Catatan perjalanan Haji: Dari Jepang ke Tanah Suci (Bagian 1)

Alhamdulillah akhirnya bisa juga menulis, setelah rutinitas 2.5 tahun belakangan ini disibukkan dengan agenda 8 pagi sampai 9 malam di luar rumah. Tulisan ini disempatkan dikerjakan ditulis di saat kepusingan cukup tinggi memikirkan mengerjakan artikel hasil riset selama dua tahun ini untuk segera dipublikasikan. Juga di tengah kesibukan memulai menulis disertasi. Pun juga jualan tiket pesawat serta voucher hotel yang Alhamdulillah Allah lancarkan, sampai-sampai waktu bermain dengan Harun (anak saya) dan bundanya berkurang :).

Well, izinkan saya bercerita tentang perjalanan haji saya dari Jepang. Awal mulanya tak terbesit keinganan untuk berhaji dari Jepang. Terlebih ketika mengetahui informasi tentang biaya Haji dari Jepang pada 2013 silam. Rasa-rasanya dengan kondisi keuangan yang ada, saya tak kan mampu untuk bisa menunaikan rukun Islam yang kelima itu dari Jepang. Nanti saja jika sudah kembali ke Indonesia, pikir saya saat itu. Namun, semua itu berubah ketika almarhum Apak (baca: Bapak) yang akan berangkat Haji pada 2014 yang lalu menitipkan pesan kepada keluarga sebelum tutup usia. “Kalau terjadi apa-apa dengan Apak sebelum berangkat, tolong suruh si Ind (saya) yang menggantikan.”  Dari sanalah azzam berhaji muncul begitu kuat. Cara cepat untuk memenuhi wasiat itu ya dengan berangkat dari Jepang. Tanpa antri. Bayar tahun itu, berangkat tahun itu juga. “Bersegeralah berbuat baik selagi masih ada kesempatan,”  pesan almarhumah Mamak (baca: Ibu) ketika masih hidup. Continue reading “Catatan perjalanan Haji: Dari Jepang ke Tanah Suci (Bagian 1)”

Yang Akan Berlalu Itu Bukanlah Sebuah Badai (2)

Suara decitan rel kereta api membangunkan saya, yang entah sudah berapa lama tertidur dalam gerbong kereta nomor 4. Inilah kali pertama saya bisa menikmati udara bebas setelah bisa keluar dari… “Penjara VVIP”. Iya penjara VVIP agaknya pas saya sematkan untuk merujuk tempat itu, tempat saya menghabiskan waktu berminggu-minggu tanpa bisa keluar sama sekali. Sebuah kamar di salah satu rumah sakit Pemerintah Metropolitan Tokyo. (Lagi) kesabaran saya dan istri diuji, entah untuk kali ke berapa.

Suasana
Suasana “Penjara” VVIP

Continue reading “Yang Akan Berlalu Itu Bukanlah Sebuah Badai (2)”

Yang Akan Berlalu Itu Bukanlah Sebuah Badai (1)

Teringat kisah awal Maret tahun lalu, ketika saya bertelpon dengan Apak mengenai rencana akan pulang ke Pekanbaru akhir Juli untuk berjumpa beliau sebelum keberangkatannya ke tanah suci. Di sinilah mula cerita itu berawal. Si Bapak melarang saya untuk pulang. Menurutnya buang uang saja jika hanya mau bertemu beliau, kan masih bisa jumpa pas program selesai dan dia sudah pulang dari tanah suci, tambahnya lagi. Tapi saya tetap saja ngotot mau pulang. Saya tak mau kejadian itu terulang. Harga perjumpaan itu memang mahal. Dengan penjelasan saya, serta penjabaran tentang sejumlah Yen yang bisa saya hemat dari uang beasiswa, membuat Apak tak lagi berang. Saya akhirnya bisa pulang. Tiket Vietnam Airlines yang sedang promo kala itu pun saya beli, dari Tokyo 19 Juli, kembali ke Tokyo 4 Agustus.

Maret hampir berakhir, namun cerita masih terus berlanjut. Dosen yang menjadi supervisor saya di kampus sini terus menawarkan untuk melanjutkan studi S3 di lab nya dan ini terus berlangsung dari akhir 2013. Saya mencoba berdiskusi dengan teman-teman di Indonesia dan senior di Jepang, rerata mereka mendukung saya untuk menerima tawaran itu. Saya pun kembali berpikir tentang tawaran ini, rencana awalnya selesai program Oktober 2014, saya akan langsung pulang ke Indonesia, menamatkan S2 di UGM, dan segera menikah. Setelah memikirkan dengan matang, meminta petunjuk kepada yang kuasa, serta mempertimbangkan saran rekan-rekan yang telah berpengalaman, saya putuskan untuk menyambung S3, walaupun ini masih 50:50, karena tangan saya sudah sangat gatal ingin segera kembali mengambil bagian dalam memajukan bangsa. Tapi ya sudahlah, dijalani saja dulu, pikir saya.Proses Aqad Nikah

Continue reading “Yang Akan Berlalu Itu Bukanlah Sebuah Badai (1)”

Lagi. Sejarah Itu Terulang

Di tengah malam di negeri asing ini, negeri yang sama seperti pada sore menjelang magrib 21 Januari 2013, saya (lagi) mendapatkan sebuah berita tentang kematian. Apak telah berpulang ke rahmatullah. 4 jam pertama setelah mendapatkan kabar kali pertama dari isteri yang masih di Indonesia, isi kepala saya berkutat tentang bagaimana saya bisa pulang dan sampai di rumah sebelum Zuhur, besok. Menelepon kesana kemari. “Kalau lewat ashar baru sampai di rumah besok, ga usah saja pulang,” pesan tegas abang kandung di seberang sana. Pesan yang sama seperti yang ia sampaikan ketika Amak berpulang.
Namun, kenyataan ini harus diterima. Saya tak bisa pulang semudah itu. Lagi. Saya harus menerima kenyataan, sejarah yang terulang. Saya masih ingat ketika sehari sebelum berangkat ke Jepang, di awal musim dingin 2013, Amak menelpon dan melepas kepergian saya, padahal sebelumnya kondisi beliau sempat drop dan dirawat hampir seminggu di rumah sakit. “Amak sehat In. Pailah ka Japang tu. Belajar yang rajin di sinan. Beko pas pulang Amak nio danga dari waang baa bantuak salju tu,” Itu yang Amak katakan sambil diakhiri dengan tawa kecilnya yang khas. Pada saat itu. Ya, saat itu. Saya merasa tenang. Begitu pula ketika akan berangkat dua hari yang lalu, ke negeri yang sama, di tengah kondisi Apak setengah sadar, banyak tetamu yang datang memberi dukungan, kisah tentang orang-orang yang tak sadarkan diri selama berbulan-bulan dan akhirnya sembuh pun diutarakan. Berbekal optimisme akan kesembuhan Apak yang membuncah, saya pun pergi dengan hati yang lapang.
Sayang. Ternyata itu hanya kalimat penenang yang efeknya tak bertahan lama. Ada rasa bersalah yang tak tertahan dalam hati ketika dalam kondisi ini saya tak bisa mengambil keputusan dari tangan sendiri. Ah sudahlah, saya tak mau menyalahkan kondisi. Walau begitu hingga saat ini saya masih mencoba menangkap makna tentang semua ini. Mungkinkah saya durhaka dengan orang tua sehingga saya tak dibiarkan melepas kepergian mereka, walau hanya dengan melihat tubuh yang telah dibalut kain kafan? Apakah mungkin pemberian maaf yang selalu saya minta setiap hari itu tak sepenuhnya mereka berikan, lantaran dosa-dosa saya kepada mereka terlampau banyak? Ah, entahlah. Kalau saja istri tidak menghentikan dugaan-dugaan saya akan makna yang sayang tangkap dari semua ini, mungkin saya akan terus menyalahkan diri yang hina ini, anak yang belum tahu cara membalas budi orang tua.
Nasi telah menjadi bubur. Apak kini telah tiada. Hanya kepada Allah saya berserah diri dan mohon ampunan ketika perlakuan yang saya berikan selama ini ternyata tak menyenangkan hati beliau. Walau begitu, saya tak berhenti menangkap hikmah dibalik semua rentetan peristiwa menjelang kematian Apak. Saya hanya bisa berdoa semoga dugaan-dugaan sebelumnya hanya sebatas prasangka saja, karena saya selalu ingin menjadi anak yang shaleh, anak yang bisa memberikan syafaat bagi orang tuanya. Aamiin allahumma aamiin.
Kepada Bapak/Ibu/Saudara dan kerabat yang hadir nanti (Selasa) dan ikut menyelenggarakan jenazah, saya mohon maaf karena kita tak dapat bersua. Saya juga mohon maaf jika selama hidupnya Apak pernah menyakiti baik dari ucapan, perbuatan, atau hanya sekadar sindirin. Mohon juga doa dari semua untuk Apak yang telah terlebih dahulu pulang ke rahmatullah.
Apak. Selamat jalan. Anakmu kini (kembali) belajar ikhlas. Semoga dosa-dosa saya (serta abang dan kakak) selama ini telah engkau maafkan dan saya (serta abang dan kakak) bukanlah termasuk anak-anak durhaka. Semoga Apak diringankan azab kubur. Aamiin ya rabbal’alamiin.

IMG_2036

Tokyo menjelang Adzan subuh, 23 Syawal 1435 H.

Kita Memang Berbeda

Melihat kawan-kawan yang semakin giat menulis, membuat saya turut dan ikut ketularan untuk memberikan waktu luang untuk satu kegiatan yang boleh dikatakan gampang dibuat susah. Kok gitu? Apa sih susahnya menulis? Tinggal ambil bullpen, atau buka laptop, nulis dah. Sulit dapetin ide? Banyak baca dan cari pengalaman, ga mesti jauh-jauh, saya yang berada di kamar 4 m x 4 m aja bisa dapetin puluhan ide, apalagi kalau tak tersekat batas dan waktu. Apalagi alasannya sampai bilang nulis itu susah? Nah, itu lah yang mengakibatkan kenapa menulis itu seringkali gampang dibuat susah. Ada saja alasan untuk menunda-nunda menulis. Setidaknya saya mencoba untuk tidak menjadikan alasan capek karena harus eksperimen, belajar di kelas, serta bersepeda 1 jam-an setiap hari, sehingga malas menulis. Juga tidak ingin menjadikan alasan untuk tidak menulis karena kurangnya waktu mendapatkan “ide” selama berada di toilet. Sesuai anjuran dokter, kini keberadaan saya di toilet harus dikurangi. Padahal ide-ide tulisan selama ini bermunculan selama berada di toilet. Ya, saat ini saya sedang mencoba untuk memaksa terus menulis. Setidaknya sebulan ini “paksaan”  itu membuahkan sedikit hasil. Walau kadang tak semua saya posting di rumah kecil ini.

5403902488_d24d4c95e7_z Continue reading “Kita Memang Berbeda”

Malu(ku) di Jepang

Kurun waktu enam bulan telah saya lalui hidup di sebuah negara yang tak saya sangka-sangka. Benar agaknya kata sebuah buku, kita mengira selama ini yang menentukan rencana adalah diri kita sendiri, keputusan di tangan Tuhan, padahal tidak menurut si empunya buku itu. Rencana pun ternyata berasal dari Tuhan. Lihatlah saya, sedari kecil dulu saya hanya ingin ke Saudi dan Jerman jika kelak diberi kesempatan ke luar negeri. Itulah dua rencana besar saya sejak kecil. Kenyataannya? Saya kini malah berada di sebuah negeri penjajah, negeri yang katanya menjajah Indonesia lebih pedih dibanding penjajah lain. Di sinilah saya. Jepang. Bukan sekali, keberadaan saya di sini, saat ini, adalah kali ketiga. Alamak apa pula ini. Well, lagi-lagi saya hanya bisa bersyukur. Saya kira pasti ada hikmah dibalik ini semua. Pasti. Itu yang selalu saya yakini sedari dulu atas apa yang saya jalani, itu semua telah direncanakan dan ditetapkan Tuhan.

Hidup di sebuah negeri, yang jelas-jelas berbeda dengan ibu pertiwi tentunya bukan perkara gampang, jika tak ingin disebut sulit. Jika dibawa susah, semuanya jelas-jelas susah, mulai dari makan, shalat, hingga perkara tetek bengek lainnya, seperti mandi atau hanya sekedar membuang hajat. Tapi tentunya tak elok jika menyalahkan keadaan, saya tak pernah diajarkan hidup seperti itu oleh emak dan bapak, juga nenek dan etek. So, hingga hari ini saya masih bisa bertahan di Tokyo, kota yang sempat menjadi kota termahal di dunia 2013 silam, walau hanya dengan beasiswa yang tak seberapa. Alhamdulillah. 🙂 Continue reading “Malu(ku) di Jepang”

Dilema Perut Buncit

Tulisan ini saya sampaikan bukan sebagai kampanye #SaveBuncit atau ingin membela hak orang-orang buncit yang sering terabaikan. Juga bukan bermaksud ingin membenarkan bahwa perut buncit lebih bagus dibanding perut rata atau perut kotak-kotak acap kali jadi kebanggan tersendiri bagi si empunya. Tidak sama sekali. Tulisan ini hanyalah sebuah opini dari saya, yang mencoba mengupas secara singkat berbagai fenomena-fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kenapa jadi serius begini? 🙂

Well, sebenarnya saya hanya kaget ketika saya mengenalkan calon legislatif pilihan saya *maaf* tidak kurus dan perutnya agak buncit (baca: besar V^^). Karena beliau berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), saya kira kemungkinan banyak yang tidak suka akan membahas mengenai asal partai caleg ini, tersebab pencitraan jelek yang dilakukan media benar-benar berhasil. Tapi toh untuk hal ini saya mempunyai jawaban, karena saya suka partai ini juga berawal dari ketidaksukaan, jawaban-jawaban yang saya punya itu yang akhirnya membuat saya suka dan percaya bahwa partai ini harus dipilih pada Pemilu 2014.  Continue reading “Dilema Perut Buncit”

Siapa Bilang ini Wasir?

Terpisah jauh dari keseharian aktivitas yang biasa kita lakukan tentunya akan membuat rindu yang tak terkira. Apalagi ketika itu terpaut jauh, beda suasana, beda negeri. Jalan satu-satunya pengobat hati ya bercerita dan berdiskusi. Tapi kadang kala kesibukan tak sama, sehingga jarang bersua dengan sesama. Itu semua tak masalah. Toh, masih ada laman ini. Laman yang selalu setia menemani. Hanya si empunya yang kadang terlalu malas untuk singgah.

Hari ini saya ingin berbagi cerita tentang sebuah nama penyakit. Namanya wasir atau ambeyen, yang dalam istilah kedokteran disebut hemorrhoid. Mengapa saya ingin bercerita tentang wasir? Ya, karena tak banyak mereka yang pernah mengalami sakit di organ intim mau bercerita. Karena memang menurut sebagian orang, adanya penyakit di organ intim menandakan orang itu tak bersih. Tak 100% benar. Tapi itu juga yang saya pikir sebelumnya, hingga saya mendapati sebuah penyakit, yang sama, saya kira ini wasir. Tak ada maksud saya ingin membanggakan aib ini, saya hanya berbagi pengalaman yang pernah saya alami, sehingga setidaknya ada sedikit tambahan referensi bagi mereka yang butuh, tentang apa yang disebut wasir. Siapa yang bilang? Continue reading “Siapa Bilang ini Wasir?”

Salju-Salju Kedua

Pagi ini ketika hendak memenuhi janji menghadiri acara upacara minum teh, saya teringat pesan teman Prancis tempo itu. “Bersepeda di jalanan bersalju lebih berisiko dibanding jalan.” Akhirnya saya urungkan niat menggunakan sepeda. Lalu saya pinjamkan raincoat kepada teman China yang nekat mengayuh sepeda ke lokasi acara. Saya memilih jalan sambil menggunakan payung transparan khas Jepang. Lokasinya tak jauh. Sekira 30 menit berjalan kaki untuk mencapai lokasi, di tambah dengan badai salju yang semakin lebat.

Tea Ceremony
Tea Ceremony

Sepanjang jalan saya berpapasan dengan anak-anak sekolah yang baru saja pulang. Juga melihat banyak anak-anak di depan rumah mereka. Berbagai aktivitas dilakukan. Saling lempar bola-bola salju. Bikin boneka salju, hingga hanya sekedar lari-lari di bawah guyuran salju. Semua mereka gembira. Riuh tawa begitu bergemuruh. Saya yang hanya sekelebat lewat pun ikut tertawa dibuatnya. Membayangkan saya menjadi mereka di kala kecil dulu, membayangkan semua aktivitas-akitivitas itu kelak kapan saya lakukan. Kini semua itu ada dihadapan. Saya akan melakukan aktivitas-aktivitas itu serupa saya melakukannya pada salju-salju pertama. Dengan tawa dan canda. Tapi tentu kini tawa dan canda itu tak kan lagi pernah sama. Sebab ada duka di dalamnya.

maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan..

Tokyo di tengah guyuran salju, 8 Rabi’ul Akhir 1435 H.

Tafakuri Alam Lewat Momiji

Cuaca pada pagi itu sangat cerah dibanding beberapa waktu yang lalu. Namun, rasa dingin cukup menusuk, walau sebenarnya musim dingin belum bermula. Di depan sebuah stasiun telah berkumpul kerumunan massa yang kelihatan “aneh” dibanding keramaian orang di stasiun tersebut. Mereka adalah masyarakat muslim Indonesia di Jepang yang kebanyakan mahasiswa. Menjelang pukul 10, orang-orang yang dianggap “aneh” itu semakin banyak jumlahnya. Sekitar 60 an orang telah terkumpul di Stasiun Takaosanguchi.

Dok: Pribadi
Dok: Pribadi

Continue reading “Tafakuri Alam Lewat Momiji”