Balada Si Aamiin Boy

Dulu, sewaktu masih di Tokyo, Harun seringkali ikut sholat jumat di kampus bersama saya. Harun bisa duduk tenang di pangkuan ayah nya saat tidak ada teman bermain, tapi sekalinya ada teman bermain, ribut pula, Harun pun ikut tereksitasi — aka energinya meningkat (hmm, maksudnya bakat terpendam ributnya keluar). Ini menjadi salah satu alasan saya tidak melaksanakan sholat di masjid ketika mengharuskan menjaga Harun, selain memang lokasi ke masjid relatif lebih jauh ketimbang ruang sholat jumat di kampus. Saya kadang-kadang merasa tidak enak dengan jamaah lain yang tidak suka dengan anak yang ribut di masjid. Bahkan ada beberapa masjid menuliskan anak-anak di bawah 5 tahun dibawa masuk masjid. Awalnya berusaha memaklumi lantaran memang orang-orang Muslim ini mungkin telah terjangkit stress nya orang Jepang yang cukup tinggi.

Sakura Terakhir Harun di 2019

Tapi cerita berbeda ketika jumatan di ruang sholat kampus, karena saling kenal, kita pun sudah paham. Alhamdulillah belum pernah ada nada protes dari jamaah yang kebanyakan mahasiswa terhadap tingkah polah Harun, salah satunya adalah mengucapkan Aamiin setelah Al-Fatihah sebelum waktunya. Sampai ia diberi gelar si Aamiin Boy. Entah siapa yang memulai, tapi gelar itu melekat hingga saat terakhir kali saya akan pamit dengan jamaah sholat jumat kampus. Sebelumnya, Harun seringkali dikangeni para jamaah ketika ia tidak lagi diajak jumatan oleh Ayahnya karena boncengan sepedanya sudah dijual.

Dikira, di Indonesia, yang orang-orangnya ramah-ramah, tak kan pernah ada aturan-aturan seperti beberapa masjid di Jepang. Tapi apa dinaya, ternyata satu masjid dekat rumah tidak membolehkan anak-anak di bawah 5 tahun masuk masjid. Entah berapa masjid lagi seperti ini. Tidak diketahui secara pasti apakah aturan ini baik atau tidak. Tapi yang jelas, si Aamiin Boy juga ternyata tak leluasa bisa ikut ayahnya untuk ikut ke masjid walau sedang berada di negeri mayoritas muslim.

#MasjidJugaUntukAnak
#MengenalkanMasjidSejakDini
#MohonMaafLahirBathin
#IndonesiaBerkelanjutan

Diselesaikan di Pekanbaru, 7 Ramadhan 1440 H

Adakah Rindu di Jepang?

Waaah, ini judulnya kok mellow banget yak :). Ya, iya lah, karena negeri ini telah banyak menghasilkan cerita bagi kisah hidup saya (kami), yang tidak semua senang loh, banyak juga kisah dukanya. Belum lagi kalau ingat-ingat cerita nenek tentang kejamnya negara ini kala masa penjajahan dulu. Lepas dari semua itu, negara ini mungkin tak kan lagi menghasilkan cerita-cerita baru di beberapa bulan ke depan, karena saya akhirnya juga harus pulang V^^.

Piknik bersama keluarga

Continue reading “Adakah Rindu di Jepang?”

Siap Menjadi “Romusha”

Ketika kali pertama menginjakkan kaki di negeri sakura ini, banyak orang yang menanyakan bagaimana kehidupan di sana, asyik ga, bagaimana bisa dapetin beasiswa ke sana, bisa ga ya kerja di sana, dan beragam pertanyaan lainnya. Kala itu saya hanya menjawab seperti apa adanya, sesuai dengan apa yang saya rasakan dan alami. Banyak senangnya dibanding susahnya.

Namun semua itu menjadi berubah ketika telah lama tinggal di sini, banyak hal-hal yang baru yang diketahui, yang akhirnya ditemui. Ternyata tinggal di Jepang itu tidak melulu enak. Eits, jangan langsung menyimpulkan tulisan saya ini ya, sebaiknya dibaca dulu sampai habis.

Sholat saat camping di salah satu pinggir sungai di Tokyo

Continue reading “Siap Menjadi “Romusha””

Kita Memang Berbeda

Melihat kawan-kawan yang semakin giat menulis, membuat saya turut dan ikut ketularan untuk memberikan waktu luang untuk satu kegiatan yang boleh dikatakan gampang dibuat susah. Kok gitu? Apa sih susahnya menulis? Tinggal ambil bullpen, atau buka laptop, nulis dah. Sulit dapetin ide? Banyak baca dan cari pengalaman, ga mesti jauh-jauh, saya yang berada di kamar 4 m x 4 m aja bisa dapetin puluhan ide, apalagi kalau tak tersekat batas dan waktu. Apalagi alasannya sampai bilang nulis itu susah? Nah, itu lah yang mengakibatkan kenapa menulis itu seringkali gampang dibuat susah. Ada saja alasan untuk menunda-nunda menulis. Setidaknya saya mencoba untuk tidak menjadikan alasan capek karena harus eksperimen, belajar di kelas, serta bersepeda 1 jam-an setiap hari, sehingga malas menulis. Juga tidak ingin menjadikan alasan untuk tidak menulis karena kurangnya waktu mendapatkan “ide” selama berada di toilet. Sesuai anjuran dokter, kini keberadaan saya di toilet harus dikurangi. Padahal ide-ide tulisan selama ini bermunculan selama berada di toilet. Ya, saat ini saya sedang mencoba untuk memaksa terus menulis. Setidaknya sebulan ini “paksaan”  itu membuahkan sedikit hasil. Walau kadang tak semua saya posting di rumah kecil ini.

5403902488_d24d4c95e7_z Continue reading “Kita Memang Berbeda”

Dilema Perut Buncit

Tulisan ini saya sampaikan bukan sebagai kampanye #SaveBuncit atau ingin membela hak orang-orang buncit yang sering terabaikan. Juga bukan bermaksud ingin membenarkan bahwa perut buncit lebih bagus dibanding perut rata atau perut kotak-kotak acap kali jadi kebanggan tersendiri bagi si empunya. Tidak sama sekali. Tulisan ini hanyalah sebuah opini dari saya, yang mencoba mengupas secara singkat berbagai fenomena-fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kenapa jadi serius begini? 🙂

Well, sebenarnya saya hanya kaget ketika saya mengenalkan calon legislatif pilihan saya *maaf* tidak kurus dan perutnya agak buncit (baca: besar V^^). Karena beliau berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), saya kira kemungkinan banyak yang tidak suka akan membahas mengenai asal partai caleg ini, tersebab pencitraan jelek yang dilakukan media benar-benar berhasil. Tapi toh untuk hal ini saya mempunyai jawaban, karena saya suka partai ini juga berawal dari ketidaksukaan, jawaban-jawaban yang saya punya itu yang akhirnya membuat saya suka dan percaya bahwa partai ini harus dipilih pada Pemilu 2014.  Continue reading “Dilema Perut Buncit”

Menangisi Negeri

Untuk kali kesekian saya hampir melupakan laman ini. Kadang saya berpikir apa mungkin saya sudah malas berbagi lewat tulisan? Tapi sepertinya tidak juga. Atau mungkin karena berbagi pesan lewat facebook dan twitter lebih mudah? Hmm. Mungkin. Bisa jadi. Tersebab kisah yang coba saya bagikan tampaknya cenderung “lebih mudah” untuk dishare lewat media sosial ketimbang harus bercapek-capek menulis panjang, yang mungkin, tak banyak orang yang suka membaca panjang (atau mungkin saya mulai tak suka menulis panjang :)).

Yep. Apapun penyebabnya, setidaknya saya tak melupakan laman ini. Laman yang sengaja dibuatkan untuk saya agar bisa berbagi kisah. Kisah yang semoga menjadi pelajaran buat diri saya supaya menjadi lebih baik dan syukur-syukur ada manfaat buat orang lain. Tak ada rasa bahagia di diri, ketika tahu bahwa apa yang saya lakukan tak memberi manfaat kepada orang lain. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain? Continue reading “Menangisi Negeri”

Celana 2000 Yen

Sebagian kawan mungkin bertanya, apa lagi ini? Hmm, entahlah. Mungkin saya rindu dengan bangsa tercinta. Saya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk belajar, yang mungkin hanya untuk kepentingan pribadi, sehingga terlalu lama bisa belajar mencintai negeri. Tapi setidaknya saya selalu mencari cara untuk mencintai bangsa, walau hal itu sangat sulit dilakukan. Mengapa?

Kawan lihatlah bangsa kita kini. Apa yang kawan lihat? Apa yang kawan rasakan? Samakah dengan yang saya lihat? Samakah dengan yang saya rasakan? Atau sama sekali tak terlihat? Atau sama sekali tak terasa apa pun? Kalau dua terakhir ini yang kawan alami, hmm, saya benar-benar tak mengerti mengapa bisa terjadi. Tapi di hati kecil saya bertanya, “mungkinkah ibu pertiwi telah gagal mendidik putra-putri penerus?”

Sumber: Internet
Sumber: Internet

Continue reading “Celana 2000 Yen”

Lelaki Harus Bisa Memasak

Well. Tak bisa dipungkiri bahwa saya benar-benar hampir melupakan rumah ini. Lagi-lagi, ini perihal sepele. Lupa. Kadang saya juga berpikir apa pasal saya bisa lupa, karena toh pekerjaan saya belakangan ini tak sebanyak sewaktu mahasiswa S1 dulu. Hmm, entahlah. Setidaknya saat ini saya ingin berbagi cerita tentang keahlian masak saya yang ingin selalu ditingkatkan. For what?

Berbicara masalah memasak, mungkin termasuk masalah sepele bagi kaum hawa. Dalam konteks ini, saya tidak ingin membahas tentang calon ibu yang tak bisa memasak, karena itu sungguh t e r l a l u. Saya hanya ingin berbagi tentang begitu beratnya tugas para wanita, terutama dalam hal memasak. Kenapa demikian?

masakan saya V^^

Beberapa minggu belakangan ini saya sangat intensif memasak. Jika tidak masak, maka saya tak akan bisa makan dan memenuhi energi tiap hari. Tentu, tak ayal kesehatan dipertaruhkan jika ini terjadi. Saya senang memasak sudah sejak lama. Semenjak saya bermukim di Jakal Km 18,5 Jogja, saya mendapatkan pengalaman baru tentang dunia masak-memasak, kombinasi Sumatera-Jawa-Sulawesi. Dalam hal ini saya harus berterimakasih atas kebaikan Pak Charles, Pak Jusman, dan Bang Adi, yang mungkin tak akan saya temui lagi ketika saya kembali ke Jogja. Harapannya sih masih bisa ketemu, tapi tentunya masa studi kedua bapak akan bertambah. Maafkan saya. 🙂 Continue reading “Lelaki Harus Bisa Memasak”

Catatan Bandara Kuala Namu

Akhirnya, masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Medan, kembali boleh berbangga. Pasalnya bandara baru yang digadang-gadang menjadi salah satu bandara termodern di negeri ini telah beroperasi. Kuala Namu International Airport (KNIA), begitu nama bandara tersebut. Dengan luas terminal hingga 120 ribu m2 dan apron hingga 30 ha, serta panjang runway yang mencapai 3750 meter, bandara ini dipastikan bisa menampung hingga 10 juta penumpang/tahun dan 30 pesawat di apron/jam

Hmm. Beberapa hari yang lalu saya baru saja menikmati suasana Kota Medan. Tapi sayang,untuk kali pertama ke sana, saya tak mendapati mendarat di bandara yang disebut-sebut sebagai bandara terbesar nomor dua di Indonesia. Namun, tentu saya masih beruntung bisa melihat kondisi terakhir Bandara Polonia, yang menurut saya dan juga banyak orang lain, sudah tak layak lagi menampung sekian banyak masyarakat Indonesia dan dunia yang ingin mengeskplor Sumatera Utara, yang memiliki banyak kota tua yang eksotik, serupa saya menikmati Yogyakarta. Tentunya masih terbesit keinginan untuk mendarat di bandara yang menurut saya arsitekturnya mampu menyamai Incheon International Airport di Korea Selatan dan Ninoy Aquino International Airport di Filiphina.

101737615911c64304ed1fccd2d38bd586490890 Continue reading “Catatan Bandara Kuala Namu”

Menilik Kasus Bioremediasi Chevron

Banyak yang bertanya kepada saya ketika kasus bioremediasi Chevron (CPI) mulai menjadi isu nasional. Saya cukup bingung, kenapa pertanyaan itu dilemparkan ke saya, yang notabene bukan siapa-siapanya Chevron.  Setelah coba saya renungi, mungkin sebabnya adalah karena saya berasal dari Riau. Saya sering berbicara tentang lingkungan, terutama di Riau, dikarenakan kapasitas saya sebagai mahasiswa Kimia Lingkungan di UGM, Yogyakarta. Sehingga mendengar bioremediasi adalah hal biasa selama masa-masa perkuliahan. Walau begitu, tak banyak yang bisa saya komentari mengenai kasus bioremediasi di CPI, bukannya karena saya tak mengerti masalah bioremediasi, tetapi lebih karena memang saya tidak mengetahui secara pasti tentang proyek bioremediasi yang dilakukan oleh CPI di wilayah Sumatera itu, terlebih lagi pegawai CPI yang saya tanyakan mengenai proyek ini agak sedikit “pelit” memberi informasi yang mumpuni.

Logo Chevron

Continue reading “Menilik Kasus Bioremediasi Chevron”