anak Jepang
Bersama anak-anak Jepang

Continue reading “Jepang, Oh Jepang (Jilid 2)”

Jepang, Oh Jepang (Jilid 1)

Alangkah terkejutnya saya ketika pertama kali membuka email saat akan kembali menuju Pekanbaru sepulang dari mudik lebaran di kampung halaman di Sumatera Barat. Paper yang saya kirimkan ternyata lolos. Tidak tanggung-tanggung, kali ini Call of Paper dari Kyoto, Jepang. Hmm, saya pun terbayang Jepang malam itu di bawah langit Padang. Tapi setelah dipikir-pikir saya pun mengurungkan niat untuk berangkat. Pasalnya, saya sudah tidak lagi mahasiswa, mana mau kampus membantu. Saya pun mendiamkan cukup lama, padahal acaranya sangat mepet. Saya mendapatkan email notification of acceptance dari panitia pada 4 September, sementara acaranya pada 8-10 Oktober. Sebenarnya harga tiket yang melambung hingga 9 juta juga menjadi alasan utama kenapa saya melepaskan angan-angan ke negeri “penjajah” itu.

Waktu pun berjalan, seiring waktu berjalan, walau kemungkinan besar kesempatan ini akan saya sia-sia kan, tapi keinginan pergi itu tetap ada. Lalu pun saya iseng-iseng mengurus visa. Dari awal saya berniat, ketika visa tidak bisa diurus, artinya saya memang tidak diizinkan untuk pergi. Namun, ternyata urusan ini dimudahkan, terlebih lagi saya memiliki sobat yang sangat baik mengurus visa saya di Medan. Terimakasih Irwan. V^^. Dalam tempo 3 hari, visa saya selesai. Padahal saya mendengar kabar jika pengurusan visa ke Jepang cukup sulit. Akhirnya melalui pertolongan Allah pun saya bisa hadir dalam acara Sustain 2011 Sustainable for Human Security di Uji Kampus Kyoto University.

transit menuju Malaysia
transit menuju Malaysia

Continue reading “Jepang, Oh Jepang (Jilid 1)”