Meninggalkan Indonesia (Part 1 di Manila dan Taipei)

Hari-hari berlalu begitu saja. Tanpa terasa hari ini adalah hari kesekian dari awal saya berangkat meninggalkan Indonesia. Yup, tidak tanggung-tanggung saya mengatakan itu, meninggalkan Indonesia. Bagi saya kata-kata meninggalkan Indonesia begitu menggelitik telinga ini.
Hmm, meninggalkan Indonesia. Kata-kata itu selalu mengusik hati saya beberapa hari menjelang keberangkatan saya meninggalkan Indonesia. Ah, agaknya saya terlalu berlebihan kawan, pergi meninggalkan Indonesia. Tapi sudahlah, saya katakan saja, bahwa saya akan ke Taiwan kawan. Bukan Taipei, tapi Taichung, sebuah kota kecil, yang saya rasa kecilnya kota itu tak sekecil pikiran-pikiran orang-orang yang “katanya” berada di kota besar. Saya harap kawan mengerti.
Saya sempat berkelahi mulut dengan para cukong paspor di kantor imigrasi beberapa waktu sebelum saya berangkat. Saya yang datang dari pukul 7 pagi mendapatkan paspor lebih lama ketimbang mereka yang datang pukul 10 yang tentunya punya uang lebih banyak. Saya juga harus beradu argument dengan petugas TETO (Trade and Economic of Taiwan Office) dikarenakan keterlambatan saya yang kurang dari 5 menit dari jadwal tutup kantor itu. Tapi tak apalah, semua saya hadapi dengan mencoba bersabar. Walau lebih lama menerima paspor, toh saya juga menerinya dengan biaya cukup murah dengan harus rela dibuat lama. Alhamdulillah saya juga diberi seorang teman yang luar biasa dalam membantu mengurus Visa saya di Jakarta. Ikmal namanya. Jazakallah akh. Setidaknya, saya bisa kembali fokus pada “meninggalkan Indonesia.”

Continue reading “Meninggalkan Indonesia (Part 1 di Manila dan Taipei)”