Mengurus Visa Schengen di Jepang

Pertengahan Mei 2018 yang lalu, saya, istri, dan Harun (anak saya usia 1 tahun 10 bulan) berkesempatan mengunjungi Eropa selama kurang lebih seminggu. Banyak kisah yang kami rasa layak untuk diceritakan, yang semoga, bisa membantu banyak orang ketika melakukan perjalanan serupa. Kali ini kisah yang saya bagi adalah tentang pengurusan Visa Schengen (VS) di Jepang. Mengapa di Jepang? Karena kebetulan kami saat ini tinggal di Jepang, maka pengurusan berdasarkan dimana kita tinggal saat mengurus VS tersebut. Saya rasa prosedur pengurusan VS akan sama di negara mana saja kita tinggal, selama kita memegang passpor Indonesia. *berharap suatu saat Indonesia mendapatkan free VS. Mohon aamiin kan, terlebih saat ini sedang Ramadhan :).

IMG_4576.JPG
Dalam perjelanan dari Frankfurt menuju Brussel

Continue reading “Mengurus Visa Schengen di Jepang”

Mimpi 20 tahun yang lalu  

Masih teringat masa-masa kecil dulu, yang dengan suka-sukanya bermimpi dan ingin menjadi apa pun, tanpa perlu memikirkan entah jadi atau tidak. Namanya juga anak-anak kan (yang setuju anggukkan kepala 😊). Cerita punya cerita saya punya mimpi bisa bersekolah di Jerman, atau setidaknya pergi ke sana, melihat kecanggihan teknologinya. Kenapa Jerman? Ya, karena adanya sosok Bapak Habibie yang selalu diceritakan berulang oleh keluarga saya, entah almh Emak, entah alm. Bapak, entah almh nenek atau entah dari banyak saudara lainnya. Terlebih semasa usia balita pernah merasakan naik Simpati airline dan Merpati Airline (yang mungkin kini tak lagi dikenal), nama Bapak Habibie selalu disebut-sebut. Jerman selalu disanding setelahnya. Sejak saat itulah mimpi itu terus terngiang di kepala sambil menanamkan dalam diri, semoga Allah mampukan saya ke sana.

IMG_6888.JPG
Ayah, Harun, Bunda di depan Parlemen Jerman

Continue reading “Mimpi 20 tahun yang lalu  “

Catatan perjalanan haji: Saatnya Berangkat ke Saudi (Bagian 4)

Pada tulisan sebelumnya saya telah mengurai tentang niat berhaji dari Jepang, tips  memilih travel agency, yang sangat penting dalam menjalankan ibadah haji nanti di tanah suci, serta persiapan apa saja yang harus kita lakukan. Nah, kali ini izinkan saya menulis catatan keberangkatan saya hingga tiba di Saudi.

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, walau saya mendaftar dan mengurus visa haji dari Jepang, saya berangkat tidak dari Jepang (baca di sini). Saya memilih berangkat ke Saudi dari Kuala Lumpur, Malaysia. Hal ini dikarenakan kampung halaman saya (Pekanbaru) lebih dekat ke Kuala Lumpur dibanding Jakarta.

Perjalanan saya menuju Saudi dijadwalkan 23 Agustus dini hari, yakni pukul 02.10 Waktu Kuala Lumpur (01.10 WIB) dengan menggunakan Etihad Airways. Saya sengaja memilih penerbangan AirAsia, yang satu-satunya, menuju Kuala Lumpur pukul 17.35 WIB pada 22 Agustus dengan AK438. Setidaknya ada jarak waktu yang cukup jauh untuk bersantai-santai terlebih dahulu menikmati makanan halal di KLIA2 ataupun KLIA, karena perjalanan ke Kuala Lumpur hanya membutuhkan waktu kurang lebih 50 menit. Dari Kuala Lumpur menuju Abu Dhabi dan direncanakan akan mendarat di Jeddah sekitar pukul 15.20 Waktu Jeddah setelah transit di Abu Dhabi sekitar 8 jam. Dalam hati agak tenang, karena rombongan Mian Travel yang berangkat dari Jepang akan tiba pukul 13 an Waktu Jeddah, sehingga nanti bisa kontak-kontakan setibanya di luar bandara Jeddah. Namun semua yang telah direncanakan tersebut penuh dengan kejutan dan perasaan dag dig dug. Maklum, pengalaman pertama dan jauh sebelumnya saya tidak pernah mendapat informasi seperti ini. Semoga catatan perjalanan saya ini bermanfaat bagi siapa saja yang akan melaksanakan ibadah haji, terutama rombongan dari Jepang. Aamiin. Continue reading “Catatan perjalanan haji: Saatnya Berangkat ke Saudi (Bagian 4)”

Catatan perjalanan haji: Persiapan diri dan hati (Bagian 3)

Setelah kita memilih travel agency, yang turut membantu terwujudnya niat kita melaksanakan ibadah haji, ada hal penting lain yang harus kita lakukan, yaitu mempersiapkan diri dan juga hati. Kenapa hati juga penting? Nanti akan saya liatkan contoh real bergunanya menjaga hati sejak dini pada tulisan selanjutnya.

Hal penting yang menjadi perhatian kita dalam mempersiapkan diri ini adalah dalam menghadapi situasi yang cukup ekstrem di Saudi. Hingga 2 tahun ke depan kemungkinan pelaksanaan musim haji berlangsung di musim panas. Bagi yang tidak terbiasa atau tidak suka dengan musim panas di Jepang, maka mulai biasakan lah dan suka lah. Karena panas nya di sana melebihi panasnya saat kita berada di wilayah Indonesia mana pun. Pernah suhu di Makkah mencapai 50 oC. Beneran? Bener. Selain itu juga perlu mempersiapkan diri untuk berbagai keperluan menghadapi situasi serba baru yang boleh dibilang deg deg ssuuurr, terutama bagi yang pertama kali berhaji. Semoga tulisan ini mampu menjadi informasi bagi siapa saja yang ingin berhaji untuk pertama kali. Continue reading “Catatan perjalanan haji: Persiapan diri dan hati (Bagian 3)”

Catatan perjalanan haji: Tips Memilih Travel Agency (Bagian 2)

Alhamdulillah masih diberi kesempatan menulis catatan perjalanan haji lanjutan. Insya Allah pada kesempatan kali ini saya akan mencoba membahas tentang tips memilih travel agency. Saya menyampaikan sesuai dengan pengalaman saya, yang saya rasa cukup penting agar perjalanan haji dari Jepang menjadi lebih nyaman dan menyenangkan 😊.

Setidaknya ada tiga travel agency untuk tahun ini yang sudah meluncurkan paket haji tahun 2018, Air1 Travel, Mian Travel, dan HIS Travel. Sebagai informasi, HIS Travel baru memulai mengurus jamaah haji pada tahun lalu. Sementara Air1 Travel dan Mian Travel sudah lama mengurus jamaah haji dan umrah dari Jepang, serta beberapa negara lain seperti Hongkong dan Korea Selatan. Berikut ini saya lampirkan brosur dari ketiga travel tersebut untuk keberangkatan tahun 2018. Continue reading “Catatan perjalanan haji: Tips Memilih Travel Agency (Bagian 2)”

Catatan perjalanan Haji: Dari Jepang ke Tanah Suci (Bagian 1)

Alhamdulillah akhirnya bisa juga menulis, setelah rutinitas 2.5 tahun belakangan ini disibukkan dengan agenda 8 pagi sampai 9 malam di luar rumah. Tulisan ini disempatkan dikerjakan ditulis di saat kepusingan cukup tinggi memikirkan mengerjakan artikel hasil riset selama dua tahun ini untuk segera dipublikasikan. Juga di tengah kesibukan memulai menulis disertasi. Pun juga jualan tiket pesawat serta voucher hotel yang Alhamdulillah Allah lancarkan, sampai-sampai waktu bermain dengan Harun (anak saya) dan bundanya berkurang :).

Well, izinkan saya bercerita tentang perjalanan haji saya dari Jepang. Awal mulanya tak terbesit keinganan untuk berhaji dari Jepang. Terlebih ketika mengetahui informasi tentang biaya Haji dari Jepang pada 2013 silam. Rasa-rasanya dengan kondisi keuangan yang ada, saya tak kan mampu untuk bisa menunaikan rukun Islam yang kelima itu dari Jepang. Nanti saja jika sudah kembali ke Indonesia, pikir saya saat itu. Namun, semua itu berubah ketika almarhum Apak (baca: Bapak) yang akan berangkat Haji pada 2014 yang lalu menitipkan pesan kepada keluarga sebelum tutup usia. “Kalau terjadi apa-apa dengan Apak sebelum berangkat, tolong suruh si Ind (saya) yang menggantikan.”  Dari sanalah azzam berhaji muncul begitu kuat. Cara cepat untuk memenuhi wasiat itu ya dengan berangkat dari Jepang. Tanpa antri. Bayar tahun itu, berangkat tahun itu juga. “Bersegeralah berbuat baik selagi masih ada kesempatan,”  pesan almarhumah Mamak (baca: Ibu) ketika masih hidup. Continue reading “Catatan perjalanan Haji: Dari Jepang ke Tanah Suci (Bagian 1)”

Malu(ku) di Jepang

Kurun waktu enam bulan telah saya lalui hidup di sebuah negara yang tak saya sangka-sangka. Benar agaknya kata sebuah buku, kita mengira selama ini yang menentukan rencana adalah diri kita sendiri, keputusan di tangan Tuhan, padahal tidak menurut si empunya buku itu. Rencana pun ternyata berasal dari Tuhan. Lihatlah saya, sedari kecil dulu saya hanya ingin ke Saudi dan Jerman jika kelak diberi kesempatan ke luar negeri. Itulah dua rencana besar saya sejak kecil. Kenyataannya? Saya kini malah berada di sebuah negeri penjajah, negeri yang katanya menjajah Indonesia lebih pedih dibanding penjajah lain. Di sinilah saya. Jepang. Bukan sekali, keberadaan saya di sini, saat ini, adalah kali ketiga. Alamak apa pula ini. Well, lagi-lagi saya hanya bisa bersyukur. Saya kira pasti ada hikmah dibalik ini semua. Pasti. Itu yang selalu saya yakini sedari dulu atas apa yang saya jalani, itu semua telah direncanakan dan ditetapkan Tuhan.

Hidup di sebuah negeri, yang jelas-jelas berbeda dengan ibu pertiwi tentunya bukan perkara gampang, jika tak ingin disebut sulit. Jika dibawa susah, semuanya jelas-jelas susah, mulai dari makan, shalat, hingga perkara tetek bengek lainnya, seperti mandi atau hanya sekedar membuang hajat. Tapi tentunya tak elok jika menyalahkan keadaan, saya tak pernah diajarkan hidup seperti itu oleh emak dan bapak, juga nenek dan etek. So, hingga hari ini saya masih bisa bertahan di Tokyo, kota yang sempat menjadi kota termahal di dunia 2013 silam, walau hanya dengan beasiswa yang tak seberapa. Alhamdulillah. 🙂 Continue reading “Malu(ku) di Jepang”

Celana 2000 Yen

Sebagian kawan mungkin bertanya, apa lagi ini? Hmm, entahlah. Mungkin saya rindu dengan bangsa tercinta. Saya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk belajar, yang mungkin hanya untuk kepentingan pribadi, sehingga terlalu lama bisa belajar mencintai negeri. Tapi setidaknya saya selalu mencari cara untuk mencintai bangsa, walau hal itu sangat sulit dilakukan. Mengapa?

Kawan lihatlah bangsa kita kini. Apa yang kawan lihat? Apa yang kawan rasakan? Samakah dengan yang saya lihat? Samakah dengan yang saya rasakan? Atau sama sekali tak terlihat? Atau sama sekali tak terasa apa pun? Kalau dua terakhir ini yang kawan alami, hmm, saya benar-benar tak mengerti mengapa bisa terjadi. Tapi di hati kecil saya bertanya, “mungkinkah ibu pertiwi telah gagal mendidik putra-putri penerus?”

Sumber: Internet
Sumber: Internet

Continue reading “Celana 2000 Yen”

Bermimpilah Kawan

Malam ini, sama-sama seperti malam-malam beberapa hari yang lalu. Aku hanya bisa menahan tangis ketika mengingat wajah Emak. Wajah, yang tak pernah kubayangkan akan tak bisa lagi melihatnya. Keriput kulitnya, ompong giginya, apapun yang jelek bagi orang lain melihatnya, aku selalu tak pernah menghiraukan. Ia Emakku. Perasaan sedihnya karena tak pernah membersemaiku sejak kecil, pun tak pernah kuhiraukan. Aku tak pernah berharap Emak menyesali semua itu, karena aku tahu bahwa kondisinya tak memungkinkan bagiku untuk bermanja-manja. Aku selalu sedih ketika melihatnya sedih bercerita tentang sedihnya dia karena membiarkanku mandiri terlalu dini. Aku akan selalu mengalihkan topik, karena aku memang berusaha membuat ia tidak sedih. Ah, mak, semoga emak tetap bisa mendengar ceritaku dan tak pernah bosan, seperti aku yang tak pernah bosan mendengar cerita emak. Masih ingat dua bulan yang lalu, waktu emak bercerita tentang kampung halaman, yang entah untuk kesekian kalinya cerita itu diulang, tapi aku tetap selalu senang. Emak selalu semangat bercerita tentang kampung. Ah,kawan, itu lah emakku. Walau tak tamat SD, ia punya banyak cerita. Semoga suatu saat nanti, kita bisa bercerita kembali, seperti kala itu mak. Aku akan selalu merindukan waktu itu.

Continue reading “Bermimpilah Kawan”

Gerbong 7

Catatan Perjalanan 14 Jam di Kereta Api

Waktu menunjukkan pukul 3 dini hari ketika saya melirik ke hape yang terletak di samping kepala saya. Udara dingin yang sudah masuk memenuhi udara kamar, membuat keinginan meringkuk dalam selimut menguap kembali. Saya lupa menutup jendela kamar yang terletak di lantai 2 ini. “Uh, ga boleh tidur lagi,” hati saya berbicara.

Saya segera bangkit dari tempat tidur, sementara teman sekamar saya tampaknya masih menikmati mimpi. Memang bagi saya pagi-pagi di kota ini tampak berbeda dibanding kota asal saya. Di sini, waktu shalat subuh pukul 4 kurang. Jadi memang aktivitas berjalan lebih cepat. Saya harus mengikuti ini. Demi apa? Kadang saya junga bertanya, “demi apa?” Ah, sudah lah semua orang tentunya punya pilihan tentang apa yang ia tuju dan tak patut pula orang perlu tahu tentang pilihan itu. Itu pula yang coba saya terapkan. Saya hanya ingin Dia tidak marah. Saya takut, karena saya terlambat mengetahui. Tapi tak apalah terlambat, dibanding tidak tahu sama sekali. Harapan itu selalu ada. Hmm, terlalu panjang  saya bercerita hingga cerita yang ingin saya sampaikan tidak kunjung tersampaikan.

Jam dinding kamar menunjukkan pukul 05.45 WIB. Saya pun segera bergegas menuju stasiun. Teman yang tadi masih belum sadarkan diri, kini telah siap menempuh perjalanan panjang. Yup, panjang, karena menghabiskan waktu 14 jam. Apa yang dituju? Ah, pertanyaan muncul kembali. Sudah lah tak perlu dibahas *yang penting kamu harus tahu apa yang kamu tuju*

Pukul 07.30, Setidaknya begitu terlihat pada sebuah benda berbentuk lingkaran yang diberi nama jam di salah satu dinding stasiun. Saat kereta ini mulai bergerak, ada perasaan senang agak membuncah. Tapi sayang, hanya beberapa menit setelah kereta melesat meninggalkan stasiun, saya terlelap. Saya kurang tidur memang, beberapa  hari belakangan ini saya sering tidur larut.

Continue reading “Gerbong 7”