Pengalaman Toilet Training Anak

Tak terasa saat ini usia putra saya, Harun, telah dua tahun. Begitu cepat waktu berlalu, padahal rasa-rasanya baru kemarin menggendong bayi yang lebih besar sedikit dari kotak tisu. Kini ia telah beranjak besar, sudah bisa menyangkal ketika dituduh kentut oleh ayahnya (baca: saya).

Nah, tak terbayang sebelumnya akan ada waktu Harun akan melepas popok. Sudah harus bisa dan terbiasa bilang “pipis” atau “eek” dan langsung menuju toilet, sebelum kata-kata itu diaplikasikan di sembarang tempat. Dalam pada itu dimasukkanlah rencana potty training atau toilet training (TT) Harun ini dalam anggaran pertengahan 2018, menimbang dan mengingat ayah tak lagi mendapatkan beasiswa mulai Oktober 2018. Ditambah juga sebentar lagi, insya Allah, akan ada anggota baru, jadi kalau diundur TT nya, takut akan kewalahan saya dan istri untuk men-TT kan Harun saat itu. Continue reading “Pengalaman Toilet Training Anak”

“Rumah Murah” di Jepang

Waktu tinggal saya di Jepang tidak lama lagi. Rasa-rasanya sangat sedikit sekali pengalaman hidup selama di sini sebagai orang perantauan yang bisa dibagi. Bagaimana tidak hampir 5 tahun hidup di Jepang, sisa-sisa umur dihabiskan di lab (sok rajin mode on).

Nah, dikarenakan semenjak menjelang lulus dengan gelar Doctoral of Philoshopy in Engineering (mak e panjangnya ni gelar), yang lulusnya karena terlalu banyak bersilofi, saya mulai lagi menulis. Semoga bermanfaat. Dan pun lagi kini tulisan-tulisan saya mulai sekarang bisa dinikmati di domain yang lebih jelas (dan tidak alay).

Mungkin sebelum menjelaskan tentang “rumah murah” yang benar-benar murah (catat: untuk di Jepang ya), saya jelaskan dulu tentang sistem sewa rumah di Jepang. Kalau tentang memiliki rumah sendiri, akan ditulis di lain waktu, karena masih sangat minim informasi tentang ini.

Salah satu sketsa kamar danchi

Continue reading ““Rumah Murah” di Jepang”

Mengurus Visa Schengen di Jepang

Pertengahan Mei 2018 yang lalu, saya, istri, dan Harun (anak saya usia 1 tahun 10 bulan) berkesempatan mengunjungi Eropa selama kurang lebih seminggu. Banyak kisah yang kami rasa layak untuk diceritakan, yang semoga, bisa membantu banyak orang ketika melakukan perjalanan serupa. Kali ini kisah yang saya bagi adalah tentang pengurusan Visa Schengen (VS) di Jepang. Mengapa di Jepang? Karena kebetulan kami saat ini tinggal di Jepang, maka pengurusan berdasarkan dimana kita tinggal saat mengurus VS tersebut. Saya rasa prosedur pengurusan VS akan sama di negara mana saja kita tinggal, selama kita memegang passpor Indonesia. *berharap suatu saat Indonesia mendapatkan free VS. Mohon aamiin kan, terlebih saat ini sedang Ramadhan :).

IMG_4576.JPG
Dalam perjelanan dari Frankfurt menuju Brussel

Continue reading “Mengurus Visa Schengen di Jepang”

Mimpi 20 tahun yang lalu  

Masih teringat masa-masa kecil dulu, yang dengan suka-sukanya bermimpi dan ingin menjadi apa pun, tanpa perlu memikirkan entah jadi atau tidak. Namanya juga anak-anak kan (yang setuju anggukkan kepala 😊). Cerita punya cerita saya punya mimpi bisa bersekolah di Jerman, atau setidaknya pergi ke sana, melihat kecanggihan teknologinya. Kenapa Jerman? Ya, karena adanya sosok Bapak Habibie yang selalu diceritakan berulang oleh keluarga saya, entah almh Emak, entah alm. Bapak, entah almh nenek atau entah dari banyak saudara lainnya. Terlebih semasa usia balita pernah merasakan naik Simpati airline dan Merpati Airline (yang mungkin kini tak lagi dikenal), nama Bapak Habibie selalu disebut-sebut. Jerman selalu disanding setelahnya. Sejak saat itulah mimpi itu terus terngiang di kepala sambil menanamkan dalam diri, semoga Allah mampukan saya ke sana.

IMG_6888.JPG
Ayah, Harun, Bunda di depan Parlemen Jerman

Continue reading “Mimpi 20 tahun yang lalu  “

Catatan perjalanan haji: Saatnya Berangkat ke Saudi (Bagian 4)

Pada tulisan sebelumnya saya telah mengurai tentang niat berhaji dari Jepang, tips  memilih travel agency, yang sangat penting dalam menjalankan ibadah haji nanti di tanah suci, serta persiapan apa saja yang harus kita lakukan. Nah, kali ini izinkan saya menulis catatan keberangkatan saya hingga tiba di Saudi.

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, walau saya mendaftar dan mengurus visa haji dari Jepang, saya berangkat tidak dari Jepang (baca di sini). Saya memilih berangkat ke Saudi dari Kuala Lumpur, Malaysia. Hal ini dikarenakan kampung halaman saya (Pekanbaru) lebih dekat ke Kuala Lumpur dibanding Jakarta.

Perjalanan saya menuju Saudi dijadwalkan 23 Agustus dini hari, yakni pukul 02.10 Waktu Kuala Lumpur (01.10 WIB) dengan menggunakan Etihad Airways. Saya sengaja memilih penerbangan AirAsia, yang satu-satunya, menuju Kuala Lumpur pukul 17.35 WIB pada 22 Agustus dengan AK438. Setidaknya ada jarak waktu yang cukup jauh untuk bersantai-santai terlebih dahulu menikmati makanan halal di KLIA2 ataupun KLIA, karena perjalanan ke Kuala Lumpur hanya membutuhkan waktu kurang lebih 50 menit. Dari Kuala Lumpur menuju Abu Dhabi dan direncanakan akan mendarat di Jeddah sekitar pukul 15.20 Waktu Jeddah setelah transit di Abu Dhabi sekitar 8 jam. Dalam hati agak tenang, karena rombongan Mian Travel yang berangkat dari Jepang akan tiba pukul 13 an Waktu Jeddah, sehingga nanti bisa kontak-kontakan setibanya di luar bandara Jeddah. Namun semua yang telah direncanakan tersebut penuh dengan kejutan dan perasaan dag dig dug. Maklum, pengalaman pertama dan jauh sebelumnya saya tidak pernah mendapat informasi seperti ini. Semoga catatan perjalanan saya ini bermanfaat bagi siapa saja yang akan melaksanakan ibadah haji, terutama rombongan dari Jepang. Aamiin. Continue reading “Catatan perjalanan haji: Saatnya Berangkat ke Saudi (Bagian 4)”

Catatan perjalanan haji: Persiapan diri dan hati (Bagian 3)

Setelah kita memilih travel agency, yang turut membantu terwujudnya niat kita melaksanakan ibadah haji, ada hal penting lain yang harus kita lakukan, yaitu mempersiapkan diri dan juga hati. Kenapa hati juga penting? Nanti akan saya liatkan contoh real bergunanya menjaga hati sejak dini pada tulisan selanjutnya.

Hal penting yang menjadi perhatian kita dalam mempersiapkan diri ini adalah dalam menghadapi situasi yang cukup ekstrem di Saudi. Hingga 2 tahun ke depan kemungkinan pelaksanaan musim haji berlangsung di musim panas. Bagi yang tidak terbiasa atau tidak suka dengan musim panas di Jepang, maka mulai biasakan lah dan suka lah. Karena panas nya di sana melebihi panasnya saat kita berada di wilayah Indonesia mana pun. Pernah suhu di Makkah mencapai 50 oC. Beneran? Bener. Selain itu juga perlu mempersiapkan diri untuk berbagai keperluan menghadapi situasi serba baru yang boleh dibilang deg deg ssuuurr, terutama bagi yang pertama kali berhaji. Semoga tulisan ini mampu menjadi informasi bagi siapa saja yang ingin berhaji untuk pertama kali. Continue reading “Catatan perjalanan haji: Persiapan diri dan hati (Bagian 3)”

Catatan perjalanan haji: Tips Memilih Travel Agency (Bagian 2)

Alhamdulillah masih diberi kesempatan menulis catatan perjalanan haji lanjutan. Insya Allah pada kesempatan kali ini saya akan mencoba membahas tentang tips memilih travel agency. Saya menyampaikan sesuai dengan pengalaman saya, yang saya rasa cukup penting agar perjalanan haji dari Jepang menjadi lebih nyaman dan menyenangkan 😊.

Setidaknya ada tiga travel agency untuk tahun ini yang sudah meluncurkan paket haji tahun 2018, Air1 Travel, Mian Travel, dan HIS Travel. Sebagai informasi, HIS Travel baru memulai mengurus jamaah haji pada tahun lalu. Sementara Air1 Travel dan Mian Travel sudah lama mengurus jamaah haji dan umrah dari Jepang, serta beberapa negara lain seperti Hongkong dan Korea Selatan. Berikut ini saya lampirkan brosur dari ketiga travel tersebut untuk keberangkatan tahun 2018. Continue reading “Catatan perjalanan haji: Tips Memilih Travel Agency (Bagian 2)”

Catatan perjalanan Haji: Dari Jepang ke Tanah Suci (Bagian 1)

Alhamdulillah akhirnya bisa juga menulis, setelah rutinitas 2.5 tahun belakangan ini disibukkan dengan agenda 8 pagi sampai 9 malam di luar rumah. Tulisan ini disempatkan dikerjakan ditulis di saat kepusingan cukup tinggi memikirkan mengerjakan artikel hasil riset selama dua tahun ini untuk segera dipublikasikan. Juga di tengah kesibukan memulai menulis disertasi. Pun juga jualan tiket pesawat serta voucher hotel yang Alhamdulillah Allah lancarkan, sampai-sampai waktu bermain dengan Harun (anak saya) dan bundanya berkurang :).

Well, izinkan saya bercerita tentang perjalanan haji saya dari Jepang. Awal mulanya tak terbesit keinganan untuk berhaji dari Jepang. Terlebih ketika mengetahui informasi tentang biaya Haji dari Jepang pada 2013 silam. Rasa-rasanya dengan kondisi keuangan yang ada, saya tak kan mampu untuk bisa menunaikan rukun Islam yang kelima itu dari Jepang. Nanti saja jika sudah kembali ke Indonesia, pikir saya saat itu. Namun, semua itu berubah ketika almarhum Apak (baca: Bapak) yang akan berangkat Haji pada 2014 yang lalu menitipkan pesan kepada keluarga sebelum tutup usia. “Kalau terjadi apa-apa dengan Apak sebelum berangkat, tolong suruh si Ind (saya) yang menggantikan.”  Dari sanalah azzam berhaji muncul begitu kuat. Cara cepat untuk memenuhi wasiat itu ya dengan berangkat dari Jepang. Tanpa antri. Bayar tahun itu, berangkat tahun itu juga. “Bersegeralah berbuat baik selagi masih ada kesempatan,”  pesan almarhumah Mamak (baca: Ibu) ketika masih hidup. Continue reading “Catatan perjalanan Haji: Dari Jepang ke Tanah Suci (Bagian 1)”

Lagi. Sejarah Itu Terulang

Di tengah malam di negeri asing ini, negeri yang sama seperti pada sore menjelang magrib 21 Januari 2013, saya (lagi) mendapatkan sebuah berita tentang kematian. Apak telah berpulang ke rahmatullah. 4 jam pertama setelah mendapatkan kabar kali pertama dari isteri yang masih di Indonesia, isi kepala saya berkutat tentang bagaimana saya bisa pulang dan sampai di rumah sebelum Zuhur, besok. Menelepon kesana kemari. “Kalau lewat ashar baru sampai di rumah besok, ga usah saja pulang,” pesan tegas abang kandung di seberang sana. Pesan yang sama seperti yang ia sampaikan ketika Amak berpulang.
Namun, kenyataan ini harus diterima. Saya tak bisa pulang semudah itu. Lagi. Saya harus menerima kenyataan, sejarah yang terulang. Saya masih ingat ketika sehari sebelum berangkat ke Jepang, di awal musim dingin 2013, Amak menelpon dan melepas kepergian saya, padahal sebelumnya kondisi beliau sempat drop dan dirawat hampir seminggu di rumah sakit. “Amak sehat In. Pailah ka Japang tu. Belajar yang rajin di sinan. Beko pas pulang Amak nio danga dari waang baa bantuak salju tu,” Itu yang Amak katakan sambil diakhiri dengan tawa kecilnya yang khas. Pada saat itu. Ya, saat itu. Saya merasa tenang. Begitu pula ketika akan berangkat dua hari yang lalu, ke negeri yang sama, di tengah kondisi Apak setengah sadar, banyak tetamu yang datang memberi dukungan, kisah tentang orang-orang yang tak sadarkan diri selama berbulan-bulan dan akhirnya sembuh pun diutarakan. Berbekal optimisme akan kesembuhan Apak yang membuncah, saya pun pergi dengan hati yang lapang.
Sayang. Ternyata itu hanya kalimat penenang yang efeknya tak bertahan lama. Ada rasa bersalah yang tak tertahan dalam hati ketika dalam kondisi ini saya tak bisa mengambil keputusan dari tangan sendiri. Ah sudahlah, saya tak mau menyalahkan kondisi. Walau begitu hingga saat ini saya masih mencoba menangkap makna tentang semua ini. Mungkinkah saya durhaka dengan orang tua sehingga saya tak dibiarkan melepas kepergian mereka, walau hanya dengan melihat tubuh yang telah dibalut kain kafan? Apakah mungkin pemberian maaf yang selalu saya minta setiap hari itu tak sepenuhnya mereka berikan, lantaran dosa-dosa saya kepada mereka terlampau banyak? Ah, entahlah. Kalau saja istri tidak menghentikan dugaan-dugaan saya akan makna yang sayang tangkap dari semua ini, mungkin saya akan terus menyalahkan diri yang hina ini, anak yang belum tahu cara membalas budi orang tua.
Nasi telah menjadi bubur. Apak kini telah tiada. Hanya kepada Allah saya berserah diri dan mohon ampunan ketika perlakuan yang saya berikan selama ini ternyata tak menyenangkan hati beliau. Walau begitu, saya tak berhenti menangkap hikmah dibalik semua rentetan peristiwa menjelang kematian Apak. Saya hanya bisa berdoa semoga dugaan-dugaan sebelumnya hanya sebatas prasangka saja, karena saya selalu ingin menjadi anak yang shaleh, anak yang bisa memberikan syafaat bagi orang tuanya. Aamiin allahumma aamiin.
Kepada Bapak/Ibu/Saudara dan kerabat yang hadir nanti (Selasa) dan ikut menyelenggarakan jenazah, saya mohon maaf karena kita tak dapat bersua. Saya juga mohon maaf jika selama hidupnya Apak pernah menyakiti baik dari ucapan, perbuatan, atau hanya sekadar sindirin. Mohon juga doa dari semua untuk Apak yang telah terlebih dahulu pulang ke rahmatullah.
Apak. Selamat jalan. Anakmu kini (kembali) belajar ikhlas. Semoga dosa-dosa saya (serta abang dan kakak) selama ini telah engkau maafkan dan saya (serta abang dan kakak) bukanlah termasuk anak-anak durhaka. Semoga Apak diringankan azab kubur. Aamiin ya rabbal’alamiin.

IMG_2036

Tokyo menjelang Adzan subuh, 23 Syawal 1435 H.

Cinta di Sakura (Bab 2)

Cuaca Jogja yang sudah diguyur hujan sejak subuh tadi tampaknya dianggap tak bersahabat bagi sebagian penjaja dagangan di sepanjang jalanan Malioboro. Lihat saja remaja tanggung bercelana 3/4 di depan Pasar Bringharjo itu, hingga jam telah menunjukkan pukul 11 siang, dagangan nasi pecelnya belum sepiring pun terjual. Biasanya dengan kepiawaiannya berdagang dan jago bermanuver, menjelang makan siang biasanya dagangannya sudah habis. Tapi memang nasi pecelnya berbeda dari yang lain, terlihat lebih higienis dan lezat. Dia yang menjual pun bermuka ramah dan jago berbahasa asing. Tak pelak, sejak tiga tahun ini lapaknya sering didatangi para wisatawan asing. Tapi tidak untuk saat ini dan beberapa kali ketika hujan datang, remaja itu memasang tampang masam, siapa saja yang melihat pasti tidak akan mau mendekat. Bisa-bisa kamu jadi pelampiasan ledakan emosinya.

“Sudahlah Nak, tak usah terlalu dipikirkan. Gusti Allah pasti sudah mengatur riski kita,” tiba-tiba seorang nenek tua yang juga menjaja nasi pecel di sebelah kiri lapaknya menasehati. Memang begitulah adanya, walau dagangan si remaja ini paling laris dan diminati oleh pengunjung Malioboro, tak ada rasa iri dari mereka sesama penjual nasi pecel, karena memang rerata penjual nasi pecel adalah ibu-ibu atau nenek-nenek tua yang memang telah memasrahkan diri untuk menjadi apa adanya sebagai seorang penjual nasi pecel. Lagian mereka juga tau bagaimana perjuangan si remaja itu yang kini masuk tahun ketiga bersekolah di salah satu SMA negeri di Jogja. Hidup si remaja tak jauh lebih baik dari mereka. Continue reading “Cinta di Sakura (Bab 2)”