Cinta di Sakura (Bab 2)

Cuaca Jogja yang sudah diguyur hujan sejak subuh tadi tampaknya dianggap tak bersahabat bagi sebagian penjaja dagangan di sepanjang jalanan Malioboro. Lihat saja remaja tanggung bercelana 3/4 di depan Pasar Bringharjo itu, hingga jam telah menunjukkan pukul 11 siang, dagangan nasi pecelnya belum sepiring pun terjual. Biasanya dengan kepiawaiannya berdagang dan jago bermanuver, menjelang makan siang biasanya dagangannya sudah habis. Tapi memang nasi pecelnya berbeda dari yang lain, terlihat lebih higienis dan lezat. Dia yang menjual pun bermuka ramah dan jago berbahasa asing. Tak pelak, sejak tiga tahun ini lapaknya sering didatangi para wisatawan asing. Tapi tidak untuk saat ini dan beberapa kali ketika hujan datang, remaja itu memasang tampang masam, siapa saja yang melihat pasti tidak akan mau mendekat. Bisa-bisa kamu jadi pelampiasan ledakan emosinya.

“Sudahlah Nak, tak usah terlalu dipikirkan. Gusti Allah pasti sudah mengatur riski kita,” tiba-tiba seorang nenek tua yang juga menjaja nasi pecel di sebelah kiri lapaknya menasehati. Memang begitulah adanya, walau dagangan si remaja ini paling laris dan diminati oleh pengunjung Malioboro, tak ada rasa iri dari mereka sesama penjual nasi pecel, karena memang rerata penjual nasi pecel adalah ibu-ibu atau nenek-nenek tua yang memang telah memasrahkan diri untuk menjadi apa adanya sebagai seorang penjual nasi pecel. Lagian mereka juga tau bagaimana perjuangan si remaja itu yang kini masuk tahun ketiga bersekolah di salah satu SMA negeri di Jogja. Hidup si remaja tak jauh lebih baik dari mereka. Continue reading “Cinta di Sakura (Bab 2)”

Kita Memang Berbeda

Melihat kawan-kawan yang semakin giat menulis, membuat saya turut dan ikut ketularan untuk memberikan waktu luang untuk satu kegiatan yang boleh dikatakan gampang dibuat susah. Kok gitu? Apa sih susahnya menulis? Tinggal ambil bullpen, atau buka laptop, nulis dah. Sulit dapetin ide? Banyak baca dan cari pengalaman, ga mesti jauh-jauh, saya yang berada di kamar 4 m x 4 m aja bisa dapetin puluhan ide, apalagi kalau tak tersekat batas dan waktu. Apalagi alasannya sampai bilang nulis itu susah? Nah, itu lah yang mengakibatkan kenapa menulis itu seringkali gampang dibuat susah. Ada saja alasan untuk menunda-nunda menulis. Setidaknya saya mencoba untuk tidak menjadikan alasan capek karena harus eksperimen, belajar di kelas, serta bersepeda 1 jam-an setiap hari, sehingga malas menulis. Juga tidak ingin menjadikan alasan untuk tidak menulis karena kurangnya waktu mendapatkan “ide” selama berada di toilet. Sesuai anjuran dokter, kini keberadaan saya di toilet harus dikurangi. Padahal ide-ide tulisan selama ini bermunculan selama berada di toilet. Ya, saat ini saya sedang mencoba untuk memaksa terus menulis. Setidaknya sebulan ini “paksaan”  itu membuahkan sedikit hasil. Walau kadang tak semua saya posting di rumah kecil ini.

5403902488_d24d4c95e7_z Continue reading “Kita Memang Berbeda”

Cinta di Sakura (Bab 1)

Arak-arakan awan hitam itu muncul lagi. Sesekali disusul dengan angin kencang dari arah laut. “Ah, hujan bakal turun,” pikirku. Langkah pun kupercepat. Sesekali penduduk lokal berlalu lebih cepat, terutama yang tidak membawa payung.  Sore itu aku pulang menuju dorm menyusuri jalan khusus pejalan kaki di tepi pelabuhan kota kecil di semenanjung barat Jepang.

Hujan rintik-rintik akhirnya mulai membasahi kota pelabuhan ini. Ini adalah kali ke enam hujan datang di awal musim dingin. Aku terus berjalan, sesekali berlari dengan tangan tetap berada di saku jaket tebal yang kukenakan. Aku lupa membawa payung. Aku tak sempat melihat prakiraan cuaca, lagian ini bukanlah perkara penting bagiku. Nanti kamu akan mengerti kenapa aku tak terlalu peduli dengan hal remeh temeh ini.

Hujan semakin deras. Tampaknya hujan kali ini lebih deras dari hujan-hujan sebelumnya. Pakaian yang kugunakan telah basah kuyup, sementara aku harus berjalan sekira 15 menit lagi menuju dorm. “Kenapa hujan datang pada musim ini,” rutukku. Hujan yang identik dengan dingin ditambah dengan suhu di musim dingin bukanlah paduan yang romantis ketika masih berada di luar seperti aku saat ini. Rasa dingin itu benar-benar telah menusuk-nusuk sekujur tubuhku, “Aku harus berteduh.” Akhirnya aku putuskan untuk berteduh di depan sebuah kombini (convenient store). Continue reading “Cinta di Sakura (Bab 1)”

Malu(ku) di Jepang

Kurun waktu enam bulan telah saya lalui hidup di sebuah negara yang tak saya sangka-sangka. Benar agaknya kata sebuah buku, kita mengira selama ini yang menentukan rencana adalah diri kita sendiri, keputusan di tangan Tuhan, padahal tidak menurut si empunya buku itu. Rencana pun ternyata berasal dari Tuhan. Lihatlah saya, sedari kecil dulu saya hanya ingin ke Saudi dan Jerman jika kelak diberi kesempatan ke luar negeri. Itulah dua rencana besar saya sejak kecil. Kenyataannya? Saya kini malah berada di sebuah negeri penjajah, negeri yang katanya menjajah Indonesia lebih pedih dibanding penjajah lain. Di sinilah saya. Jepang. Bukan sekali, keberadaan saya di sini, saat ini, adalah kali ketiga. Alamak apa pula ini. Well, lagi-lagi saya hanya bisa bersyukur. Saya kira pasti ada hikmah dibalik ini semua. Pasti. Itu yang selalu saya yakini sedari dulu atas apa yang saya jalani, itu semua telah direncanakan dan ditetapkan Tuhan.

Hidup di sebuah negeri, yang jelas-jelas berbeda dengan ibu pertiwi tentunya bukan perkara gampang, jika tak ingin disebut sulit. Jika dibawa susah, semuanya jelas-jelas susah, mulai dari makan, shalat, hingga perkara tetek bengek lainnya, seperti mandi atau hanya sekedar membuang hajat. Tapi tentunya tak elok jika menyalahkan keadaan, saya tak pernah diajarkan hidup seperti itu oleh emak dan bapak, juga nenek dan etek. So, hingga hari ini saya masih bisa bertahan di Tokyo, kota yang sempat menjadi kota termahal di dunia 2013 silam, walau hanya dengan beasiswa yang tak seberapa. Alhamdulillah. 🙂 Continue reading “Malu(ku) di Jepang”

Dilema Perut Buncit

Tulisan ini saya sampaikan bukan sebagai kampanye #SaveBuncit atau ingin membela hak orang-orang buncit yang sering terabaikan. Juga bukan bermaksud ingin membenarkan bahwa perut buncit lebih bagus dibanding perut rata atau perut kotak-kotak acap kali jadi kebanggan tersendiri bagi si empunya. Tidak sama sekali. Tulisan ini hanyalah sebuah opini dari saya, yang mencoba mengupas secara singkat berbagai fenomena-fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kenapa jadi serius begini? 🙂

Well, sebenarnya saya hanya kaget ketika saya mengenalkan calon legislatif pilihan saya *maaf* tidak kurus dan perutnya agak buncit (baca: besar V^^). Karena beliau berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), saya kira kemungkinan banyak yang tidak suka akan membahas mengenai asal partai caleg ini, tersebab pencitraan jelek yang dilakukan media benar-benar berhasil. Tapi toh untuk hal ini saya mempunyai jawaban, karena saya suka partai ini juga berawal dari ketidaksukaan, jawaban-jawaban yang saya punya itu yang akhirnya membuat saya suka dan percaya bahwa partai ini harus dipilih pada Pemilu 2014.  Continue reading “Dilema Perut Buncit”

Siapa Bilang ini Wasir?

Terpisah jauh dari keseharian aktivitas yang biasa kita lakukan tentunya akan membuat rindu yang tak terkira. Apalagi ketika itu terpaut jauh, beda suasana, beda negeri. Jalan satu-satunya pengobat hati ya bercerita dan berdiskusi. Tapi kadang kala kesibukan tak sama, sehingga jarang bersua dengan sesama. Itu semua tak masalah. Toh, masih ada laman ini. Laman yang selalu setia menemani. Hanya si empunya yang kadang terlalu malas untuk singgah.

Hari ini saya ingin berbagi cerita tentang sebuah nama penyakit. Namanya wasir atau ambeyen, yang dalam istilah kedokteran disebut hemorrhoid. Mengapa saya ingin bercerita tentang wasir? Ya, karena tak banyak mereka yang pernah mengalami sakit di organ intim mau bercerita. Karena memang menurut sebagian orang, adanya penyakit di organ intim menandakan orang itu tak bersih. Tak 100% benar. Tapi itu juga yang saya pikir sebelumnya, hingga saya mendapati sebuah penyakit, yang sama, saya kira ini wasir. Tak ada maksud saya ingin membanggakan aib ini, saya hanya berbagi pengalaman yang pernah saya alami, sehingga setidaknya ada sedikit tambahan referensi bagi mereka yang butuh, tentang apa yang disebut wasir. Siapa yang bilang? Continue reading “Siapa Bilang ini Wasir?”

Salju-Salju Kedua

Pagi ini ketika hendak memenuhi janji menghadiri acara upacara minum teh, saya teringat pesan teman Prancis tempo itu. “Bersepeda di jalanan bersalju lebih berisiko dibanding jalan.” Akhirnya saya urungkan niat menggunakan sepeda. Lalu saya pinjamkan raincoat kepada teman China yang nekat mengayuh sepeda ke lokasi acara. Saya memilih jalan sambil menggunakan payung transparan khas Jepang. Lokasinya tak jauh. Sekira 30 menit berjalan kaki untuk mencapai lokasi, di tambah dengan badai salju yang semakin lebat.

Tea Ceremony
Tea Ceremony

Sepanjang jalan saya berpapasan dengan anak-anak sekolah yang baru saja pulang. Juga melihat banyak anak-anak di depan rumah mereka. Berbagai aktivitas dilakukan. Saling lempar bola-bola salju. Bikin boneka salju, hingga hanya sekedar lari-lari di bawah guyuran salju. Semua mereka gembira. Riuh tawa begitu bergemuruh. Saya yang hanya sekelebat lewat pun ikut tertawa dibuatnya. Membayangkan saya menjadi mereka di kala kecil dulu, membayangkan semua aktivitas-akitivitas itu kelak kapan saya lakukan. Kini semua itu ada dihadapan. Saya akan melakukan aktivitas-aktivitas itu serupa saya melakukannya pada salju-salju pertama. Dengan tawa dan canda. Tapi tentu kini tawa dan canda itu tak kan lagi pernah sama. Sebab ada duka di dalamnya.

maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan..

Tokyo di tengah guyuran salju, 8 Rabi’ul Akhir 1435 H.

Menangisi Negeri

Untuk kali kesekian saya hampir melupakan laman ini. Kadang saya berpikir apa mungkin saya sudah malas berbagi lewat tulisan? Tapi sepertinya tidak juga. Atau mungkin karena berbagi pesan lewat facebook dan twitter lebih mudah? Hmm. Mungkin. Bisa jadi. Tersebab kisah yang coba saya bagikan tampaknya cenderung “lebih mudah” untuk dishare lewat media sosial ketimbang harus bercapek-capek menulis panjang, yang mungkin, tak banyak orang yang suka membaca panjang (atau mungkin saya mulai tak suka menulis panjang :)).

Yep. Apapun penyebabnya, setidaknya saya tak melupakan laman ini. Laman yang sengaja dibuatkan untuk saya agar bisa berbagi kisah. Kisah yang semoga menjadi pelajaran buat diri saya supaya menjadi lebih baik dan syukur-syukur ada manfaat buat orang lain. Tak ada rasa bahagia di diri, ketika tahu bahwa apa yang saya lakukan tak memberi manfaat kepada orang lain. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain? Continue reading “Menangisi Negeri”

Tafakuri Alam Lewat Momiji

Cuaca pada pagi itu sangat cerah dibanding beberapa waktu yang lalu. Namun, rasa dingin cukup menusuk, walau sebenarnya musim dingin belum bermula. Di depan sebuah stasiun telah berkumpul kerumunan massa yang kelihatan “aneh” dibanding keramaian orang di stasiun tersebut. Mereka adalah masyarakat muslim Indonesia di Jepang yang kebanyakan mahasiswa. Menjelang pukul 10, orang-orang yang dianggap “aneh” itu semakin banyak jumlahnya. Sekitar 60 an orang telah terkumpul di Stasiun Takaosanguchi.

Dok: Pribadi
Dok: Pribadi

Continue reading “Tafakuri Alam Lewat Momiji”

Celana 2000 Yen

Sebagian kawan mungkin bertanya, apa lagi ini? Hmm, entahlah. Mungkin saya rindu dengan bangsa tercinta. Saya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk belajar, yang mungkin hanya untuk kepentingan pribadi, sehingga terlalu lama bisa belajar mencintai negeri. Tapi setidaknya saya selalu mencari cara untuk mencintai bangsa, walau hal itu sangat sulit dilakukan. Mengapa?

Kawan lihatlah bangsa kita kini. Apa yang kawan lihat? Apa yang kawan rasakan? Samakah dengan yang saya lihat? Samakah dengan yang saya rasakan? Atau sama sekali tak terlihat? Atau sama sekali tak terasa apa pun? Kalau dua terakhir ini yang kawan alami, hmm, saya benar-benar tak mengerti mengapa bisa terjadi. Tapi di hati kecil saya bertanya, “mungkinkah ibu pertiwi telah gagal mendidik putra-putri penerus?”

Sumber: Internet
Sumber: Internet

Continue reading “Celana 2000 Yen”